penomena alam dan potoka

penomena alam dan potoka

Selasa, 28 Februari 2012

METODE DAKWAH DALAM MENGATASI
PROBLEMATIKA REMAJA
TESIS
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat MencapaiGelar
Magister Komunikasi Islam (M.Sos.I)
Pada Program Pascasarjana
UIN Alauddin Makassar
Oleh :
AKHMAD SUKARDI, S. A g
NIM: P0100203012
PROMOTOR
PROF. DR. H. AHMAD M. SEWANG, MA
PROF. DR. H. M. SATTU ALANG, MA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSTAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
MAKASSAR
2005
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .................................................................... . i
HALAMAN PENGESAHAN TESIS .......................................... . ii
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN TESIS ..................... . iii
KATA PENGANTAR .................................................................. . iv
DAFTAR ISI ................................................................................ . viii
TRANSLITERASI ....................................................................... . x
ABSTRAK .................................................................................... . xiii
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah ........................................... 1
B. Rumusan Masalah ..................................................... 10
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian .............................. 11
D. Pengertian Judul ........................................................ 11
E. Tinjauan Pustaka ....................................................... 15
F. Metode Penelitian ..................................................... 23
G. Sistematika Pembahasan ........................................... 27
BAB II Ruang Lingkup Dakwah
A. Dasar Hukum Dakwah .............................................. 29
B. Tujuan Dakwah ......................................................... 35
C. Subyek Dakwah (Dai)............................................... 43
D. Obyek Dakwah (Mad'u) ........................................... 61
E. Materi Dakwah ........................................................ 67
F. Metode Dakwah ....................................................... 73
G. Media Dakwah .......................................................... 80
H. Implikasi Dakwah (Efek Dakwah) .......................... 89
I. Dana Dakwah ........................................................... 97
BAB III Problematika Remaja
A. Pengertian Remaja dan Batasannya ......................... 103
B. Problematika Remaja ............................................... 109
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkah Laku
Remaja ...................................................................... 128
BAB IV Dakwah dalam Kehidupan Remaja
A. Kondisi Kehidupan Remaja .................................... 134
B. Materi Dakwah ......................................................... 144
C. Metode Dakwah dalam Mengatasi Problematika
Remaja ..................................................................... 150
BAB V Penutup
A. Kesimpulan ............................................................... 182
B. Saran-Saran ............................................................... 184
ABSTRAK
Nama Penyusun : Akhmad Sukardi
NIM : P0100203012
Judul Tesis : Metode Dakwah dalam Mengatasi Problematika
Remaja
Metode dakwah dalam mengatasi problematika remaja adalah sebuah
pemikiran konseptual sebagai upaya solusi terhadap berbagai problematika
remaja. Terkait dengan itu, berbagai variabel yang mengitari kehidupan remaja
menjadi dinamika tersendiri yang cukup unik dan menarik untuk dibahas.
Remaja dengan masalah-masalah yang melingkupinya perlu mendapat
perhatian yang serius dari siapa saja, sebab remaja merupakan bagian dari
tahapan masa kehidupan yang khas. Tahapan ini pula yang menjadikan remaja
menempati posisi yang cenderung dilematis dan labil dalam menyikapi setiap
persoalan kehidupan yang dihadapinya.
Oleh karena itu maka peran dakwah bagi remaja sangat signifikan untuk
mengatasi berbagai permasalahan remaja yang hadir dari pengaruh internal
remaja itu sendiri maupun yang muncul karena pengaruh eksternal. Situasi
sosiologis dan psikologis yang melingkupi remaja telah memberikan polemik
tersendiri yang sekaligus membentuk identitas bagi remaja. Terlebih lagi jika
disadari bahwasanya “status” remaja akan ikut menentukan perjalanan bangsa
dan negara ke depan, serta tetap diharapkan menjadi pioneer-pioneer dan
mujahid-mujahid dakwah yang akan mengiringi kejayaan Islam sebagai
rahmat li al-alamin. Hal ini menunjukkan bahwa perlunya dilakukan penelitian
tentang bagaimana gambaran tentang kondisi kehidupan remaja ? Problematika
apa saja yang dihadapi oleh remaja ? Bagaimana metode dakwah dalam
menghadapi problematika remaja ?
Penelitian ini pembahasannya bersifat kualitatif berupaya
mengumpulkan data akurat yang masih berserakan diberbagai sumber
kepustakaan dengan melakukan pendekatan teori, baik teori-teori dakwah,
maupun teori psikologi, Dengan kedua pendekatan tersebut berupaya
mengungkap jawaban atas persoalan bagaimana metode dakwah dalam
mengatasi problematika remaja.
Setelah melakukan penelitian maka temuan terpenting dari kajian ini
dirumuskan sebagai berikut : metode dakwah dalam mengatasi problematika
remaja dimulai dari materinya harus sesuai dengan kebutuhan remaja mudah
dipahami dan harus merupakan problem solving terhadap kesulitan yang
dihadapi oleh remaja, kemudian metodenya harus disesuaikan
dengan kondisi remaja. Metode yang dimaksudkan adalah ceramah, tanya
jawab, diskusi, keteladanan, dan home visit. Di samping itu harus ditunjang
dengan upaya-upaya lain yaitu perlunya kerjasama dengan pihak penguasa
(pemerintah) dengan lembaga-lembaga dakwah. Selain itu dalam rangka
membantu tugas-tugas pelaksanaan dakwah dewasa ini, terutama bagi
lembaga-lembaga dakwah, perlu adanya peta dakwah.
Dengan demikian hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi
kerangka landasan terutama bagi praktisi dakwah.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara disebutkan bahwa
hakekat pembangunan Nasional adalah pembangunan manusia
Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia.
Dalam pola manusia seutuhnya berarti dalam pelaksanaan
pembangunan fisik hendaknya tidak terlepas dari jalur yang mengarah
kepada ketinggian martabat manusia. Manusia seutuhnya berarti pula
manusia yang mencerminkan keselarasan hubungannya dengan Allah
Swt, dan lingkungannnya. Manusia seutuhnya adalah manusia yang
bermutu tinggi baik lahiriah maupun batiniah.1
Untuk mewujudkan manusia yang bermutu tinggi tersebut
diperlukan berbagai upaya, antara lain melalui dakwah Islamiah.
Namun dengan perkembangan masyarakat yang semakin dinamis
dewasa ini dan beragamnya watak dan corak sasaran dakwah, maka
pelaksanaan dakwah dihadapkan kepada persoalan yang semakin
1 Republik Indonesia, Garis-garis Besar Haluan Negara, Tahun 1989, h. 3.
1
2
kompleks. Untuk itu diperlukan sarana dakwah baik memuat materi dan
metode maupun media informasi yang dapat mendukung kelancaran
pelaksanaan dakwah.
Masalah dakwah dalam Islam sama umurnya dengan Islam
sebagai agama Allah Swt, agama Islam yang dibawa oleh Nabi
Muhammad Saw, pada dasarnya disebarluaskan dengan jalan dakwah.
Dakwah ini dijalankan Nabi dengan cara lemah lembut. Memang
melalui dakwah orang-orang Arab Jahiliah diharapkan secara sukarela
menjadi seorang muslim. Menjadi seorang muslim hendaknya
didasarkan kepada penerimaan dan kesadaran, bukan dengan paksaan
atau tekanan.2
Dalam melaksanakan dakwah, haruslah dipertimbangkan secara
sungguh-sungguh tingkat dan kondisi cara berpikir mad’u (penerima
dakwah) yang tercermin dalam tingkat peradabannya termasuk sistem
budaya dan struktur sosial masyarakat yang akan atau sedang
2 Lihat, Jalaluddin Rahman, "Dakwah dan Tantangannya dalam Kemajuan Sains dan
Teknologi pada Masa Kini dan Esok”. Makalah. Disampaikan pada Seminar Sehari oleh HMJ PPAI
Fakultas Dakwah IAIN Alauddin tanggal 24 November 1994.
3
dihadapi.3 Secara evolusi, obyek dakwah mengalami perkembangan ke
arah yang lebih tinggi sesuai dengan tingkat kemajuan dan intelektual.
Bahkan seharusnya seirama dengan tingkat perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.4
Pengembangan dakwah dimaksudkan agar ajaran Islam secara
keseluruhan meresapi kehidupan manusia sehingga mampu
memecahkan segala masalah kehidupannya, pemenuhan kebutuhannya
yang sesuai dengan ridha Allah swt. Dengan demikian, dakwah
dipandang sebagai proses pendidikan individu dan masyarakat
sekaligus proses pembangunan itu sendiri.5
Dakwah dipandang sebagai proses pendidikan yang baik dan
benar-benar harus mengacu pada nilai-nilai Islam yang diterapkan
sedini mungkin kepada anak-anak. Apabila proses tersebut dapat
berjalan dengan baik, kita akan melihat munculnya generasi muda yang
memiliki komitmen yang kuat. Mereka adalah para pemuda yang selalu
3 A. Wahab Suneth, et. al. Problematika Dakwah dalam Era Indonesia Baru (Cet. I;
Jakarta: Bina Rena Pariwara, 2000), h. 11.
4 Jalaluddin Rahman, loc. cit.
5 M. Arfah Shiddiq, “Pembangunan Dakwah dalam Perspektif Peningkatan Kualitas
Sumber Daya Manusia”. Makalah, 1996.
4
siap mengemban misi kemanusiaan kepada masyarakat yang ada di
lingkungannya dan siaga dalam memenuhi panggilan yang diserukan
oleh negara.6
Akan tetapi, hal itu tidak mudah untuk diwujudkan. Sebab,
banyak faktor eksternal yang mempengaruhi para remaja dan
memperlemah pembentukan kepribadian mereka, di samping beberapa
faktor internal dari dalam diri mereka sendiri yang sangat berpengaruh
bagi mereka. Di antara faktor yang mempengaruhi remaja adalah sikap
meremehkan dan melalaikan proses pendidikan.7
Semakin banyak faktor yang mempengaruhi remaja dalam
membentuk kepribadiannya, semakin banyak pula penyimpangan yang
akan ditimbulkan.8 Khususnya di Indonesia, remaja saat ini tampaknya
sudah mengalami krisis moral akibat dari arus yang tidak terbendung
datangnya dari dunia Barat.9 Penyimpangan-penyimpangan ini sangat
6 Muhammad al-Zuhaili, Menciptakan Remaja Damban Allah; Panduan bagi Orang tua
Muslim (Cet. I; Bandung: al-Bayan, 2004), h. 146.
7 Ibid.
8 Ibid., h. 147.
9 M. Sattu Alang, Kesehatan Mental dan Terapi Islam (Cet. I; Ujung Pandang: PPIM,
2001), h. 74-75.
5
berbahaya dan rentan menimpa para remaja karena mereka sedang
mengalami masa transisi menuju kedewasaan. Apabila hal ini tidak
ditangani secara serius, penyimpangan-penyimpangan tersebut dapat
menjadi momok yang menakutkan, bahkan bisa berujung pada
pembangkangan.10
Untuk menyelamatkan generasi yang akan datang, remaja harus
dibina untuk mempersiapkan lahirnya generasi manusia yang mampu
menghadapi kehidupan masa depan. Hal ini sangat relevan dengan
sabda Nabi Muhammad saw sebagaimana yang dikutip oleh Abd.
Rahman Getteng dalam salah satu hadis yang artinya: “Didiklah anakanakmu,
karena sesungguhnya mereka akan dipersiapkan hidup pada
masa depan (kondisi) yang berbeda dengan masa kamu” 11
Bermacam-macam harapan yang muncul di tengah masyarakat
yang menempatkan masa remaja sebagai generasi penerus bangsa.
Harapan tersebut wajar karena peralihan generasi dalam perjalanan
10 Muhammad al-Zuhaili, loc. cit.
11 Lihat, Abd. Rahman Getteng, “Tantangan Pendidikan Islam dalam Menghadapi Era
Teknologi dan Globalisasi”. Jurnal Pendidikan Lentera (Ed. I; Ujung Pandang: Fakultas Tarbiyah
IAIN Alauddin Ujung Pandang, 1998), h. 11.
6
hidup umat manusia merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat
dihindarkan. Oleh karena itu, remaja menjadi tumpuan harapan semua
pihak untuk menata masa depan yang lebih baik.
Mantan presiden Republik Indonesia, Soeharto mengungkapkan
dalam suatu kesempatan bahwa kita semua menyadari masa depan
adalah milik generasi muda, namun kita juga menyadari bahwa masa
depan tidaklah berdiri sendiri, tetapi merupakan lanjutan dari masa kini.
Masa kini adalah hasil dari masa lalu. Oleh karena itu, keikutsertaan
generasi muda dalam memikirkan dan menjawab tantangan-tantangan
yang dihadapi bangsa kita jangan ditunggu sampai besok. Generasi
muda adalah andalan dan harapan bangsa kita.12.
Harapan-harapan tersebut menjadi suatu keprihatinan yang
mendalam ketika menyaksikan situasi akhir-akhir ini dimana kenakalan
remaja muncul di permukaan dengan sosok yang lebih variatif dan
kadar intensitasnya pun semakin meningkat sebagai imbas dari
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
12 Lihat, Menteri Pemuda dan Olah Raga, Harapan Pak Harto Kepada Generasi Muda
Indonesia (Jakarta, 1992), h. 211.
7
Dewasa ini, masalah dekadensi moral atau kebobrokan akhlak
yang melanda sebagian remaja yang sangat meresahkan berbagai
kalangan, masalah ekonomi pun (kesulitan hidup) dari hari ke hari
cukup menyengsarakan dan mengancam ketentraman hidup berumah
tangga. Kedua masalah ini saling berkaitan, sebab dengan kebejatan
moral terjadi penghamburan harta atau pengeluaran yang tidak
bermanfaat. Sebaliknya, kesulitan ekonomi akan menyebabkan
pengangguran yang terkadang mengakibatkan terjadinya pelanggaran
norma-norma yang dianut dalam suatu masyarakat.
Tugas dan tanggung jawab dalam pembinaan remaja, baik secara
mikro adalah amanah Allah kepada kedua orang tua dalam rumah
tangga. Namun secara makro hal tersebut merupakan tanggung jawab
bersama antara orang tua di rumah, guru-guru di sekolah, serta tokoh
agama dan tokoh masyarakat dalam lingkungan yang lebih luas.
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang
informasi dan transformasi telah memudahkan para remaja meniru
berbagai gaya hidup yang bertentangan dengan nilai-nilai budaya
bangsa. Di bidang transportasi telah memudahkan para remaja untuk
8
mendapatkan narkotika dan berbagai obat terlarang.13 Serta berbagai
penyimpangan lainnya yang telah melibatkan remaja.
Para orang tua, para guru, dan seluruh masyarakat sudah sangat
khawatir dengan keterlibatan remaja pada perilaku-perilaku yang
bertentangan dengan tradisi masyarakat, norma hukum dan norma
agama. Perilaku-perilaku tersebut seperti: perampokan, tindak
kekerasan, pemerkosaan, deviasi perilaku sosial, lari dari rumah, minum
minuman keras, tawuran antar pelajar,dan perilaku destruktif lainnya.14
Perilaku destruktif yang dilakukan para remaja disebut kenakalan
remaja. Kenakalan remaja berarti suatu penyimpangan yang
ditunjukkan oleh remaja sehingga mengganggu diri sendiri dan orang
lain. Kenakalan remaja sudah menjadi problem nasional sehingga
Presiden Republik Indonesia mengeluarkan instruksi tentang
pembentukan Badan Koordinasi Penanggulangan Kenakalan Remaja,
yaitu Instruksi Presiden No. 6 Tahun 1971, dilaksanakan secara
koordinatif antara departemen dengan instansi kepolisian RI.15
13 Lihat, Muliati Amin, “Problematika Remaja dalam Perspektif Dakwah”, Jurnal Dakwah
Tablig (Ed. 03; Makassar: Fakultas Dakwah IAIN Alauddin Makassar, 2002), h. 167.
14 Ibid., h. 168.
15 Lihat, M. Arifin, “Kenakalan Remaja dan Kegiatan Pelayanan Bimbingan Konseling
Berdasarkan Berbagai Sistem Pendekatan”. Modul 6 Bimbingan dan Konseling (Cet. III; Jakarta:
Ditjen Bimbingan Islam Depag, 1994), h. 257.
9
Remaja yang melakukan kejahatan pada umumnya kurang
memiliki kontrol diri, atau justru menyalahgunakan kontrol diri tersebut
suka menegakkan standar tingkah laku sendiri, disamping meremehkan
keadaan orang lain. Kejahatan yang mereka lakukan itu pada umumnya
disertai unsur-unsur mental dan motif-motif subyektif, yaitu untuk
mencapai obyek tertentu yang disertai kekerasan.16
Dari berbagai penyimpangan dan tindakan yang dilakukan oleh
remaja yang berhubungan dengan tradisi masyarakat, norma hukum dan
norma agama, tidak terlepas dari berbagai macam faktor penyebab, baik
yang berasal dari diri remaja sendiri (internal) maupun penyebab yang
berasal dari luar dirinya (eksternal) perlu dicarikan solusi
(pemecahannya). Upaya ini menghendaki agar remaja dapat keluar dari
problematika yang dihadapinya yang dapat membahayakan dirinya dan
orang lain.
Bertitik tolak dari problematika remaja yang sering kita saksikan
dewasa ini, maka dakwah merupakan saham yang turut andil dalam
16 Lihat, Kartini Kartono, Patologi Sosial dan Kenakalan Remaja, Ed. 4 (Cet. IV; Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 2002), h. 9.
10
mencari solusi dan penyelesaian dari masalah-masalah tersebut. Untuk
itu diperlukan adanya dakwah yang efektif dan efisien terhadap remaja,
sehingga dapat memahami dan menerapkan tuntunan ajaran agama
Islam secara tepat dalam kehidupan sehari-harinya.
B. Rumusan Masalah
Berpijak pada latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan
permasalahan yang menjadi fokus kajian selanjutnya, yaitu:
1. Bagaimana gambaran kondisi kehidupan remaja ?
2. Problematika apa saja yang dialami remaja ?
3. Bagaimana metode dakwah dalam menghadapi problema remaja ?
C. Tujuan dan Kegunaan
1. Tujuan
a. Untuk mengetahui kondisi kehidupan remaja.
b. Untuk mengetahui problematika yang dialami remaja.
c. Untuk mengetahui metode dakwah yang tepat dalam
mengatasi setiap problem remaja.
11
2. Kegunaan
a. Secara akademik untuk memperkaya khazanah ilmu dakwah
terutama dalam mengembangkan Islam.
b. Secara praktis dapat digunakan oleh lembaga-lembaga
dakwah untuk mencari kiat yang tepat dalam melakukan
dakwah di kalangan remaja.
D. Pengertian Judul
Untuk memperjelas judul di atas, perlu disertakan uraian tentang
beberapa kata kunci (key word), dengan harapan dapat menjadi pijakan
awal untuk memahami uraian lebih lanjut, dan juga dapat menipis
kesalahpahaman dalam memberikan orientasi kajian ini.
Pertama, Metode dakwah, secara etimologi kata metode berasal
dari bahasa Yunani, yakni dari kata metodos yang berarti cara atau
jalan. 17 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, metode adalah cara
yang telah teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu tujuan.18
17 Lihat, Muh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Ed. 1 (Cet. I; Jakarta: Kencana, 2004), h. 121.
18 Departemen Pandidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ed. 2 (Cet. I;
Jakarta: Balai Pustaka, 2001), h. 740.
12
Sedangkan kata dakwah setelah metode ialah secara etimologi
dakwah berasal dari bahasa Arab yaitu دعا – يدعو - دعوة , artinya
panggilan, ajakan, seruan, propaganda, bahkan berarti permohonan
dengan penuh harap.19
Menurut Toha Yahya Umar, dakwah menurut Islam ialah
mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar
sesuai dengan perintah Tuhan, untuk kemashlahatan dan kebahagiaan
mereka di dunia dan di akhirat.20
Syekh Ali Mahfudz memberikan pengertian dakwah adalah
sebagai berikut:
حث الناس على الخير والهدى والامر بالمعروف والنهي عن المنكر ليفوزوا
بسعادة العاجل والعجل
Terjemahnya:
19 Asep Muhiddin, Dakwah dalam Perspektif Al-Qur'an; Studi Kritis Visi, Misi dan
Wawasan (Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 2002), h. 39-40.
20 Toha Yahya Umar, Ilmu Dakwah (Cet. IV; Jakarta: Widjaya, 1985), h. 1.
13
“Mendorong manusia atas kebaikan dan petunjuk dan menyuruh
kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran guna
mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.” 21
M. Isa Anshari memberikan pengertian dakwah yaitu
menyampaikan seruan Islam, mengajak dan memanggil umat manusia
agar menerima dan mempercayai keyakinan dan pandangan hidup
Islam.22
Al-Khuly mendefnisikan dakwah sebagaimana yang dikutip oleh
Moh. Natsir Mahmud, yaitu:
نقل امة من محيط الى محيط
“Mengubah umat dari suatu situasi ke situasi yang lain”
Yakni dari situasi negatif ke situasi yang positif, dan dari yang
positif ke kondisi yang lebih positif.23
Kedua, remaja; istilah asing yang sering dipakai untuk
menunjukkan masa remaja antara lain: puberteit, adolescentia, dan
21 Syekh Ali Mahfudz, Hidayah Mursyidin ila Turuqi al-Nash wa al-Khatabah (Beirut: Dar
al-Ma’arif, tth.), h. 1.
22 M. Isa Anshari, Mujahid Dakwah (Cet. IV; Bandung: Diponegoro, 1991), h. 17.
23 Moh. Natsir Mahmud, Bunga Rampai Epistemologi dan Metode Studi Islam (Cet. I;
Makassar: IAIN Alauddin Makassar, 1998), h. 39.
14
youth. Dalam bahasa Indonesia sering dikatakan pubertas atau remaja.
Apabila kita lihat asal kata istilah-istilah tersebut maka akan diperoleh;
a. Puberteit (Belanda) berasal dari bahasa Latin. Pubertas yang
berati kelaki-lakian, kedewasaan yang dilandasi oleh sifat dan
tanda kelaki-lakian.24
b. Adolescentia, berasal dari bahasa Latin Adulescentia. Dengan
adulescentia dimaksudkan masa muda yakni antara 17 dan 30
tahun.25
Sedangkan “problematika” yang dimaksud dalam hal ini adalah
berbagai permasalahan26 yang melingkupi kehidupan remaja, baik
dalam bentuk fisik, psikis dan sosial.
Berdasarkan uraian beberapa definisi tersebut, maka definisi
secara operasional judul ini adalah suatu konsep teoritik yang
membahas tentang berbagai cara dan upaya untuk memberikan solusi
Islami terhadap berbagai problematika dalam kehidupan remaja.
Masalah kehidupan yang dimaksud mencakup seluruh aspek
24 Singgih D. Gunarsa dan Ny, Psikologi Remaja (Cet. IV; Jakarta: Gunung Mulia, 2001),
h. 4.
25 Ibid.
26 Departemen Pandidikan dan Kebudayaan, op. cit., h. 896
15
seperti ekonomi, sosial, budaya, hukum, politik, sains, teknologi, dan
sebagainya. Untuk itu pula dakwah harus dikemas dengan metode yang
tepat dan pas, aktual, faktual dan kontekstual.
E. Tinjauan Pustaka
Masa remaja biasa pula disebut masa persiapan untuk menempuh
masa dewasa. Taraf perkembangan ini pada umumnya disebut masa
pancaroba atau masa peralihan dari masa anak-anak menuju ke arah
kedewasaan. Pada masa ini perkembangan-perkembangan cepat terjadi
dalam segala bidang yang meliputi fisik, perasaan, kecerdasan,
perkembangan sikap sosial dan kepribadian. Salah satu indikasinya
adalah kelenjar anak-anak berhenti mengalir dan berganti dengan
kelenjar yang mengandung hormon seks. Karena banyaknya
perkembangan-perkembangan yang terjadi dan tidak stabilnya emosi
sehingga masa remaja disebut juga dengan masa transisi. Akhirnya
remaja mudah menjadi cemas dan ketidakstabilan emosi ini oleh orang
dewasa kadang-kadang dinilai sebagai perbuatan nakal. Bilamana
perkembangan tersebut kurang dipahami oleh orang dewasa atau orang
16
tua, maka akan terjadi kesalahpahaman antara remaja dengan orang tua
atau orang dewasa serta lingkungannya.
Hal ini sering digunakan remaja untuk mencari kepuasan di luar
dengan kawan-kawannya yang senasib, akhirnya membentuk
kelompok-kelompok yang memiliki sifat agresif sehingga mengganggu
masyarakat. Hal ini bisa mengarahkan kepada apa yang dinamakan
kenakalan remaja. Bagi remaja ini merupakan masalah yang harus ia
hadapi dan harus dipecahkan. Untuk itu ia membutuhkan informasi,
kawan diskusi, model atau figur yang dapat diteladani dan juga
pengarahan serta bimbingan. Di sinilah letak peranan dakwah sangat
dibutuhkan dalam kehidupan remaja.
Zakiah Daradjat dalam bukunya Ilmu Jiwa Agama (1991)
dijelaskan segala persoalan dan problema yang terjadi pada remaja,
sebenarnya berkaitan dengan usia yang mereka lalui dan tidak dapat
dilepaskan dari pengaruh lingkungan di mana mereka hidup. Dalam hal
itu, suatu faktor yang memegang peranan penting dan menentukan
dalam kehidupan remaja adalah agama. Ajaran agama akan sampai
kepada umat manusia kalau disebarkan dengan dakwah. Tapi sayang
17
sekali, dunia modern kurang menyadari betapa penting dan hebatnya
pengaruh agama dalam kehidupan manusia, terutama pada orang-orang
yang sedang mengalami kegoncangan jiwa, dimana umur remaja
dikenal dengan umur goncang, karena pertumbuhan yang dilaluinya
dari segala bidang dan segi kehidupan.27 Karena itu Zakiah Daradjat
menjelaskan lebih lanjut tentang perkembangan agama pada remaja dan
bagaimana sikap remaja terhadap agama. Tanpa mengetahui masalahmasalah
tersebut akan sukarlah memahami sikap dan tingkah laku
remaja dan juga sangat sulit untuk menentukan strategi dakwah yang
relevan dengan kebutuhan mad’u (remaja).
H. Jalaluddin dalam buku Psikologi Agama, mengungkapkan
bahwa penghayatan para remaja terhadap ajaran agama dan tindak
keagamaan yang tampak pada remaja banyak berkaitan dengan faktor
perkembangan. Perkembangan tersebut ditandai oleh beberapa faktor
antara lain pertumbuhan pikiran dan mental, perkembangan perasaan,
pertimbangan sosial, perkembangan moral, sikap dan minat, serta
ibadah. Dengan mengetahui perkembangan-perkembangan pada diri
27 Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama (Cet. XIII; Jakarta: Bulan Bintang, 1991), h. 69.
18
remaja, seorang da’i atau komunikator dapat menentukan metode atau
strategi dakwahnya.
Kartini Kartono mengungkapkan dalam bukunya Patologi Sosial
dan Kenakalan Remaja, tentang segala bentuk problematika remaja
yang makin hari menunjukkan kenaikan jumlah dalam kualitas
kejahatan dan peningkatan dalam kegarangan serta kebengisannya yang
dilakukan dalam aksi-aksi kelompok. Gejala ini akan terus berkembang
berkaitan dengan modernisasis, industrialisasi, urbanisasi, taraf
kesejahteraan dan kemakmuran.28 Oleh karena tindak kejahatan yang
dilakukan oleh remaja banyak menimbulkan kerugian materil dan
kesengsaraan batin baik pada subyek pelaku sendiri maupun pada para
korbannya, maka Kartini Kartono memberikan solusi dan
penanggulangan secara kuratif.29
Kesehatan Mental dan Terapi Islam oleh M. Sattu Alang
mengungkapkan problematika remaja dewasa ini dan solusinya atau
cara penanggulangannya sesuai dengan ajaran Islam. Di antara
28 Kartini Katono, op. cit., h, 94.
29 Ibid., h. 95.
19
problematika tersebut adalah; a) Terjadinya pergaulan bebas; b)
Penyelewengan seksual; c) Minum-minuman keras.30 Sedangkan cara
penanggulangannya atau solusinya adalah dengan pendidikan agama
dalam keluarga dan usaha setelah terjadi.31
Dalam buku Psikologi Remaja, Sarlito Wirawan Sarwono (2003)
juga memaparkan tentang perkembangan psikologi remaja, perilaku
menyimpang para remaja. Beliau menjelaskan bahwa psikologi remaja
dewasa ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan terkini,
misalnya globalisasi, telepon genggam (HP), internet, VCD porno.
Konsekuensinya adalah terjadi penyimpangan antara lain kenakalan
remaja, penyalahgunaan obat, alkoholisme dan lain-lain. Dari
penyimpangan-penyimpangan tersebut, Sarlito Wirawan Sarwono
memberikan solusi dengan mengungkapkan cara penanganan terhadap
perilaku penyimpangan remaja, di antaranya pemberian petunjuk atau
nasehat, konseling dan psikoterapi. Penanganan yang dikemukakan oleh
30 M. Sattu Alang, op. cit., h. 70-71.
31 Ibid., h. 73..
20
Sarlito Wirawan Sarwono sangat relevan dengan metode dakwah
menurut Al-Qur'an (surat al-Nahl: 125).
Sejalan dengan Sarlito Wirawan Sarwono, Singgih D. Gunarsa
dalam buku Psikologi Remaja mengungkapkan bahwa disamping
penanganan terhadap perilaku menyimpang remaja, juga dikemukakan
tindakan preventif (pencegahan) represif, tindakan kuratif dan
rehabilitasi.
James E. Gardner dalam buku Memahami Gejolak Masa Remaja,
secara realistis membahas apa yang sebaiknya diharapkan oleh orang
tua dan remajanya, dan menekankan betapa pentingnya bila orang tua
menjaga dirinya agar tetap tenang, berwibawa dan tidak kehilangan
kontrol dalam berkomunikasi dengan remaja. Gardner menyadari
bahwa tidak ada pemecahan yang ampuh atas setiap masalah emosional
remaja itu. Tetapi ia memberikan sejumlah strategi yang logis dan bisa
diterapkan dalam berbagai situasi nyata yang kita hadapi.
Pembahasan mengenai dakwah bukanlah suatu hal yang baru,
sudah banyak tulisan sepanjang telaah penulis, namun belum ada
penelitian ilmiah yang mengkaji masalah ini secara spesifik. Beberapa
21
tulisan sudah banyak yang menggambarkan usaha pemikiran dakwah
sebagai ilmu, antara lain:
Thomas W. Arnold, The Preaching of Islam, yang diterjemahkan
dalam bahasa Arab oleh Hasan Ibrahim dan dengan bahasa Indonesia
oleh A. Nawawi Rambe dengan judul Sejarah Dakwah, buku ini
merupakan karya yang melihat aspek kesejarahan dakwah di pelbagai
negara dan bangsa.
Dalam bahasa Indonesia tulisan tentang dakwah tidak kurang dari
50 buah judul diantaranya : Asmuni Syukir dengan Dasar-dasar
Strategi Dakwah, mengemukakan berbagai metode dakwah,
diantaranya metode ceramah, tanya jawab, debat, percakapan antar
pribadi, demonstrasi, mengunjungi rumah (silaturrahmi). Metode yang
digunakan oleh Asmuni Syukir sangat relevan jika diterapkan pada
remaja meskipun tidak membahas secara terfokus tentang metode
dakwah dikalangan remaja, tetapi dibahas secara umum.
Adapun mengenai proses dakwah yang dijelaskan oleh H. Arifin
dalam bukunya Psikologi Dakwah; Suatu Pengantar Studi yang
22
pembahasannya lebih banyak melihat dakwah dari aspek psikologis
secara umum.
Dalam buku Dakwah Dalam Perspektif Al-Qur'an; Studi Kritis
atas Visi, Misi, dan Wawasan, Asep Muhiddin mengungkapkan bahwa
dakwah bi al-Hikmah yang berarti dakwah bijak, mempunyai makna
selalu memperhatikan suasana, situasi dan kondisi mad’u. hal ini berarti
menggunakan metode yang relevan dan realistis dengan selalu
memperhatikan kadar pemikiran dan intelektual, suasana psikologis dan
situasi sosial kultural mad’u.
Seluruh gagasan tersebut mencerminkan kalangan psikologi, para
da’i bahkan pemerintah telah memberikan perhatian khusus terhadap
remaja. Oleh karena itu, usaha dakwah di kalangan remaja atau
gagasan Islam diupayakan agar dapat dipraktekkan oleh para remaja
dengan berpijak pada kenyataan budaya bangsa Indonesia dengan
segala perkembangan, baik berupa hubungan hidup bangsa, hukum,
peraturan perundang-undangan, maupun kebiasaan dan adat istiadat
23
yang berlaku serta perkembangan pribadi remaja itu sendiri. Dengan
harapan dapat berguna bagi pembangunan negara, bangsa, dan agama.
Dengan demikian penelitian ini bukanlah pengulangan dari apa
yang telah dilakukan oleh peneliti lain, bahkan diharapkan bahwa studi
ini akan menghasilkan hal-hal baru yang belum terungkap oleh studi
lain yang menyangkut masalah metode dakwah dalam menghadapi
problematika remaja. Oleh karena itu penelitian yang dilakukan ini
secara terfokus dalam mengungkapkan bagaimana metode dakwah
dalam kehidupan remaja khususnya dalam mengatasi problematikanya.
Dan untuk menghasilkan suatu kajian yang utuh dan komprehensif
dipilih pendekatan dan analisa tertentu sebagaimana yang dijelaskan
pada bagian metode.
F. Metode Penelitian
Penelitian ini bersifat kualitatif, maka perlu dilakukan deskriptif
analitik, yakni metode yang dimaksudkan untuk menggambarkan secara
sistematis, faktual dan akurat mengenai topik-topik yang dibahas dalam
penelitian ini. Sehubungan dengan hal itu, dapat berguna untuk
24
menemukan konsepsi mendasar tentang problematika remaja dan upaya
solutif untuk meretasnya dalam bentuk kegiatan dakwah.
1. Metode Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
pendekatan teori, baik teori-teori dakwah, maupun teori psikologis.
a. Pendekatan teori dakwah, pendekatan ini dilakukan dengan
menghubungkan antara faktor dakwah sehingga membentuk jaringan
sistematik, yaitu obyek dakwah melalui metode dan media dakwah
dengan menggunakan materi dakwah tertentu.
b. Pendekatan teori psikologi, pendekatan ini menjadi acuan utama
dalam penyusunan tesis ini karena melalui pendekatan ini analisis
terhadap problematika remaja akan menelusuri tingkat keagamaan
seseorang yang dipengaruhi oleh unsur usia dan kejiwaannya dalam
memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai atau ajaran agama yang
dipahaminya.32
32 Lihat, Abuddin Nata, Metode Studi Islam (Cet. IV; Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2000), h. 50.
25
Dengan pendekatan tersebut, maka penelitian ini akan dilakukan
dengan analisis kualitatif melalui penelitian kepustakaan (library
research) dengan mengkaji beragam data terkait, baik yang berasal dari
sumber data utama (primary sources) maupun sumber data pendukung
(secondary sources).
2. Metode Pengumpulan Data
Sumber data dalam penelitian ini semuanya berasal dari bahan
tertulis yang berkaitan dengan topik yang dibahas. Untuk merekam
bahan tertulis yang dibaca, penulis menggunakan kartu cat. Pembuatan
kartu ini meliputi kartu ikhtisar, kartu kutipan, dan kartu ulasan.
Karena penulisan ini menyangkut metode dakwah, maka sumber
yang digunakan, selain Alquran dan hadis (sebagai sumber pokok
ajaran Islam yang harus disampaikan kepada umat). Penulis juga
menggunakan buku-buku psikologi remaja, buku-buku dakwah yang
representatif, buku-buku komunikasi, manajemen, teori perubahan
sosial, serta buku-buku ilmu sosial lainnya yang berkaitan dengan topik
yang dibahas.
26
Data-data, baik yang berasal dari sumber utama maupun
pendukung, sepenuhnya diperoleh melalui penelaahan kepustakaan.
Pemerolehannya melalui proses organizing, data-data tersebut
diorganisasi dan dikelompokkan secara selektif sesuai kategorisasinya
berdasar content analysis (analisis isi).
3. Metode Pengolahan dan Analisis Data
Oleh karena penelitian ini mengacu pada analisis deskriptif,maka
dalam pola pengkajiannya penulis menggunakan pola epagogis33 atau
secara umum disebut metode induksi, yaitu suatu cara penganalisaan
ilmiah yang dimulai dari hal-hal atau persoalan-persoalan yang bersifat
umum (universal).34 Selain itu, pendekatan secara apodiktik,35 atau
sering dikenal dengan metode deduksi, juga penulis gunakan, yaitu
dengan penganalisaan yang dimulai dari masalah-masalah yang bersifat
umum kemudian atas dasar itu ditetapkan hal-hal yang bersifat
khusus.36 Yang pada gilirannya akan diambil beberapa kesimpulan yang
merupakan rangkuman akhir dari isi tesis secara keseluruhan.
33 Lihat, Muhammad Hatta, Alam Pikiran Yunani (Jakarta: Tintamas, 1986), h. 123-124.
34 Lihat, H.M. Rasyidi, Islam untuk Disiplin Ilmu Filsafat (Jakarta: Bulan Bintang, 1982), h.
14.
35 Muhammad Hatta, loc. ct.
36 H.M. Rasyidi, op. cit., h. 15
27
G. Sistematika Pembahasan
Bab I; Bagian ini merupakan Pendahuluan, pada bagian ini akan
diungkap secara berurutan mulai latar belakang masalah, rumusan
masalah, tujuan dan manfaat penelitan, penjelasan judul, telaah pustaka,
metode, dan sistematika pembahasan.
Bab II; Bagian ini membahas tentang ruang lingkup dakwah, di
dalamnya dipaparkan beberapa hal menyangkut dasar hukum, tujuan,
subyek, obyek, materi, metode, media, implikasi dakwah dan dana
dakwah.
Bab III; Bagian ini merupakan prakonsepsi sebagai suatu
perspektif ke arah perumusan. Di sini akan dipaparkan remaja dan
problematikanya, di dalamnya dipaparkan tentang pengertian remaja
dan batasannya, problematika remaja, dan faktor-faktor yang
mempengaruhi tingkah laku remaja.
Bab IV; Pada bagian ini membahas secara khusus tentang
dakwah di kalangan remaja dengan merelevansikannya pada
problematika seputar kehidupan remaja. Oleh karena itu, akan
28
diungkapkan pula materi, metode serta upaya-upaya menyangkut
strategi yang tepat dalam meretas problematika remaja.
Bab V; Bagian ini merupakan penutup, di sini akan dilakukan
penyimpulan terhadap seluruh paparan, sebelum kemudian diakhiri
dengan saran-saran.
BAB II
RUANG LINGKUP DAKWAH
A. Dasar Hukum Dakwah
Islam dan dakwah adalah dua hal yang tak terpisahkan. Islam
tidak akan mungkin maju dan berkembang bersyi’ar dan bersinar tanpa
adanya upaya dakwah. Semakin gencar upaya dakwah dilaksanakan
semakin bersyi’arlah ajaran Islam, semakin kendor upaya dakwah
semakin redup pulalah cahaya Islam dalam masyarakat. Laisa al-Islam
illa bi al-da’wah, demikianlah sebuah kata bijak mengungkapkan.
Ajaran Islam yang disiarkan melalui dakwah dapat menyelamatkan
manusia dan masyarakat pada umumnya dan hal-hal yang dapat
membawa pada kehancuran.1
Oleh karena itu, dakwah bukanlah suatu pekerjaan yang asal
dilaksanakan sambil lalu, melainkan suatu pekerjaan yang sudah
menjadi kewajiban bagi setiap pengikutnya.
Dalam QS. Ali Imran (3): 104, Allah Swt berfirman:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ
( هُمُ الْمُفْلِحُونَ ( ۱۰٤
1 Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Ed. I (Cet. I; Jakarta: Kencana, 2004), h. 37.
29
30
Terjemahnya:
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah
dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.2
Berdasarkan ayat di atas, para ulama sepakat bahwa hukum
dakwah adalah wajib. Adapun yang menjadi perdebatan di antara
mereka adalah apakah kewajiban itu dibebankan kepada setiap individu
muslim (fardhu ‘ain) atau kewajiban itu hanya dibebankan kepada
sekelompok orang saja dari umat Islam secara keseluruhan (fardhu
kifayah). Oleh karena itu akan diungkapkan masing-masing pendapat
beserta argumen-argumennya tentang dasar hukum dakwah. Perbedaan
disebabkan karena cara-cara pemahaman mereka terhadap dalil-dalil
naqli (Alquran dan hadis) di samping adanya kenyataan kondisi tiap
muslim yang berbeda kemampuan dan spesifikasi ilmunya.
Muhammad Abduh cenderung pada pendapat pertama, yaitu
wajib ‘ain hukumnya dengan alasan bahwa huruf “lam” yang terdapat
pada kalimat “waltakum” mengandung makna perintah yang sifatnya
mutlak tanpa syarat. Sedangkan huruf “mim” yang terdapat pada
2 Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahnya (Jakarta: Yayasan Penafsir dan
Penterjemah Alquran, 1995), h. 93.
31
kalimat “minkum” mengandung makna li al-bayan yang artinya bersifat
penjelasan. Jadi, terjemahan ayat tersebut menurut beliau menjadi:
“Dan hendaklah ada (yaitu) kamu sekalian sebagai umat yang menyeru
kepada kebaikan…, dan seterusnya”.3
Menurut beliau, seluruh umat Islam dengan ilmu yang
dimilikinya betapapun minimnya wajib mendakwahkannya kepada
orang lain sesuai ilmu dan kemampuan yang ada padanya.4
Al-Syaukaniy cenderung pada pendapat yang kedua,
sebagaimana yang dikutip oleh Syamsuri Siddiq bahwa dakwah
Islamiyah hukumnya wajib kifayah. Artinya, dikerjakan oleh sebagian
umat Islam yang mengerti tentang seluk beluk agama Islam. Sedang
umat Islam yang lainnya yang belum mengerti tentang seluk beluk
Islam tidak wajib berdakwah. Dengan demikian bebaslah dosa yang
tidak melaksanakan dakwah sebab sudah terpikul oleh yang sebahagian.
Beliau melihat bahwa huruf “mim” yang melekat pada kalimat
“minkum” bukan li al-bayan, tetapi li al-tab’idh yakni menunjukkan
sebahagian dari umat Islam. Jadi terjemahan ayat tersebut adalah: “Dan
3 Muh. Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, Juz IV (Kairo, al-Maktabat al-Qahirah, t.th.), h.
28.
4 Ibid.
32
hendaklah ada dari sebahagian kamu sekalian segolongan umat yang
menyeru kepada kebaikan…,dan seterusnya”5
Pendapat ini didukung oleh para ahli tafsir lainnya, Imam
Qurthubi, Imam Suyuthi dan Imam Zamakhsyariy.6 Al-Razy
berpendapat lebih moderat dengan mengatakan bahwa huruf “mim”
pada kata “minkum” itu li al-bayan, yakni bersifat penjelasan. Dengan
demikian, dakwah Islam itu hukumnya wajib ‘ain dengan dua alasan.
a. Allah Swt mewajibkan amar ma’ruf dan nahi munkar atas seluruh
umat berdasarkan firman Allah Swt: “Adalah kamu sebaik-baiknya
umat yang dilahirkan untuk umat manusia, supaya kamu menyuruh
mengerjakan kebaikan dan melarang berbuat kejahatan.
b. Bahwa tidak akan dibebankan kecuali untuk berbuat yang makruf
dan mencegah yang mungkar baik dengan tangan, lidah atau dengan
hati bagi setiap orang harus berusaha menolak yang
memudharatkan kepada dirinya.7
Ibn Katsir menafsirkan surat Ali Imran (3): 104;
5 Syamsuri Siddiq, Dakwah dan Teknik Berkhutbah (Cet. VI; Bandung: al-Ma’arif, 1993),
h. 13.
6 Ibid.
7 Abdul Karim Zaidan, Ushul al-Dakwah (Baghdad: Dar Umar al-Khattab, 1975), h. 302.
33
المقصود فى هذه الآية أن تكون فرقة من هذه الأمة متصلية لهذا الشأن وان كان
ذلك واجبا على كل فرن من الأمة بحسبه.
Artinya:
Yang dimaksud oleh ayat ini, hendaklah ada di kalangan umat satu
golongan yang berusaha untuk urusan itu kendati berdakwah adalah
kewajiban atas setiap umat dari umat keseluruhan.8
Berpedoman pada keterangan para mufassir, maka dapat
dipahami bahwa pendapat al-Razy yang nampaknya lebih praktis
dibanding dengan pendapat yang lain, dan pendapat al-Razy ini
merupakan sintesa atau jalan tengah yang menerangkan pendapat
Muhammad Abduh dan al-Syaukaniy. Menurut beliau harus dilihat
urgensinya terlebih dahulu. Oleh karena itu Rasulullah Saw berpesan:
من راى منكم منكرافليغيره بيده فان لم يستطع فبلسانه وان لم يستطع فبقلبه, وذالك
اضعف الايمان.
Terjemahnya:
Barangsiapa di antara kamu melihat suatu kemungkaran, maka
hendaklah ia mencegah dengan tangannya (dengan kekuatan,
kekuasaan atau kekerasan), jika ia tidak sanggup demikian (lantaran
tidak mempunyai kekuatan / kekuasaan), maka dengan lidahnya,
(teguran dan nasehat dengan lisan atau tulisan). Jika pun tidak
8 Ibid., h. 301.
34
sanggup demikian (lantaran serba lemah) maka dengan hatinya, dan
yang terakhir ini adalah iman yang paling lemah. (HR. Muslim)9
Dengan memperhatikan hadis di atas, ada tiga alternatif konsep
penanggulangan untuk mencegah kemungkaran antara lain:
a. Kekuasaan atau wewenang yang ada pada dirinya, atau dilaporkan
kepada pihak yang berwenang untuk ditangani.
b. Peringatan atau nasehat yang baik yang dalam Alquran disebut
mau'idzah al-hasanah.
c. Ingkar dalam hati, artinya hati kita menolak tidak setuju.10
Dengan demikian Nabi Saw mewajibkan bagi setiap umat tentu
saja sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Dengan argumentasi di atas, maka hukum dakwah adalah wajib
ain. Apalagi dikolerasikan dengan hadis riwayat Imam Muslim tentang
kewajiban setiap muslim untuk memerangi kemungkaran dan hadis
riwayat Turmudzi tentang siksa Allah bagi oerang-orang yang
meninggalkan amar ma'ruf nahi mungkar, serta diperkuat dengan surah
al-Taubah ayat 71 tentang ciri utama orang mukmin adalah amar ma'ruf
nahi mungkar.11
9 M. Natsir, Fiqh al-Dakwah (Cet. IX; Semarang: Ramadhani, 1991), h. 112-113.
10 Syamsuri Siddiq, op. cit., h. 14.
11 Muh. Ali Aziz, op. cit., h. 45.
35
Tentu saja kewajiban tersebut sesuai dengan kapasitas
kemampuannya, Islam tidak menuntut umat manusia di luar
kemampuannya. Kewajiban ini relevan dengan gugurnya kewajiban haji
bagi orang yang tidak mampu.12
B. Tujuan Dakwah
Setiap usaha yang dilakukan tentu mempunyai tujuan yang jelas,
agar memperoleh hasil tertentu atas usaha yang dilakukan, artinya ada
nilai tertentu yang diharapkan dapat tercapai.
Sebenarnya tujuan dakwah itu adalah sama halnya diturunkannya
ajaran Islam bagi umat manusia itu sendiri, yaitu untuk membuat
manusia memiliki kualitas akidah, ibadah, serta akhlak yang tinggi.13
Dalam proses penyelenggaraan dakwah, tujuannya adalah
merupakan salah satu faktor penting dan sentral, karena pada tujuan itu
dilandaskan segenap tindakan dakwah dan merupakan dasar bagi
penentuan sasaran dan strategi atau kebijaksanaan serta langkahlangkah
operasional dakwah.14
12 Ibid., h. 46.
13 Ibid., h. 60.
14 Abdul Rosyad Saleh, Manajemen Dakwah Islam (Cet. III; Jakarta: Bulan Bintang,
1993), h. 19.
36
Bisri Afandi mengatakan dalam bukunya Beberapa Percikan
Jalan Dakwah bahwa yang diharapkan oleh dakwah adalah terjadinya
perubahan dalam diri manusia, baik kelakuan adil maupun aktual, baik
pribadi, maupun keluarga, masyarakat, way of thingking atau cara
berpikirnya berubah atau cara hidupnya berubah menjadi lebih baik.
Yang dimaksudkan adalah nilai-nilai agama semakin dimiliki banyak
orang dalam segala situasi dan kondisi.15
Suatu tujuan yang baik apabila tujuan itu memang menjadi tujuan
semua orang, berharga dan bermanfaat bagi manusia, dan bisa dicapai
oleh setiap manusia, bukan utopia.16
Amrullah Ahmad, merumuskan tujuan dakwah, adalah untuk
mempengaruhi cara merasa, berpikir, bersikap, dan tindakan manusia
pada tataran individual dan sosio-kultural dalam rangka terwujudnya
ajaran Islam dalam semua segi kehidupan.17
Senada dengan itu, H.M. Arifin, menyatakan bahwa tujuan
program kegiatan dakwah adalah untuk menumbuhkan pengertian,
15 Bisri Afandi, Beberapa Percikan Jalan Dakwah (Surabaya: Fakultas Dakwah
Surabaya, 1984), h. 3.
16 M. Syafa'at Habib, Buku Pedoman Dakwah (Jakarta: Wijaya, 1981), h. 133.
17 Amrullah Ahmad, Dakwah Islam dan Perubahan Sosial (Yogyakarta: Primaduta,
1983), h. 2.
37
kesadaran, penghayatan dan pengamalan ajaran agama yang dibawakan
oleh aparat dakwah.18
Dengan demikian, tujuan dakwah ditekankan pada untuk sikapsikap
mental dan tingkah laku manusia yang kurang baik menjadi lebih
baik atau meningkatkan kualitas iman dan Islam tanpa ada tekanan dan
paksaan dari siapapun.
Begitu pentingnya tujuan dalam setiap aktivitas, maka tujuan itu
harus dirumuskan dengan baik sehingga tujuan itu dapat dijadikan
sebagai suatu ukuran keberhasilan atau kegagalan. Dalam hal ini
merupakan kompas pedoman yang memberikan inspirasi dan motivasi
dalam proses penyelenggaraan dakwah. Begitu pula dengan tindakantindakan
kontrol dan evaluasi, yang menjadi pedoman adalah tujuan itu
sendiri.
Tujuan dakwah merupakan landasan penentuan strategi dan
sasaran yang hendak ditempuh harus mempunyai sasaran atau tujuan
yang jelas. Dalam komunikasi kelompok, tujuan komunikasi harus
sudah ditetapkan terlebih dahulu agar semua anggota kelompok
mengetahui dan melaksanakan tugas dan fungsi yang harus mereka
kerjakan.19
18 H.M. Arifin, Psikologi Dakwah; Suatu Pengantar Studi (Cet. III; Jakarta: Bumi
Aksara, 1994), h. 4.
19 Aloliliweri, Komunikasi Antar Pribadi (Cet.II; Bandung: Citra Aditya Bakti, 1997), h.
14.
38
Mengacu pada pentingnya kedudukan dan peranan tujuan bagi
proses pelaksanaan dakwah maka tujuan dakwah haruslah dipahami
oleh para pelaku dakwah agar tidak terjadi kesulitan dan kekaburan
yang berakibat pula pada timbulnya kekaburan dalam menentukan
kebijaksanaan, atas dasar ini sehingga tujuan atau nilai yang hendak
dicapai melalui penyelenggaraan dakwah harus dirumuskan. Karena
dengan rumusan yang jelas akan memudahkan bagi para pelaku dakwah
dalam memahami tujuan yang ingin dicapainya.20
Sementara itu, Abdul Rosyad saleh membagi tujuan dakwah
menjadi dua, yaitu tujuan utama dan tujuan departemental. Yang
dimaksud tujuan utama dakwah adalah hasil akhir yang ingin dicapai
atau diperoleh secara keseluruhan tindakan dakwah yaitu terwujudnya
kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di
akhirat.21sedangkan tujuan departemental ialah nilai-nilai yang dapat
mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan yang diridhai oleh Allah
Swt sesuai dengan bidangnya masing-masing.22
20 Abdul Rosyad Saleh, op. cit., h. 20.
21 Ibid., h. 21.
22 Ibid., h. 27.
39
Di samping tujuan utama, yaitu tujuan akhir dari dakwah
terwujudnya individu dan masyarakat yang mampu menghayati dan
mengamalkan ajaran Islam dalam semua lapangan kehidupannya adalah
tujuan yang sangat ideal, maka perlu ditentukan tujuan departemental
pada tiap-tiap tahap atau tiap-tiap bidang yang menunjang tercapainya
tujuan akhir dakwah.
Dalam kaitan ini, Asmuni Syukir membagi tujuan dakwah yaitu
tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dakwah merupakan
sesuatu yang hendak dicapai dalam aktivitas dakwah. Ini berarti bahwa
tujuan dakwah yang masih bersifat umum dan utama dimana seluruh
proses dakwah ditujukan dan diarahkan kepadanya.23 Dengan demikian,
tujuan dakwah secara umum mengajak umat manusia kepada jalan yang
benar dan diridhai oleh Allah Swt agar dapat hidup bahagia dan
sejahtera di dunia dan akhirat.
Tujuan khusus merupakan perumusan tujuan sebagai perincian
daripada tujuan umum dakwah. Hal ini dimaksudkan agar dalam
pelaksanaan seluruh aktivitas dakwah dapat jelas diketahui kemana
23 Asmuni Syukir, Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam (Surabaya: Al-Ikhlas, 1983), h.
51.
40
arahnya, ataupun jenis kegiatan apa yang hendak dikerjakan, kepada
siapa berdakwah, dengan cara yang bagaimana dan sebagainya secara
terperinci.24
Dari penjelasan di atas secara keseluruhan baik tujuan umum dan
tujuan khusus dakwah adalah:
1. Mengajak orang-orang non Islam untuk memeluk ajaran Islam
(mengislamkan orang-orang non Islam). Firman Allah Swt QS. Ali
Imran ayat 20:
فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ
وَالْأُمِّيِّينَ ءَأَسْلَمْتُمْ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَاللَّهُ
( بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ ( ۲۰
Terjemahnya:
Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran
Islam), maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada
Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku". Dan
katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan
kepada orang-orang yang ummi: "Apakah kamu (mau) masuk
Islam?" Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah
mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban
kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah
Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.25
24 Ibid., h. 54.
25 Departemen Agama RI, op. cit., h. 78.
41
2. Mengislamkan orang Islam, artinya meningkatkan kualitas iman,
Islam, dan ihsan kaum muslimin, sehingga mereka menjadi orangorang
yang mengamalkan Islam secara keseluruhan (kaffah).
Firman Allah Swt QS. al-Baqarah (2): 208;
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُط وَاتِ الش يْطَانِ إِن هُ لَك مْ ع دُوٌّ مُب ين (۲۰۸)
Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam
secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah
syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.26
3. Menyebarkan kebaikan dan mencegah timbulnya dan tersebarnya
bentuk-bentuk kemaksiatan yang akan menghancurkan sendi-sendi
kehidupan individu, masyarakat, sehingga menjadi masyarakat yang
tenteram dan penuh keridhaan Allah Swt.
4. Membentuk individu dan masyarakat yang menjadikan Islam
sebagai pegangan dan pandangan hidup dalam segala sendi
kehidupan baik politik, ekonomi, sosial dan budaya.27
26 Ibid., h. 50.
27 Muh. Ali Aziz, op. cit., h. 69.
42
5. Dakwah diharapkan bertujuan akan mampu mengatasi berbagai
krisis yang dihadapi oleh manusia modern, baik krisis identitas,
krisis legalitas, krisis panetrasi, krisis partisipasi maupun krisis
distribusi.28 Dengan demikian dakwah islamiyah bukan hanya
menyampaikan kalimat tauhid kepada para pendengar, setelah itu
membiarkan mereka menafsirkan apa-apa yang telah disampaikan
sekehendak hatinya tanpa bimbingan dan arahan, juga bukan hanya
menerangkan hukum-hukum syari'at melalui media massa atau
sarana informasi lainnya begitu saja tanpa ditindaklanjuti, akan
tetapi harus diwujudkan dengan amalan, baik dengan tingkah laku,
pergaulan, maupun adanya kesadaran orang tua mendidik putraputrinya
serta agar setiap orang berkeinginan mengarahkan orang
lain.29 Dengan adanya tujuan yang ingin dicapai, maka kegiatan
28 M. Syafaat Habib mengungkapkan bahwa: (1) Krisis identitas, manusia sudah
kehilangan kepribadiannya dan jati dirinya, dalam hal ini akan mudah dicarikan jawabannya oleh
dakwah. (2) Krisis legalitas, bahwa manusia sudah mulai kehilangan peraturan-peraturan untuk
diri dan masyarakatnya, maka dakwah penuh dengan ajaran tentang tuntunan hidup. (3) Krisis
penetrasi, bahwa manusia telah kehilangan pengaruh yang baik untuk diri dan masyarakatnya,
penuh dengan polusi fisik maupun mental, juru dakwah datang untuk menjernihkan pikiran
manusia dan filter terhadap tingkah lakunya, oleh persiapan mental yang etis dan
bertanggungjawab. (4) Krisis partisipasi, bahwa manusia telah kehilangan kerjasama, terlalu
individualistis, dakwah memberikan obat yang manjur. (5) Krisis distribusi, manusia telah
dihantui atas tidak adanya keadilan dan pemerataan income masyarakat, dakwah mengajarkan
keadilan secara utuh. Lihat, Syafa'at Habib, op. cit., h. 134-135
29 Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Min Khasa'is I'lam al-Islami, diterjemahkan oleh
Muhammad Abdul Hattar E.M, et.al. dengan judul Peranan Media Informasi Islam Dalam
Pengembangan Umat (Cet. II; Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1996), h. 139-140.
43
dakwah akan lebih terarah sesuai dengan proses kegiatan dakwah
yang benar.
C. Subyek Dakwah (Dai)
Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap muslim yang
mukallaf (dewasa) secara otomatis dapat berperan sebagai dai (subyek
dakwah) yang mempunyai kewajiban untuk menyampaikan ajaranajaran
Islam kepada umat manusia. Meskipun pada saat yang sama bisa
saja berpredikat sebagai obyek dakwah.
Secara khusus, orang yang seharusnya berperan lebih intensif
sebagai dai (komunikator) adalah mereka yang memang mempunyai
profesi ataupun memang secara sengaja mengkonsentrasikan dirinya
dalam tugas menggali mutiara-mutiara ilmu serta ajaran agama Islam
untuk disampaikan kepada orang lain sehingga ilmu dan ajaran
agamanya tersebut dapat mempengaruhi sikap dan tingkah laku orang
lain tersebut.
Karena yang kita harapkan adalah dakwah yang sempurna dan
membawa hasil maksimal, maka yang menjadi acuan subyek dakwah
tersebut diharapkan lahir dari مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا
قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (di antara mereka beberapa orang
44
untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk
memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali
kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya ).
Golongan yang dimaksudkan oleh ayat tersebut adalah mereka
yang mengambil spesialisasi (takhassus) di dalam bidang agama
Islam untuk kemudian menyampaikan ilmunya dengan iujuan agar
orang yang menerimanya (mad'u) dapat berbuat atau bertingkah laku
sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang diharapkan oleh Alquran dan
al-Sunnah.
Di dalam bidang agama, golongan ini dikenal dengan sebutan
ulama, artinya orang yang berilmu (dalam bidang agama), akan tetapi
dalam perkembangan masyarakat kontemporer (dewas a ini) dengan
mempertimbangkan pula segala aspek perubahan budaya sebagai
akibat kemajuan science (ilmu pengetahuan) dan teknologi maka para
ulama dengan sendirinya juga dituntut pengetahuannya terhadap
berbagai trend yang berkembang seirama dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang. Hal ini penting
mengingat sasaran (obyek) dakwah juga senantiasa dirangsang oleh
kemajuan teknologi dengan segala aspeknya.
45
Dalam rangka menyusun strategi dakwah dewasa ini di tengah
kehidupan remaja yang kompleksitas dalam arus perubahan sosial
sebagai akibat kemajuan IPTEK tersebut, maka dai sebagai pelaku
dakwah tidak bisa jalan sendiri-sendiri jika yang diharapkan hasil
yang memadai. Akan tetapi dai sebagai subyek dakwah, secara
kolektif melalui lembaga dakwah melakukan tugas-tugas keumatan
dalam bidang dakwah secara proporsional, sehingga dengan demikian
ada istilah "ulama sarjana" yang artinya seorang ahli dalam bidang
agama yang juga memiliki pengetahuan dalam bidang keilmuan
tertentu. Begitu juga sebaliknya, dikenal pula istilah "sarjana
ulama", yakni sebagai seorang ahli dalam bidang ilmu tertentu,
tetapi tetap melekat dalam dirinya suatu prinsip -prinsip agama.
Dapat disimpulkan bahwa secara umum pada dasarnya semua
pribadi muslim/muslimat yang mukallaf (dewasa) berperan secara
otomatis sebagai subyek dakwah dimana baginya kewajiban dakwah
merupakan suatu yang melekat tidak terpisahkan dari missionnya
sebagai penganut Islam (khairu ummah) yang harus senantiasa
menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah/melarang berbuat
munkar.
46
Secara khusus subyek dakwah adalah mereka yang mengambil
keahlian khusus (takhassus) dalam bidang agama Islam dan secara
profesional melakukan tugas-tugas dakwah.
Dengan demikian, subyek dakwah bisa secara pribadi dan bisa
secara kelembagaan. Tentang dakwah yang dil akukan secara
kelembagaan jauh lebih berhasil dari dakwah secara sendirian.
Oleh karena keberhasilan dakwah sangat ditentukan oleh
kapabilitas dan kredibilitas subyek dakwah di dalam mendekati
obyeknya, maka dalam pelaksanaan dakwah ada dua faktor peting
yang perlu diperhatikan dalam hubungannya dengan keberadaan
subyek dakwah, yaitu source attractiveness dan source credibility.
Source attractiveness (daya tarik sumber) atau sesuatu yang
melekat pada diri dai (sumber), dimana dai sebagai subyek dakwah
akan berhasil dalam dakwahnya dan akan mampu mengubah opini,
sikap dan prilaku mad'u melalui mekanisme daya tarik jika pihak
mad'u merasa bahwa dai ikut serta dengannya. Atau merasa ada
kesamaan antara dai sebagai sumber pesan dengan mad'u sebagai
penerima sehingga mad'u bersedia taat pada isi pesan yang
dilancarkannya. Kemampuan dai dalam mengedepankan persamaan -
persamaan akan melahirkan jarak titik singgung antara dai dan mad'u
yang sangat dekat.
47
Sedangkan mengenai source credibility (kredibilitas sumber)
adalah suatu kepercayaan mad'u pada dai yang disebabkan oleh
adanya keahlian atau profesionalitas yang dimiliki oleh dai sebagai
sumber atau subyek dakwah, inilah yang menjadi salah satu alasan
perlunya dakwah dilakukan secara kolektifitas sehingga setiap pelaku
dakwah akan berbicara dan berbuat sesuai bidang keahliannya masingmasing.
Misalnya seorang dokter akan lebih dipercaya oleh masyarakat
ketika berbicara di hadapan khalayaknya dengan mengangkat masalah
hubungan puasa dengan kesehatan jasmani ketimbang seorang dai yang
tidak punya background ilmu di bidang kesehatan berbicara di
hadapan khalayak yang sama dengan tema yang sama pula.
Tidaklah mengherankan kalau Abu Zahrah menyatakan bahwa
seorang dai harus mengetahui Islam, baik secara global maupun secara
rinci, sedangkan jamaah (dewan) dakwah Islamiyah harus memiliki
ilmu dakwah (retorika), mempunyai kemampuan memiliki ilmu
psikologi sosial kemasyarakatan, baik secara keseluruhan maupun
secara individual. Dai Islam dituntut untuk memiliki kekuatan fisik dan
rasio, kemampuan berkomunikasi untuk bergaul dan bekerjasama
48
dengan masyarakat, dan di dalam jiwanya tertanam optimisme terhadap
orang yang menentangnya secara rasional.30
Bahkan pada bagian yang lain secara rinci ia menyatakan bahwa
dai harus memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) Berperilaku yang
baik, berkepribadian yang positif, mengerti dan mengetahui kapan dan
di mana harus diam; (2) Mampu menjelaskan dan mengetahui retorika,
meskipun tidak disyaratkan menjadi orator yang ulung, disarankan
mengetahui metode dakwah yang lain; (3) Memiliki keluwesan dan
loyalitas dalam pergaulan serta suka membantu orang yang
membutuhkan pertolongan; (4) Mengetahui Alquran dan sunnah serta
psikologi dan kultur obyek dakwah sehingga tidak kontraproduktif
dengan masyarakat sasaran dakwahnya; (5) Suka mempermudah dan
tidak mempersulit; (6) Jauh dari perbuatan maksiat dan syubhat.31
Sehubungan dengan uraian di atas, memang dalam ilmu
publisistik diajarkan bahwa biar bagaimanapun baiknya ideologi yang
akan disebarkan kepada masyarakat, ia akan tetap sebagai ide, jika tidak
30 Lihat, Abu Zahrah, Al-Da'wah ila Al-Islam, diterjemahkan oleh H. Ahmad Subandi dan
Ahmad Supeno dengan judul Dakwah Islamiyah (Cet. I; Bandung: Remaja Rosda Karya, 1994), h.
142.
31 Lihat, Ibid., h. 155-159.
49
disebarkan oleh tenaga yang terampil. Hal ini menunjukkan bahwa
meskipun dakwah adalah merupakan kewajiban yang wajib dijalankan
oleh setiap muslim sesuai kemampuannya, namun harus diakui bahwa
dakwah akan berhasil dengan baik jika ada tenaga-tenaga terampil
khusus yang secara profesional melaksanakan tugas dakwah. Itulah
sebabnya maka H. Hamzah Jaqub menyatakan tentang mutlak perlunya
tenaga khusus itu memiliki perlengkapan-perlengkapan istimewa guna
melaksanakan tugas itu dengan sebaik-baiknya.
Menurutnya, ada beberapa hal yang perlu dimiliki oleh seorang
dai, antara lain: (1) mengetahui tentang Alquran dan Sunnah Rasul
sebagai pokok agama Islam; (2) memiliki pengetahuan Islam yang
berinduk kepada Alquran dan Sunnah, seperti Tafsir, ilmu Hadis,
Sejarah Kebudayan Islam dan lain-lainnya; (3) memiliki pengetahuan
yang menjadi alat kelengkapan dakwah seperti teknik dakwah, ilmu
jiwa (psikologi), sejarah, antropologi, perbandingan agama dan
sebagainya; (4) memahami bahasa umat yang akan diajak kepada
jalan yang diridhai oleh Allah. Demikian pula ilmu retorika dan
kepandaian berbicara atau mengarang; (5) penyantun dan lapang
dada; (6) berani kepada siapapun dalam menyatakan membela dan
mempertahankan kebenaran; (7) memberi contoh dalam setiap medan
50
kebajikan supaya paralel antara kata-katanya dengan tindakannya; (8)
berakhlak baik sebagai seorang muslim (tawadhu; tidak sombong,
pemaaf dan ramah tamah); (9) memiliki ketahanan mental yang kuat
(kesabaran), keras kemauan, optimis walaupun menghadapi pelbagai
rintangan dan kesulitan; (10) khalis berdakwah karena Allah,
mengikhlaskan amal dakwahnya semata-mata karena menuntut
keridhaan Allah Swt. (11) mencintai tugas kewajibannya sebagai dai
dan tidak gampang meninggalkan tugas tersebut karena pengaruhpengaruh
keduniaan.32
Perlengkapan-perlengkapan istimewa yang perlu dimiliki dai
tersebut di atas didasari oleh suatu pertimbangan bahwa tugas pelaksana
dakwah adalah: (1) meluruskan i'tikad; (2) mendorong dan
merangsang untuk beramal; (3) mencegah kemungkaran; (4)
membersihkan jiwa; (5) mengokohkan kepribadian seseorang agar
kepribadiannya diwarnai ajaran agama dan agar setiap masalah selalu
dianalisa dengan kacamata agama dan setiap problema dipecahkan
dengan pisau analisa agama; (6) membina persatuan dan
persaudaraan; dan (7) menolak kebudayaan yang merusak. 33
32 Lihat H. Hamzah Yakub. Publisistik Islam; Teknik Dakwah dan Leadership (Cet. II;
Bandung: Diponegoro, 1981), h. 37-39.
33Lihat ibid., h. 39-47. Lihat juga Toha Yahya Omar, Ilmu Dakwah (Cet. V; Jakarta:
Widjaya, 1992), h. 41-50.
51
Hal senada dikemukakan pula oleh Achmad Mubarak, bahwa
mengenai pesona dai (pribadi dai) yang dapat membuat suatu dakwah
itu persuasif adalah memiliki beberapa kriteria yang dipandang
positif oleh masyarakat sebagai obyek dakwah, yaitu antara lain: (1)
Memiliki kualifikasi akademis tentang Islam; (2) Memiliki
konsistensi antara amal dan ilmunya; (3) Memiliki sifat-sifat al-hilm
(santun) dan lapang dada yang merupakan indikator dari keluasan
ilmunya dan secara khusus adalah kemampuannya mengendalikan
akalnya (ilmunya) dalam praktek kehidupan, sehingga lembut tutur
katanya, tenang jiwanya, tidak gampang terbakar oleh kemarahan dan
tidak suka omong kosong; (4) Bersifat pemberani, yaitu keberanian
mengemukakan kebenaran, konstruktif, serta keberanian mengambil
inisiatif yang dinilai tepat; (5) Tidak mengharapkan pemberian orang
lain (iffah); (6) Memiliki sifat qana'ah atau kaya hati; (7) Memiliki
kemampuan berkomunikasi; (8) Memiliki ilmu bantu yang relevan;
(9) memiliki rasa percaya diri dan rendah hati; (10) Tidak kikir ilmu
(kitman al-ilm); (11) Bersikap anggun; (12) Tidak puas dengan hasil
kerja yang tidak sempurna; (13) Sabar di dalam menghadapi
tantangan dan hambatan dalam perjuangan dakwah.34
34 Lihat, Achmad Mubarak, Psikologi Dakwah (Cet. I; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), h.
118-128.
52
H.M. Arifin, juga menyatakan bahwa mengenai syarat -syarat
mental pribadi (personality) tertentu yang perlu dimiliki konselor
yang merupakan subyek dakwah yang tugasnya memberikan
pencerahan jiwa sampai kepada pengamalan ajaran agama antara lain
adalah sebagai berikut: (1) Memiliki pribadi yang menarik, serta rasa
berdedikasi tinggi dalam tugasnya; (2) Memiliki rasa commited
dengan nilai-nilai kemanusiaan; (3) Memiliki kemampuan
berkomunikasi; (4) Bersikap terbuka dan memiliki keuletan dalam
lingkungan tugasnya dan lingkungan sekitarnya; (5) Memiliki rasa
cinta terhadap orang lain dan suka bekerja sama; (6) Sociable dan
socially acceptable (peramah, suka bergaul dan dapat diterima),
dengan kata lain berpribadi simpatik; (7) Memiliki kepekaan dan
kecekatan berpikir sehingga mampu memahami kepentingan dan
yang dikehendaki client sebagai obyeknya; (8) Memiliki personality
yang sehat serta kematangan jiwa (dewasa) dalam segala perbuatan
lahiriah dan batiniah; (9) Memiliki mental suka belajar dalam ilmu
pengetahuan yang berhubungan dengan tugasnya, berakhlak mulia
serta aktif menjalankan ajaran agama. 35
35 Lihat, H.M. Arifin, Pokok-pokok Pikiran Tentang Bimbingan dan Penyuluhan Agama
(Di Sekolah dan Di Luar Sekolah) (Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1976), h. 48-49.
53
Muhammad Al-Shobbagh mengatakan bahwa sedikitnya ada
tujuh pijakan dasar yang menjadi sifat penting yang harus dimiliki
pribadi seorang dai sehingga dapat menjelaskan tugas dan kewajiban
serta dapat menemukan sukses yang gemilang sesuai dengan apa
yang diinginkan, yaitu : (1) Iman yang dalam, tumbuh sadar sejalan
dengn pikirannya; (2) Pengetahuan tentang pokok pikirannya serta
jalur-jalurnya secara umum, dilengkapi dengan keteguhan hati dalam
menyempurnakan pengetahuannya dan segi -segi pelaksanaannya
serta topangan hukumnya dan segala sesuatu yang belum sempat
diketahuinya; (3) Menerapkan materi dakwahnya kepada dirinya
sendiri sehingga terproyeksi dalam kehidupannya sendiri sesuai
dengan sasaran dakwahnya itu; (4) Berlatih secara sinambung dengan
cara yang berhasil guna, peralatan mutakhir yang dimanfaatkan oleh
kebudayaan modern untuk merusak kebudayaan Islam, menerapkan
pula ilmu jiwa kemasyarakatan dan mengambil hikmah dari
pengalaman lawan, missi kristenisasi, komunisme, kolonialisme dan
lain-lain; (5) Kesadaran yang utuh dalam menghadapi kenyataan
zaman serta lingkungannya dengan menyatukannya menurut metode
54
dakwah ; (6) Berakhlak mulia seperti ikhlas, sabar, giat berusaha,
besar hati, puas bila menerima sesuatu, berani dan teguh dalam
pendirian; (7) Bekerja sama dengan sesama dai agar dapat
mempersatukan derap langkah hingga terwujud saling melengkapi
satu dengan lainnya dengan satu khittah Islami dalam pengalamannya,
penuh ketelitian, waspada, ikhlas dan jujur dalam melaksanakan
khittah itu.36
H. Rosihan Anwar juga ketika memberikan kuliah umum di
depan mahasiswa Universitas Islam Al-Syafiiyah Jakarta, tanggal 3
Agustus 1976 mengatakan bahwa jalan melaksanakan dakwah harus
berlapang dada dan mempunyai pikiran terbuka, menjauhi
purbasangka, tidak membangkitkan hal-hal yang menjadi masalah
pertentangan umat, misalnya masalah khilafiah, dan agar lebih
mengedepankan persamaan-persamaan dalam rangka memperkuat
ukhuwah Islamiyah, rasa persaudaraan Islam.
Di samping itu dalam melaksanakan tugas dakwah hendaknya
dapat menyesuaikan dengan obyek yang dihadapi. Oleh karena itu,
36 Muhamrnad Al-Shabbagh, Min Sifat Al-Da'iyah, diterjemahkan oleh A.M. Basalamah
dengan Judul Kriteria Seorang dai (Cet. II; Jakarta: Gema Insani Press, 1991), h. 18-20.
55
dalam melaksanakan dakwah, selain harus tekun belajar dari sejarah,
senantiasa sadar akan dimensi historis segala sesuatu yang dihadapi,
juga harus bersikap sebagai pelari jarak jauh yang pandai penyimpan
nafas dan tenaganya, karena jarak yang ditempuhnya begitu jauh.
Pekerjaan dakwah memang tidak gampang, sehingga pelaku
dakwah harus senantiasa ingat akan kebesaran Nabi Muhammad Saw.
sebagai orang yang mendapat wahyu, sebagai "the inspiredman".
Artinya, bahwa beliau sanggup mempergunakan pengalamannya
untuk keperluan masyarakat, meyakinkan orang lain akan
kemampuannya dan mempraktekkan konsepsinya di dalam
perbuatan. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk tidak
mengatakan bahwa pelaku dakwah (dai) juga harus sanggup
mencontoh kebesaran Nabi Muhammad Saw. dalam tugas dakwah
kontemporer (dewasa ini).37
Nampaknya para ahli hanya berbeda di dalam menguraikan
beberapa persyaratan yang harus dimiliki oleh dai sebagai subyek
dakwah, akan tetapi secara umum mempunyai tujuan yang sama,
37 Baca H. Rosihan Anwar, Demi Dakwah, (Kuliah Umum Di Depan Mahasiswa
Universitas Al-Syafiiyah Jakarta, tanggal 3 Agustus. 1976) (Cet. I: Bandung: Al-Ma'arif, 1976), h.
26-27.
56
yaitu adanya keberhasilan dakwah yang sangat ditentukan oleh
keberadaan subyek dakwah dengan segala kemampuan dan
kepribadian yang dimilikinya.
Demikian halnya dengan keberhasilan strategi dakwah
kontemporer (dewasa ini) yang oleh H. Syahrin Harahap,
menyatakan secara tegas bahwa profil dai yang dikehendaki di dunia
kontemporer adalah : (1) Memiliki komitmen tauhid, (2) Istiqamah
dan jujur, (3) Memiliki visi yang jelas, (4) Memiliki wawasan
keislaman, (5) Memiliki kemampuan memadukan antara dakwah bi
al-lisan dengan dakwah bi al-hal, (6) Sesuai kata dan perbuatan, (7)
Berdiri di atas semua aliran (tidak berpihak), (8) Berpikir strategis,
(9) Memiliki kemampuan analisis interdisipliner, (10) Sanggup
berbicara sesuai kemampuan masyarakat.38
Dengan demikian, dalam melaksanakan strategi dakwah
dalam kehidupan remaja dibutuhkan dai yang ahli dan tangguh,
yang profesional, mereka sarat dengan tanggung jawab, sadar akan
bahaya yang tengah mengancam agama, umat dan alam
lingkungannya. Selain itu, juga selalu cermat dalam berbagai sektor
landasan dakwah sehingga penyampaiannya selalu positif.
38 Lihat, H. Syahrin Harahap, Islam dan Implementasi Pemberdayaan (Cet. I;
Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1999), h. 130.
57
Bahkan jika mengacu kepada Alquran, Allah swt. Menyatakan
sendiri dalam surah al-Muddatstsir ayat 1-7 mengenai apa yang
sehurusnya dilakukan oleh Nabi Saw. sebagai subyek dakwah
sebagaimana firman-Nya dalam QS. al-Muddatstsir (74): 1-7 :
يَاأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ( ۱) قُمْ فَأَنْذِرْ ( ۲) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ( ۳) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ( ٤) وَالرُّجْزَ
( فَاهْجُرْ ( ٥) وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ ( ٦) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ ( ۷
Terjemahnya:
Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah
peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu
bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala)
tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud)
memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi
perintah) Tuhanmu, bersabarlah.39
Muhammad Qutub dalam Fi Zila1 al-Qur’an memberikan
ulasan yang menarik tentang ayat-ayat di atas. Beliau mengatakan
bahwa ayat-ayat tersebut merupakan "panggilan agung" untuk
melaksanakan perintah besar yang berat, dan merupakan bimbingan
bagi Rasul agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Tentang perintah mengagungkan Allah, maksudnya Nabi
Muhammad saw. dalam menjalankan tugas beratnya itu diwajibkan
39 Departemen Agama Rl., op. cit., h. 992.
58
mengagungkan asma Allah, yakni selalu menyadari dalam ingatannya
bahwa Allah Maha Agung.
Perintah mensucikan pakaian artinya perintah mensu cikan diri
karena pakaian atau kinayah yang biasa dipakai dalam bahasa Arab
untuk maksud mensucikan jiwa dan hati, mensucikan akhlak dan
amalan, sehingga dalam menjalankan tugas dakwah, haruslah terlebih
dahulu membersihkan diri, jiwa, akhlak, hati, dan amal perbuatan.
Tentang perintah menjauhkan diri dari perbuatan dosa,
maksudnya adalah menjauhkan dari syirik yang sekalipun semenjak
awal, sebelum masa risalah, Nabi Muhammad Saw. telah menjauhi
syirik dan kejahatan-kejahatan besar, namun Allah memberi juga
bimbingan agar beliau menjauhkan diri dari kejahatan besar itu.
Hal ini dapat dipahami bahwa bimbingan ini pada hakikatnya
lebih ditujukan kepada para juru dakwah sesudah Nabi.
Jangan memberi dengan maksud memperoleh balasan yang
lebih banyak, artinya Nabi Muhammad Saw. dibimbing agar dalam
menjalankan tugas dakwahnya yang sudah pasti membutuhkan
banyak pengorbanan, banyak usaha, banyak penderitaan, beliau tidak
mengharapkan balas jasa, tidak mengharapkan upah dari usahanya
itu, melainkan berjuang semata-mata karena Allah Swt.
59
Tentang perintah sabar, maksudnya karena tugas dakwah
sangatlah berat dan sulit, maka Allah membimbing Muhammad saw.
agar sabar dan tabah menderita, sanggup menghadapi penderitaan
dalam perjuangan yang memakan waktu dimana sangat diperlukan
senjata kesabaran, tahan menderita karena Allah. 40
Ternyata surah al-Muddatstsir ayat 1-7 ini selain mengandung
perintah dakwah kepada Nabi serta bagaimana sikap mental yang
harus dipersiapkan, lebih dari itu, ayat-ayat tersebut mengandung
pula asas-asas yang sangat penting dimiliki dan dijadikan sebagai
pegangan bagi subyek dakwah. Setidaknya ada 7 syarat yang bisa
ditangkap dari 7 ayat surah al-Muddatstsir di atas, yaitu : (1) dai
tidak boleh diam, tidak boleh pasif, tetapi harus tampil energik
dengan semangat etos kerja, tidak boleh lari menghindar dari
masalah, akan tetapi harus mampu mencari tahu penyebab terjadinya
masalah, kemudian bagaimana mengatasi masalah melalui dakwah.
Itulah isyarah qum dalam ayat itu; (2) dai harus senantiasa memberi
peringatan, jangan berhenti bicara (berdakwah) selama lidah masih
40 Lihat Sayid Qutub, Fi Zilal al-Qur’an, Juz XXX, Jilid X (Cet. II; t.t: t.tp., t.th.), h. 185-
187. Lihat juga A. Hasymi, Dustur Dakwah Menurut Alquran (Jakarta: Bulan Bintang, 1947), h.
301-302.
60
bisa berucap, jangan berhenti berbuat selama masih ada yang bisa
diperbuat; (3) dai harus senantiasa menjadikan Allah sebagai
sandaran utama, bahwa dakwah harus didasari oleh motivasi ajaran
agama yang harus disebarluaskan demi kemaslahatan umat manusia
sesuai kehendak Allah Swt.; (4) dai harus jauh dari akhlak atau
perangai tercela, artinya merupakan suatu kemestian bahwa dai harus
senantiasa memiliki akhlak al-karimah (akhlak terpuji) sehingga pola
sikap dan tingkah laku dai justru menjadi referensi dalam bersikap
dan bertingkah laku bagi masyarakat sekelilingnya. Dai harus
menjadi suri teladan bagi masyarakat sekelilingnya; (5) dai dituntut
bukan saja mampu menjauhkan diri dari perbuatan dosa, akan tetapi
ia juga mampu menjauhkan orang lain dari perbuatan dosa; (6) Dai
harus memiliki keikhlasan di dalam melaksanakan tugasnya,
sehingga dakwah yang dilakukannya bukan karena dorongan upah
atau pamrih yang lebih besar, akan tetapi karena memenuhi
keinginan Tuhan untuk saling nasehat menasehati supaya mentaati
kebenaran (QS. Al-Asr: 3) agar mendapat ridha-Nya; (7) Dai perlu
memiliki kesabaran karena tugas dakwah bukanlah merupakan tugas
yang ringan.
61
Oleh karena itu, di dalam Alquran Surah al-Asr ayat 3 setelah
Allah menyebutkan saling nasehat menasehati supaya mentaati
kebenaran, Allah juga menyatakan agar saling nasehat menasehati
supaya menetapi kesabaran karena kunci keberhasilan di dalam
berdakwah tidak semata ditentukan oleh kelincahan di dalam
bertindak dan mencari peluang, akan tetapi kesabaran dan ketabahan
di dalam menghadapi tantangan dan hambatan yang bisa memberikan
titik jenuh dan lemahnya sebuah perjuangan dakwah.
D. Obyek Dakwah (Mad'u)
Yang dimaksud dengan obyek dakwah adalah sasaran yang
dituju oleh suatu kegiatan dakwah. Adapun sasaran yang dituju oleh
suatu kegiatan dakwah di sini adalah perbuatan manusia dengan
berbagai tipologinya, bukan bangsa jin atau lainnya.
Al-Gazali membagi umat manusia ke dalam tiga golongan : (1)
Kaum awam, yang dengan daya akalnya yang sederhana sekali,
mereka memiliki cara berpikir yang sederhana pula, sehingga mereka
tidak dapat menangkap hakekat-hakekat. Mereka mempunyai sifat
lekas percaya dan penurut. Golongan ini harus dihadapi dengan sikap
62
memberi nasehat dan petunjuk ( 2) ;( الموعظة ) Kaum pilihan ( / الخوص
elect), yakni kaum yang memiliki daya akal yang kuat dan
mendalam. Akalnya tajam dan berpikir secara mendalam sehingga
mereka harus didekati dengan sikap menjelaskan hikmah-hikmah; (3)
Kaum penengkar ( احل جدل ). Kaum ini perlu dihadapi dengan al-
Mujadalah.41
Senada dengan itu, M. Hasbi Al-Shiddieqy juga membagi
manusia menjadi tiga golongan dilihat dari berbagai macam tabiatnya,
demikian pula hawa nafsunya dan ukuran kemampuannya menerima
kebenaran. Tiga golongan yang dimaksud adalah sebagai berikut: (1)
Golongan khashshah, cirinya, berpengetahuan tinggi, dapat
mempergunakan kecerdasan akalnya dan dalam mencari kebenaran
mereka biasa menempuh cara-cara ilmiah dan menggunakan logika.
Yang termasuk pada golongan ini adalah para ulama, para hukama dan
para ahli filsafat. Mereka ini jumlahnya sedikit dalam masyarakat; (2)
Golongan umum, cirinya, tidak berpengetahuan tinggi, merea tidak
dapat menemukan kebenaran melalui logika, pegangan mereka adalah
41 Lihat, Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam (Cet. IX; Jakarta: Bulan
Bintang, 1995), h. 45-46.
63
adat kebiasaan / tradisi walaupun mereka bukan orang -orang yang
keras kepala. Cara berpikirnya sangat sederhana dan cenderung
berpegang teguh pada apa yang dapat dirasakan panca indera dan
menurut hukum alam. Jumlah mereka terbanyak; (3) Golongan
pertengahan, cirinya, mempunyai sedikit pemikiran dan cenderung
keras kepala serta fanatik pada kebiasaannya. Golongan ini lebih
banyak dari golongan yang pertama.42
H. Masyhur Amin membagi masyarakat manusia menjadi dua
golongan dilihat dari hubungannya dengan misi yang dibawa oleh
Nabi Muhammad Saw.: (1) Umat Islam sebagai umat yang menerima
dan beriman / percaya kepada agama Islam yang dibawanya; (2) Umat
yang tidak menerima dan tidak beriman (tidak percaya) terhadap
agama Islam yang dibawa oleh beliau. Yang masuk pada golongan
kedua ini adalah umat manusia yang memeluk agama selain Islam dan
umat manusia yang tidak memiliki agama sama sekali.43
H.M. Arifin -sehubungan dengan pluralitas dan kecenderungan
kehidupan masyarakat yang perlu mendapatkan konsideransi
42 Lihat, M. Hasbi Al-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid / Kalam (Cet. V;
Jakarta: Bulan Bintang, 1990), h. 31
43 Lihat, H.M. Masyhur Amin, Dekat Islam dan Pesan Moral (Cet. I; Yogyakarta: Al--
Amin Press, 1997), h. 79.
64
(pertimbangan) yang tepat melalui dakwah-, membagi masyarakat
yang menjadi obyek (sasaran) dakwah sebagai berikut: (1) Dilihat dari
segi sosiologis, berupa masyarakat terasing, pedesaan, kota besar dan
kecil serta masyarakat dari daerah marginal di kota besar ; (2) dilihat
dari segi struktur kelembagaan, berupa masyarakat pemerintah dan
keluarga; (3) dilihat dari segi sosial kultural berupa golongan priyayi,
abangan dalam masyarakat di Jawa; (4) dilihat dari segi tingkat usia,
berupa golongan anak-anak, remaja dan orang tua; (5) dilihat dari segi
okupasional (profesi atau pekerjaan), berupa golongan petani,
pedagang, seniman, buruh, pegawai negeri (administrator); (6) dilihat
dari segi tingkat hidup sosial ekonomi, berupa golongan orang kaya,
menengah dan miskin; (7) dilihat dari segi jenis kelamin (sex) berupa
golongan wanita dan pria; (8) dilihat dari segi khusus berupa
golongan masyarakat tuna susila, tuna wisma, tuna karya, narapidana
dan sebagainya.44
Ciri masyarakat obyek dakwah dalam kaitannya dengan profe si
pekerjaan dijelaskan secara rinci oleh H. Hamzah Ya'qub sebagai
berikut: (1) Buruh, alam pikirannya banyak dipengaruhi oleh
44 Lihat, H.M. Arifin. Psikologi Dakwah......op. cit., h. 3-4.
65
lingkungan pekerjaannya, misalnya buruh pabrik lebih dinamis dari
buruh pertanian. Harapan dan cita -citanya tertuju kepada perbaikan
nasib, kondisi-kondisi kerja yang baik dan jaminan-jaminan sosial
bagi kesejahteraan keluarganya. Karena persamaan nasib, mereka
mempunyai rasa persatuan yang dilahirkan dalam organisasi -
organisasi buruh; (2) Petani, lebih terikat pada sawah ladangnya,
cinta kampung halaman dan adat kebiasaannya, jiwanya lebih tenang,
rasa kekeluargaan dan persaudaraan lebih tebal, mempunyai
semangat tolong-menolong, keperluan hidupnya sederhana,
mempunyai banyak waktu terluang yang tidak dipergunakan; (3)
Nelayan, mempunyai aspirasi hidup yang tersendiri di laut yang
bertalian dengan masalah-masalah perikanan; (4) Pegawai, mereka
yang bekerja dalam lingkungan departemen-departemen, jawatanjawatan,
kantor-kantor yang terikat oleh nonma-norma kepegawaian,
taat kepada pimpinan, peraturan dan tata tertib; (5) Militer, sebagai
alat negara yang mempunyai disiplin kuat, taat kepada atasan
(komando), berani dan tahan menderita, perhatian mereka ditujukan
untuk mengabdi kepada nusa, bangsa dan negara; (6) Seniman,
mereka yang mengalami kenyataan-kenyataan hidup dalam
66
masyarakat lalu dilukiskannya dalam bentuk seni pahat, seni lukis,
seni tari, seni drama, seni sastra, seni suara dan sebagainya. Karya -
karya diekspresikannya dalam bentuk romantika. Kebebasan sangat
berarti baginya.45
Menurut Syekh Muhammad Abduh sebagaimana yang dikutip
oleh M. Natsir, menyatakan bahwa umat yang menjadi obyek dakwah
dapat dibagi atas tiga golongan, yang masing-masing harus dihadapi
dengan cara yang berbeda pula. Tiga golongan itu adalah sebagai
berikut: (1) Golongan cerdik-cendekia yang cinta kebenaran dan
dapat berpikir secara kritis, cepat dapat menangkap arti persoalan.
Mereka ini harus dipanggil dengan hikmah, yakni dengan alasanalasan
dan hujjah yang dapat diterima oleh kekuatan akal mereka. (2 )
golongan awam, yakni orang kebanyakan yang belum dapat berpikir
secara kritis dan mendalam, belum dapat menangkap pengertian -
pengertian yang tinggi-tinggi. Mereka ini dipanggil dengan mawizah
hasanah, dengan ajaran dan didikan yang baik-baik, dengan ajaranajaran
yang mudah dipahami; (3) golongan yang tingkat
kecerdasannya di antara kedua golongan tersebut di atas, yang belum
45 Lihat, H. Hamzah Ya'kub, op. cit., h. 33-34.
67
dapat dicapai dengan hikmah akan tetapi tidak akan sesuai pula bila
dilayani seperti golongan awam, mereka suka membahas sesuatu,
tetapi hanya dalam batas yang tertentu, tidak sanggup mendalam
benar. Mereka ini dipanggil dengan mujadalah bi allati hiya ahsan,
yakni dengan bertukar pikiran, guna mendorong agar berpikir secara
sehat.46
E. Materi Dakwah
Materi adalah isi pesan (message) yang disampaikan oleh
seorang subyek dakwah kepada mad'u. Materi dakwah yang
dimaksudkan di sini adalah ajaran Islam itu sendiri yang bersumber dari
Alquran dan sunnah. Oleh karena itu, panggilan terhadap materi
dakwah berarti panggilan terhadap Alquran dan hadis. Karena luasnya
ajaran Islam, maka setiap da'i tidak ada jalan lain harus selalu berusaha
dan tidak bosan mempelajari Alquran dan hadis.
Pada dasarnya Alquran itu sendiri merupakan dakwah yang
terkuat bagi pengembangan Islam karena Alquran mencakup cerita
orang-orang terdahulu dan syari'at-syari'at serta hukum-hukumnya. Di
dalamnya juga mencakup antropologi dan membicarakan tentang
46 Lihat, M. Natsir. op. cit., h. 162.
68
seruan untuk mengkaji alam semesta serta keimanan dan sisi kehidupan
umat manusia. Sementara itu, hadis Rasulullah Saw merupakan hikmah
petunjuk kebenaran. Oleh karenanya, materi dakwah Islam tidaklah
dapat terlepas dari kedua sumber tersebut, bahkan jika tidak
berpedoman dari keduanya (Alquran dan hadis) seluruh aktivitas
dakwah akan sia-sia dan dilarang oleh syari'at Islam.47
A. Hasymi menyatakan bahwa tidak dapat dipungkiri lagi
bahwa pedoman dasar dakwah islamiah, yaitu Alquran dan sunnah,
sebab jika tidak berpedoman kepada kedua sumber tersebut, maka
dakwah itu bukan dakwah islamiah lagi.48 Berpijak dari hal tersebut,
maka subyek dakwah perlu mendalami isi kandungan Alquran yang
ayat-ayatnya dibagi ke dalam bagian-bagian berikut:
(1) Ayat-ayat mengenai akidah, yang meliputi:
a) Iman kepada Allah
b) Iman kepada malaikat-Nya
c) Iman kepada kitab-Nya
d) Iman kepada Rasul-Nya
47 Abu Zahrah, op. cit., h. 75-77.
48 Lihat, A. Hasyimi, op. cit., h. 210.
69
e) Iman kepada hari akhir
f) Iman kepada qadha-qadar
(2) Ayat-ayat mengenai hukum yang melahirkan ilmu hukum Islam
antara lain:
a) Ibadah: Thaharah, shalat, zakat, puasa, haji
b) Muamalah (dalam arti luas) meliputi:
- Al-qunun al-khas (hukum perdata): muamalah (hukum
niaga), munakahat (hukum nikah), waratsah (hukum waris),
dan sebagainya.
- Al-qunun al 'am (hukum publik): jinayah (hukum pidana),
khilafah (hukum negara), jihad (hukum perang dan damai),
dan lain-lain.
(3) Akhlak, meliputi:
a) Akhlak terhadap khalik
b) Akhlak terhadap makhluk, meliputi:
- Akhlak terhadap manusia: diri sendiri, tetangga, masyarakat
lainnya.
- Akhlak terhadap selain manusia: flora, fauna, dan
sebagainya.49
49 Endang Syaifuddin Anshari, Wawasan Islam (Jakarta: Rajawali, 1996), h. 71.
70
Di samping itu Harun Nasution mengklasifikasikan isi
kandungan Alquran ke dalam bagian-bagian besar berikut:
1) Ayat-ayat mengenai dasar-dasar keyakinan
2) Ayat-ayat mengenai hukum yang melahirkanilmu hukum Islam
(fiqh)
3) Ayat-ayat mengenai pengabdian kepada Tuhan yang membawa
ketentuan-ketentuan ibadah dalam Islam
4) Ayat-ayat mengenai budi pekerti luhur yang melahirkan etika Islam
5) Ayat-ayat mengenai dekat dan rapatnya hubungan manusia dengan
Tuhan yang kemudian melahirkan mistisisme Islam
6) Ayat-ayat mengenai tanda-tanda dalam alam yang menunjukkan
adanya Tuhan yang membicarakan soal kejadian alam di sekitar
manusia. Ayat-ayat yang serupa ini menumbuhkan pemikiran
filosofis dalam Islam
7) Ayat-ayat mengenai hubungan golongan kaya dengan golongan
miskin, dan ini membawa pada ajaran-ajaran sosiologis dalam Islam
8) Ayat-ayat mengenai hubungan dengan sejarah, terutama mengenai
nabi-nabi dan umat mereka sebelum Nabi Muhammad Saw, dan
umat-umat lainnya yang hancur karena keangkuhan mereka. Dari
ayat-ayat ini dapat diambil pelajaran.50
50 Lihat, Harun Nasution, Islam Rasional; Gagasan dan Pemikiran (Cet. V; Bandung:
Mizan, 1998), h. 20.
71
Nabi Muhammad Saw di dalam berdakwah senantiasa
menjadikan Alquran sebagai materi inti. Beliau membawakan firman
Allah Swt dan menyampaikan pula penjelasannya. Hal ini dapat
diketahui melalui firman Allah Swt dalam QS. al-Nahl (16): 44.
( وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ( ٤٤
Terjemahnya:
Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan
kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mere ka
dan supaya mereka memikirkan.51
Ayat di atas menunjukkan peran Rasulullah Saw sebagai penjelas
terhadap firman-firman Allah Swt dan sekaligus menunjukkan fungsi
al-sunnah terhadap Alquran yang didefinisikan sebagai penjelas tentang
maksud Allah Swt52 karena tidak semua persoalan disebut dengan jelas
dan tegas oleh Alquran. Dengan demikian materi dakwah itu sendiri
sebagaimana yang ditegaskan oleh Alquran adalah berbentuk
pernyataan maupun pesan (risalah) Alquran dan sunnah. Karenanya,
Alquran dan sunnah itu sudah diyakini sebagai pedoman bagi setiap
tindakan kehidupan muslim, maka pesan-pesan dakwah juga meliputi
51 Departemen Agama RI, op. cit., h. 408.
52 Lihat, M. Quraish Shihab, Membumikan Alquran; Fungsi dan Peran Wahyu Dalam
Kehidupan Masyarakat (Cet. XIII; Bandung: Mizan, 1996), h. 122-123.
72
hampir semua bidang kehidupan itu sendiri. Dengan demikian yang
dimaksud materi dakwah menurut H. Toto Tasmara ialah semua
pernyataan yang bersumberkan Alquran dan sunnah baik tertulis
maupun lisan.53
Meskipun tetap diakui bahwa Alquran adalah sebagai all
encompassing the way of life, dan meliputi semua bidang kehidupan
manusia. H. Hamzah Ya'qub juga mengakui bahwa materi dakwah itu
luas sekali, namun pada pokoknya meliputi: 1) Akidah Islam, tauhid
dan keimanan 2) Pembentukan pribadi yang sempurna 3) Pembangunan
masyarakat yang adil dan makmur 4) Kemakmuran dan kesejahteraan
dunia dan akhirat.54
Dari uraian di atas, maka secara global materi dakwah itu dapat
diklasifikasikan menjadi tiga hal pokok, yaitu akidah, syari'ah, dan
akhlak.55
Jadi pada hakekatnya materi (isi) dakwah tetap yaitu seluruh
ajaran Islam yang tertuang dalam Alquran dan sunnah Rasulullah Saw.
53 Lihat, Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah (Cet. II; Jakarta: Gaya Media Pratama,
1997), h. 43.
54 H. Hamzah Ya'kub, op. cit., h. 30.
55 M. Quraish Shihab, Membumikan......h. 93.
73
Sedangkan pengembangannya akan mencakup kultur Islam yang murni
yang bersumber dari kedua sumber tersebut dengan memperhatikan
situasi dan kondisi masyarakat.
F. Metode Dakwah
Istilah metode berasal dari bahasa Yunani methodos, yang dalam
bahasa Inggris disebut method, yang berarti cara. Pengertian metode
oleh H. Abd. Muin Salim, ialah suatu rangkaian yang sistematis dan
merujuk kepada tata cara yang sudah dibina berdasarkan rencana yang
pasti, mapan dan logis pula.56
Di dalam melaksanakan suatu kegiatan dakwah diperlukan
metode penyampaian yang tepat agar tujuan dakwah tercapai. Metode
dalam kegiatan dakwah adalah suatu cara yang dipergunakan oleh
subyek dakwah dalam menyampaikan materi atau pesan-pesan dakwah
kepada obyek dakwah,57 atau biasa diartikan metode dakwah adalah
cara-cara yang dipergunakan oleh seorang da'i untuk menyampaikan
materi dakwah yaitu al-Islam atau serentetan kegiatan untuk mencapai
tujuan tertentu.
56 Abdul Muin Salim, Metodologi Tafsir; Sebuah Rekontruksi Epitemologi Memantapkan
Keberadaan Ilmu Tafsir Sebagai Disiplin Ilmu (Orasi Pengukuhan Guru Besar Dihadapan Rapat
Senat Luar Biasa IAIN Alauddin Makassar Tanggal 28 April 1999), h. 9 .
57 M. Bahri Ghazali, Dakwah Komunikatif Membangun Kerangka Dasar Ilmu
Komunikasi Dakwah (Cet. I; Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1997), h. 24.
74
Sementara itu dalam komunikasi, metode dakwah ini lebih
dikenal dengan approach, atau cara yang dilakukan oleh seorang da'i
atau komunikator untuk mencapai suatu tujuan tertentu atas dasar
hikmah dan kasih sayang.58
Metode dakwah adalah jalan atau cara yang dipakai juru dakwah
untuk menyampaikan materi dakwah (Islam). Dalam menyampaikan
suatu pesan dakwah, metode sangat penting peranannya. Suatu pesan
walaupun baik tetapi disampaikan melalui metode yang ti dak benar,
pesan itu bisa saja tidak diterima oleh si penerima pesan dalam hal ini
mad'u. Oleh karena itu, kejelian dan kebijakan juru dakwah dalam
memilih atau memakai metode sangat mempengaruhi kelancaran dan
keberhasilan dakwah.
Dalam Alquran banyak ayat yang mengungkap masalah dakwah,
namun ketika kita membahas tentang metode dakwah, pada umumnya
merujuk pada surah al-Nahl (16): 125.
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظ ةِ الْحَس نَةِ وَج ادِلْهُمْ ب الَّتِي ه يَ أَحْس نُ إِنَّ رَب ك ( هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ( ۱۲٥
Terjemahnya:
58 Toto Tasmara, loc. cit.
75
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang
siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.59
Ayat di atas memuat sandaran dasar dan fundamen pokok bagi
metode dakwah. Dalam ayat tersebut menawarkan tiga metode dakwah
yaitu: hikmah, mau'idzah al-hasanah dan mujadalah.
- Hikmah, yaitu berdakwah dengan memperhatikan situasi dan kondisi
sasaran dakwah dengan menitikberatkan pada kemampuan mereka,
sehingga di dalam menjalankan ajaran-ajaran Islam selanjutnya,
mereka tidak lagi merasa terpaksa atau keberatan.
- Mau'idzah al-hasanah, yaitu berdakwah dengan memberikan
nasehat-nasehat atau menyampaikan ajaran-ajaran Islam dengan rasa
kasih sayang, sehingga nasehat dan ajaran Islam yang disampaikan
itu dapat menyentuh hati mereka.
- Mujadalah, yaitu berdakwah dengan cara bertukar pikiran dan
membantah dengan cara yang sebaik-baiknya dengan tidak
memberikan tekanan-tekanan dan tidak pula dengan menjalankan
keinginan yang menjadi sasaran dakwah.60
59 Departemen Agama RI, op. cit., h. 241.
60 Marsekah Fatwa, Tafsir Dakwah (Surabaya: IAIN Sunan Ampel, 1978), h. 4-5.
76
Dari ketiga hal tersebut, lebih mengisyaratkan suatu tema tentang
karakteristik metode dakwah atau sifat dari metode dakwah.61
Sedangkan mengenai metode dakwah secara spesifik disebutkan dalam
hadis Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Muslim, yang artinya
"Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka h endaklah ia
merubahnya dengan tangan (kekuasaan)nya, apabila ia tidak sanggup
mengubah dengan tangan (kekuasaan), hendaklah ia ubah dengan
lisannya, apabila tidak sanggup mengubah dengan lisannya maka
hendaklah ia ubah dengan hatinya, dan itulah selemah -lemah iman.
Dari hadis di atas, ada tiga metode dakwah yang ditawarkan oleh
Nabi Muhammad Saw kepada para pelaku dakwah yang secara harfiah,
yaitu dengan tangan, dengan lisan, dan dengan hati. Dari ketiga metode
tersebut, harus dijiwai oleh tiga karakter yang disebutkan dalam surah
al-Nahl ayat 125 tersebut di atas.
Metode dakwah dengan menggunakan tangan dapat
diinterpretasikan sebagai metode dakwah bi al-kitabah karena banyak
melibatkan kerja tangan dalam pelaksanaannya. Metode dakwah dengan
61 Lihat, Muhammad Husain Fadullah, Uslub ad-Dakwah fi al-Quran , Diterjemahkan
oleh Tarmana Ahmad Qasim, dengan judul Metodologi Dakwah Dalam Alquran Pegangan Bagi
Aktifis (Cet. I; Jakarta: Lentera, 1997), h. 46.
77
menggunakan lidah (lisan) dapat diinterpretasikan sebagai metode
dakwah bi al-lisan. Sedangkan metode dakwah dengan menggunakan
hati dapat diinterpretasikan sebagai metode dakwah bi al-hal.62
Dari hadis Nabi di atas, kita dapat mengambil suatu kesimpulan
bahwa metode dakwah yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad
Saw pada awal penyebaran Islam masih relevan untuk digunakan dalam
dakwah masa kini, meskipun pada tataran aplikasinya harus disesuaikan
dengan kondisi obyek yang dihadapi.
Ketika pembawa dakwah berangkat ke gelanggang dakwah sudah
barang tentu ia akan berhadapan dengan bermacam-macam paham dan
pegangan tradisional yang sudah berurat berakar dan juga tingkat
kecerdasannya yang berbeda-beda. Menurut M. Natsir, masing-masing
jenis itu harus dihadapi dengan cara yang sepadan dengan tingkat
kecerdasan mereka.63 Oleh karena itu, seorang da'i harus pandai-pandai
melihat situasi dan kondisi, dengan siapakah dia berhadapan dan
bagaimana pula tingkat kecerdasan umat, agar sasaran dakwah dapat
tercapai dengan baik.
62 Lihat, Wardi Bachtiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah (Cet. I; Jakarta: Logos
Wacana Ilmu, 1997), h. 34.
63 Lihat, M. Natsir. op. cit., h. 161.
78
Metode dakwah merupakan bentuk penyampaiannya dapat
dibagi menjadi lima kelompok besar, yiatu: (1) Lisan, dalam bentuk ini
termasuk khutbah, pidato, ceramah, kuliah, diskusi, seminar,
musyawarah, nasehat, pidato-pidato radio, ramah tamah dalam
anjangsana, dan obrolan. (2) Tulisan, termasuk dalam bentuk ini adalah
buku-buku, majalah-majalah, surat, koran, buletin, risalah, kuliahkuliah
tertulis, pamplet, pengumuman-pengumuman tertulis, spandukspanduk.
(3) Lukisan, yakni gambar-gambar, hasil seni lukis, foto,
komik-komik bergambar. (4) Audio visual, yaitu suatu cara
penyampaian yang sekaligus merangsang penglihatan dan pandangan,
seperti sandiwara, ketoprak wayang. (5) Akhlak, yaitu suatu cara /
penyampaian langsung ditujukan dalam bentuk perbuatan yang nyata ,
umpamanya menjenguk orang sakit, silaturahim, pembangunan mesjid
dan sekolah, poliklinik, kebersihan, pertanian, peternakan dan
sebagainya.64
Menurut M. Bahri Ghazali bahwa metode dakwah yang efektif
terbagi atas 6 yaitu: 1) Metode kuliah atau ceramah; 2 ) Metode tanya
jawab; 3) Metode seminar/diskusi; 4) Metode karyawisata (kunjungan
kerja); 5) Metode kerja lapangan; 6) Metode pemberian bantuan
sosial.65
64 H. Hamzah Yakub, op. cit., h. 47-48.
65 M. Bahri Ghazali, op. cit., h. 24-25.
79
Asmuni Syukir membagi metode dakwah menjadi 8 bagian yaitu:
1) Metode ceramah; 2) Metode tanya jawab; 3) Debat; 4) Percakapan
antar pribadi; 5) Metode demonstrasi; 6) Metode dakwah Rasulullah
Saw; 7) Pendidikan agama; 8) Mengunjungi rumah (silaturahim).66
Dari berbagai metode dakwah yang dikemukakan oleh para ahli,
secara global dapat dibagi tiga yakni:
1. Dakwah bi al-kitabah, yaitu berupa buku, majalah, surat, koran,
spanduk, pamplet, lukisan-lukisan dan sebagainya.
2. Dakwah bi al-lisan, meliputi ceramah, seminar, simposium,
khutbah, sarasehan, brain starming, obrolan, dan sebagainya.
3. Dakwah bi al-hal, yaitu berupa prilaku yang sopan sesuai dengan
ajaran Islam, memelihara lingkungan, tolong menolong sesama,
misalnya; membantu fakir miskin, memberikan pelayanan sosial.67
Perlu dipahami bahwa metode tidak lebih dari sekedar alat atau jalan
untuk mencapai tujuan, maka janganlah terpaku pada satu metode sebab
yang namanya metode tidak mutlak benar dan tidak pula merupakan
jaminan seratus persen sukses. Pada dasarnya metode ini tergantung
66 Asmuni Syukir, op. cit., h. 104-160
67 Wardi Bachtiar, op. cit., h. 34-35. Lihat juga, M. Quraish Shihab, op. cit., h. 194-195.
80
pada situasi dan kondisi. Tidak semua tempat dan waktu bisa dipakai.
Di satu tempat kita bisa sukses, di tempat lain belum tentu. Oleh
karenanya, jika situasi sudah lain dan kondisi sudah berubah, mau tidak
mau metode yang akan dipergunakan harus pula lain.
G. Media Dakwah
Istilah media berasal dari bahasa Latin yaitu "median" yang
berarti alat perantara.68 Secara semantik media adalah segala sesuatu
yang dapat dijadikan sebagai alat (perantara) untuk mencapai suatu
tujuan tertentu.69
Media adalah suatu alat atau sarana yang digunakan untuk
menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak. Media yang
paling dominan dalam berkomunikasi adalah panca indera. Pesan yang
diterima oleh panca indera selanjutnya diproses dalam pikiran manusia,
untuk mengontrol dan menentukan sikapnya terhadap sesuatu sebelum
dinyatakan dalam tindakan.70
68 Asmuni Syukir, op. cit., h. 163.
69 Ibid.
70 Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi (Cet. I; Jakarta: Raja Grafindo Persada,
1998), h. 131.
81
Dengan demikian media dakwah adalah segala sesuatu yang
dapat dipergunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan dakwah yang
telah ditentukan. Media dakwah bisa berupa barang (material), orang,
tempat, kondisi tertentu, dan sebagainya. Sedangkan menurut Anwar
Arifin dalam bukunya Strategi Komunikasi; Sebuah Pengantar
Ringkas, bahwa alat-alat menyampaikan jiwa manusia yang dikenal
hingga dewasa ini adalah:
1. The spoken word (yang berbentuk ucapan)
2. The printed writing (yang berbentuk tulisan)
3) The audiovisual media (yang berbentuk gambar hidup)71
Dalam arti sempit media dakwah adalah sebagai alat bantu yang
dalam istilah proses belajar mengajar disebut alat peraga. Sebuah alat
bantu, berarti media memiliki peranan atau kedudukan sebagai
penunjang tercapainya tujuan. Nurudin dalam sistem komunikasi
Indonesia dikatakan bahwa media dapat menjalankan fungsi untuk
mempengaruhi sikap dan prilaku masyarakat. Melalui media
masyarakat dapat menghargai atau menolak kebijakan pemerintah.
71 Anwar Arifin, Strategi Komunikasi Sebuah Pengantar Ringkas (Cet. III; Bandung:
Armico, 1994), h. 24.
82
Lewat media pula berarti inovasi atau pembaruan bisa dilakukan oleh
masyarakat. Dengan kata lain, media adalah perpanjangan dan
perluasan dari kemampuan jasmani dan rohani manusia. Berbagai
keinginan, aspirasi, pendapat, sikap perasaan manusia bisa
disebarluaskan melalui media. Sosialisasi kebijakan tentang devaluasi
mata uang rupiah atau kenaikan tunjangan gaji PNS yang perlu
diketahui secara cepat oleh masyarakat, tidak perlu dilakukan dengan
komunikasi tatap muka. Pemerintah cukup melakukan press release ke
media. Sehingga dalam waktu singkat informasi itu akan tersebar luas
ke tengah masyarakat.72 Dengan demikian media dakwah juga
merupakan alat obyektif yang menjadi saluran, yang menghubungkan
idea dengan umat. Media dakwah merupakan urat nadi di dalam proses
dakwah dan merupakan faktor yang dapat menentukan dan menetralisir
proses dakwah.
Astrid S. Susanto menyatakan bahwa media adalah saluransaluran
yang digunakan dalam proses pengoperan lambang -lambang.73
Dengan menggunakan media dalam kegiatan dakwah mengakibatkan
72 Nurudin, Sistem Komunikasi Indonesia (Cet. I; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004),
h. 69-70.
73 Astrid S. Susanto, Komunikasi Teori dan Praktek (Bandung: Bina Cipta, 1974), h. 33.
83
komunikasi antara da'i dan mad'u atau sasaran dakwahnya akan lebih
dekat dan mudah diterima. Oleh karena itu, media dakwah sangat erat
kaitannya dengan kondisi sasaran dakwah, artinya keragaman alat
dakwah harus sesuai dengan kondisi sasaran dakwah (mad'u)nya.
Kepentingan dakwah terhadap adanya alat atau media yang tepat
dalam berdakwah sangat urgen sekali karena media adalah saluran yang
dipergunakan di dalam proses pengoperan materi, sehingga dapat
dikatakan bahwa dengan media, materi dakwah akan mudah diterima
oleh komunikan (mad'u)nya. Dengan menggunakan media dakwah,
memerlukan kesesuaian dengan bakat dan kemampuan da'inya, artinya
penerapan media dakwah harus didukung oleh potensi da'i. 74
Dalam hubungannya dengan penggunaan media pada proses
dakwah dibagi atas dua bagian:
Pertama, proses dakwah secara primer yang merupakan proses
penyampaian materi dakwah dari da'i kepada mad'u dengan
menggunakan lambang (simbol), misalnya bahasa sebagai media
pertama yang dapat menghubungkan antara komunikator dan
komunikan, yang dalam bahasa komunikasi disebut publik.75
74 M. Bahri Ghazali, op. cit., h. 12.
75 Hafied Changara, op. cit., h. 134.
84
Kedua, proses dakwah secara sekunder yang merupakan proses
penyampaian pesan oleh subyek dakwah kepada obyek dakwah dengan
menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai
lambang (bahasa)76. Dalam istilah komunikasi biasa disebut media
massa.77
Media dakwah melalui bahasa dilakukan dengan bahasa lisan
maupun tulisan, yang termasuk bahasa lisan adalah pidato, khutbah,
pengajian, diskusi, dan sebagainya. Sedangkan yang termasuk tulisan
adalah majalah, surat kabar, buku-buku, spanduk, dan sebagainya.78
A. Muis dalam Komunikasi Islam menyatakan bahwa kitab-kitab
suci agama samawi adalah sebuah bentuk media massa, prosesnya
adalah muncul ulama-ulama dan pakar-pakar agama yang memahami
kitab suci itu, lalu diteruskan kepada murid-muridnya, dan dari muridmuridnya
itu pesan-pesan agama diteruskan kepada masyarakat luas.79
Dalam menyampaikan pesan-pesan agama tersebut (dakwah) melalui
76 Onong Uchyana Effendy, Ilmu Teori dan Falsafat Komunikasi (Cet. II; Bandung: Citra
Aditya Bakti, 2000), h. 11-17.
77 Hafied Changara, loc. cit.
78 Hasanuddin, Hukum Dakwah Tinjauan Aspek Hukum Dalam Berdakwah di Indonesia
(Cet. I; Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), h. 42-43.
79 A. Muis, Komunikasi Islami (Cet. I; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), h. 180.
85
sarana bahasa yang dalam ilmu komunikasi disebut komunikasi
verbal,80 maka untuk meneruskan pesan kepada obyek dakwah dapat
menggunakan media sekunder seperti surat, telepon, surat kabar,
majalah, radio, televisi, dan lain-lain.
Penggunaan media sekunder ini untuk menyambung atau
menyebarkan pesan dakwah yang menggunakan bahasa verbal tersebut
kepada obyek yang sulit dijangkau, baik karena jaraknya yang relatif
jauh maupun jumlahnya yang banyak.
Di dalam Alquran pada surah Ibrahim (14) ayat 4 Allah Swt
berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَا م نْ رَس ولٍ إِل ا بِلِس انِ قَوْم هِ لِيُب يِّنَ لَه مْ فَيُض لُّ الل هُ م نْ يَش اءُ وَيَه دِي م نْ
( يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ( ٤
Terjemahnya:
Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa
kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang
kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia
kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia
kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha
Bijaksana.81
80 Djamalul Abidin Ass, Komunikasi dan Bahasa Dakwah (Cet. I; Jakarta: Gema Insani
Press, 1996), h. 41.
81 Departemen Agama RI., op. cit., h. 379.
86
Ayat tersebut di atas memberi isyarat tentang pentingnya pelaku
dakwah menguasai bahasa, karena bahasa adalah media komunikasi
untuk menyampaikan materi dakwah kepada mad'u (obyek dakwah),
dan yang paling penting adalah berdakwah yang sesuai dengan bahasa
masyarakat yang menjadi obyek dakwah.
Media dakwah bila dilihat dari instrumennya, Slamet Muhaimin
Abda membagi empat sifat:
1) Media Visual, yaitu alat yang dapat dioperasikan untuk kepentingan
dakwah dengan melalui indera penglihatan seperti film, slide,
transparansi, overhead projektor, gambar, photo, dan lain-lain.
2) Media auditif yaitu alat-alat yang dapat dioperasikan sebagai sarana
penunjang dakwah yang dapat ditangkap melalui indera
pendengaran, seperti radio, tape recorder, telepon, telegram dan
sebagainya.
3) Media audio visual yaitu alat-alat dakwah yang dapat didengar juga
sekaligus dapat dilihat seperti movie film, televisi, video dan
sebagainya.
87
4) Media cetak yaitu cetakan dalam bentuk tulisan dan gambar sebagai
pelengkap informasi tulis, seperti: buku, surat kabar, majalah
buletin, booklet, leaflet dan sebagainya.82
Media dakwah dapat berfungsi sebagaimana mestinya apabila
dilandasi dengan prinsip-prinsip penggunaannya. Adapun prinsipprinsip
yang penting dipertimbangkan berkaitan dengan penelitian
media massa yang akan digunakan, baik media yang sifatnya primer
maupun sekunder yaitu: 1) Disesuaikan dengan tujuan dakwah yang
hendak dicapai. 2) Media yang dipakai atau dipilih sesuai dengan
kemampuan sasaran dakwahnya. 3) Media yang dipilih sesuai dengan
sifat materi dakwah yang akan disampaikan. 4) Pemilihan media
hendaknya dilakukan dengan cara obyektif, artinya pemilihan media
bukan atas dasar kesukaan da'i dan harus pula disesuaikan dengan
tingkat kemampuan da'i terhadap media yang digunakan. 5)
Disesuaikan dengan ketersediaan media dan biaya untuk pengadaannya.
6) Setiap hendak menggunakan media harus benar-benar dipersiapkan
dan atau diperkirakan apa yang dilakukan sebelum, selama dan
sesudahnya.
82 Slamet Muhaimin Abda, Prinsip-Prinsip Metodologi Dakwah (Cet. I; Surabaya: Al-
Ikhlas, 1994), h. 89-99.
88
Dengan adanya media dakwah yang beraneka ragam
sebagaimana disebutkan diatas merupakan tanda yan menunjukkan
bahwa seorang da'i dapat memilih media mana yang cocok dengan
kegiatan dakwah yang mereka lakukan dengan memperlihatkan prinsip -
prinsip media sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
Begitu pentingnya penguasaan media massa sebagai hasil
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga gerakan dakwah
semakin lancar dan semakin luas serta kesempatan untuk
menyampaikan dan menerima dakwah sangat besar sebab kegiatan
tersebut bisa saja dilakukan oleh lembaga-lembaga dakwah, lembaga
pendidikan, ataupun perorangan. Dengan demikian dapat dipahami
bahwa media sangat besar peranannya dalam penyebaran atau
penyampaian informasi tentang ajaran agama Islam.
Dengan menggunakan media, kegiatan dakwah dapat
berlangsung kapan dan dimana saja, tanpa mengenal batas dan tempat,
serta dapat diterima dengan baik oleh semua kalangan usia kanak -
kanak, remaja hingga orang tua, rakyat biasa hingga pejabat
pemerintah, miskin, kaya, petani, pedagang, dan sebagainya.
89
H. Implikasi Dakwah (Efek Dakwah)
Pengaruh dan efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan,
dirasakan dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima
pesan dari komunikator.83
Dapat dipahami bahwa bentuk konkrit efek dakwah dapat dilihat
dari apakah suatu proses komunikator dapat sampai dan d iterima
komunikan, sehingga mengakibatkan efek atau perubahan perilaku
komunikan.84 Perubahan perilaku tersebut meliputi aspek-aspek
pengetahuan sikap dan perbuatan komunikan yang mengarah atau
mendekati tujuan yang ingin dicapai proses komunikan.
Berkenaan dengan ketiga aspek tersebut, Jalaluddin Rahmat
menyatakan bahwa:
Efek kognitif terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui,
dipahami, atau dipersepsi khalayak setelah menerima pesan dakwah
melalui proses berfikir.85
83 Hafied Changara, op. cit., h. 26.
84 Anwar Arifin, op. cit., h. 45.
85 Jalaluddin Rahmat, Retorika Modern, Sebuah Kerangka Teori dan Praktek Berpidato
(Bandung: Akademika, 1982), h. 269.
90
Berpikir disini menunjukkan sebagai kegiatan yang melibatkan
penggunaan konsep dan lambang, sebagai pengganti obyek dan
peristiwa. Sedang kegunaan berpikir adalah untuk memahami realitas
dalam rangka mengambil keputusan memecahkan masalah dan
menghasilkan karya baru.86 Jadi dengan menerima pesan melalui
kegiatan dakwah, diharapkan akan dapat mengubah cara berpikir
seorang tentang ajaran agama sesuai dengan pemahaman yang
sebenarnya seseorang dapat paham atau mengerti setelah melalui proses
berpikir.
Efek Efektif timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan,
disenangi, atau dibenci khalayak, yang meliputi segala yang
berhubungan dengan emosi, sikap serta nilai setelah menerima pesan
dari komunikator (da'i). Pada tahap ini penerima pesan dakwah dengan
pengertian dan pemikirannya terhadap pesan dakwah yang diterimanya
akan membuat keputusan untuk menerima atau menolak pesan
dakwah.87
86 Ibid., h. 86.
87 Ibid., h. 269.
91
Efek Behavioral ini muncul setelah melalui proses kognitif dan
efektif, ini merupakan suatu bentuk efek dakwah yang merujuk pada
prilaku nyata yang dapat diamati, yang meliputi pola-pola tindakan,
kegiatan, atau kebiasaan berprilaku yang telah diterima dalam
kehidupan sehari-hari.88 Hal senada diungkapkan oleh Rahmat
Natarojaya, bahwa tingkah laku itu dipengaruhi oleh kognitif yaitu
faktor-faktor yang dipahami oleh invidual melalui pengamatan dan
tanggapan, efektif yaitu yang dirasakan oleh individual melalui
tanggapan dan pengamatan dan dari perasaan itulah muncul keinginan -
keinginan dalam individual yan bersangkutan. 89 Kaitannya dengan
dakwah, maka efek dakwah tercermin pada sejauhmana obyek dakwah
mengalami perubahan, dalam hal makin benar dan lengkapnya aqidah,
akhlak, ibadah dan muamalahnya, sementara pada tingkat masyarakat,
pengaruhnya tercermin pada iklim sosial yang makin memancarkan
syi'ar Islam.90
Onong Uchjana Effendy membagi tiga efek antara lain:
88 Ibid.
89 Rahman Natawijaya, Memahami Tingkah Laku Sosial (Bandung: Firma Hasmar, 1978),
h. 9.
90 Abdul Munir Mulkhan, Ideologisasi Gerakan Dakwah; Episode Kehidupan M. Natsir
dan Azhar Basyir (Cet. I; Yogyakarta: Sipress, 1996), h. 206-207.
92
1).Efek dalam bentuk responsive
2).Efek dalam bentuk Feed back
3).Efek dalam bentuk noise
Responsive berarti obyek dakwah atau komunikan dalam istilah
komunikasi, secara positif ikut serta atau bersedia melaksanakan
(menerima) materi (pesan) yang disampaikan oleh da'i (komunikator)
kepadanya.
Feed back, adalah arus balik, yakni umpan balik atau tanggapan
balik dari obyek dakwah (komunikan) sebagai penerima pesan terhadap
pesan yang diterimanya apabila tersampaikan atau disampaikan kepada
subyek dakwah sebagai sumber pesan (da'i).
Noise, yaitu gangguan tak terencana yang terjadi ketika proses
dakwah dilancarkan sebagai akibat diterimanya pesan lain oleh mad'u
(obyek dakwah) yang berbeda dengan pesan yang disampaikan oleh da'i
kepadanya.91
Jadi ada tiga kemungkinan efek yang terjadi pada penerima pesan
antara lain: pertama obyek menerima atau mau melaksanakan sesuai
dengan keinginan subyek dakwah sehingga yang terjadi kemudian
91 Onong Uchyana Effendy, op. cit., h. 19.
93
adalah perubahan pendapat, perubahan sikap, perubahan perilaku,
perubahan sosial. Kedua reaksi yang ditunjukkan oleh obyek dakwah
yang kritis terhadap pesan yang diterimanya dan tidak mudah merespon
begitu saja akan tetapi melakukan proses terlebih dahulu terhadap pesan
yang disampaikan sebelum harus menerima dan melaksanakannya.
Ketiga obyek dakwah (komunikan) sebagai penerima pesan bersikap
ragu-ragu untuk menerima dan melaksanakan pesan yang disampaikan
oleh da'i sebagai akibat dari adanya pesan lain yang diterimanya.
Da'i harus memperhitungkan tentang efek apa yang timbul
setelah materi (pesan) dilontarkan kepada mad'u. Di sinilah pentingnya
seorang da'i menguasai psikologi dakwah. Bagi seorang da'i psikologi
dakwah dapa membantu membedah suasana bathin dari individu atau
masyarakat yang menjadi obyek dakwahnya, dapat membantu
memprediksi perilaku jamaah yang dengan prediksi itu ia menyusun
desain acara atau desain program, serta dapat menyusun rumusan.92
H.M. Arifin mengatakan bahwa antara output dengan input
terjadi interaksi yang disebut feed back (umpan balik) sebagai
92 Zakiah Darajat, "Kata Pengantar" dalam Ahmad Mubarok, Psikologi Dakwah (Cet. I;
Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), h. ix.
94
pengoreksi lebih lanjut terhadap bahan input yang dimasukkan kedalam
proses-proses penerimaan manusia. Bila output tidak sesuai dengan
input, maka perlu dilakukan perbaikan-perbaikan lebih lanjut. Kalau
output sudah tepat atau sudah benar sesuai dengan input maka itu perlu
diteruskan dan dikembangkan.93
Berdasarkan uraian diatas maka ada beberapa hal yang
diharapkan terjadi perubahan pada obyek dakwah yaitu:
1. Terbentuknya pribadi muslim yang mempunyai iman yang kuat,
tertanamnya suatu akidah yang mantap disetiap hati seseorang
sehingga keyakinan tentang ajaran Islam tidak lagi dicampuri
dengan rasa keragu-raguan. Untuk mengetahui kondisi ini dapat
dilihat melalui perbuatannya sehari-hari sebab amal perbuatanlah
yang membuktikan keadaan Iman seseorang.94
2. Terbentuknya masyarakat sejahtera yang penuh dengan suasana
keIslaman yaitu suatu masyarakat yang anggota-anggotanya
mematuhi peraturan-peraturan yang disyari'atkan oleh Allah Swt.
93 H. M. Arifin, op. cit., h. 18.
94 Hamka Haq, Dialog Pemikiran Islam (Tradisionalisme, Rasionelisme dan Empirisme
Dalam Teologi, Fisafat dan Ushul Fiqh) (Ujung Pandang: Yayasan Ahkam, 1995), h. 45. Lihat
juga Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-aliran, Sejarah Analisa Perbandingan (Cet. V; Jakarta:
Press, 1986), h. 147.
95
Realisasinya dapat dilihat melalui adanya kepatuhan terhadap
hukum-hukum yang telah disyariatkan oleh Allah Swt, misalnya dari
yang tidak melakukan shalat menjadi orang yang rajin melakukan
shalat, dari orang yang tidak patuh kepada peraturan -peraturan
agama Islam menjadi patuh terhadap peraturan tersebut dan lainlain
sebagainya.
3. Diharapkan terbentuknya keluarga bahagia, penuh ketentraman dan
cinta kasih antara anggota masyarakat (sakinah).
4. Terbentuknya masyarakat yang berakhlakul karimah, yaitu
masyarakat yang berbudi luhur, pribadi-pribadi muslim, dihiasi
dengan sifat-sifat terpuji.
Jika perubahan-perubahan tersebut di atas diharapkan pada
remaja, maka realisasinya dapat dilihat dari beberapa hal:
1. Bagaimana hubungan dia dengan Tuhannya, misalnya menjadikan
dirinya sebagai hamba Allah Swt yang setia dan tulus dan tidak
menghambakan dirinya kepada hawa nafsunya atau kepada selain
Allah Swt.
2. Bagaimana hubungan dia dengan dirinya, misalnya dengan
menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yang terpuji, seperti jujur,
96
berani, mau memelihara kesehatan jasmani dan rohaninya, rajin
belajar dan penuh disiplin.
3. Hubungan dia dengan sesama muslim, yaitu mencintai sesama
muslim sebagaimana mencintai dirinya sendiri
4. Hubungan dia dengan yaitu tolong-menolong, hormat menghormati,
dan memelihara kedamaian bersama.
5. Hubungan dia dengan alam sekelilingnya dalam kehidupan ini, yaitu
dengan memelihara kelestarian alam semesta dan
mempergunakannya untuk kepentingan umat manusia sebagai bukti
kebaktiannya kepada Allah Swt sebagai pencipta alam semesta.95
Jika dakwah telah dapat menyentuh aspek-aspek perubahan
tersebut di atas yang dapat mendorong manusia melakukan secara
nyata ajaran-ajaran Islam yang telah dipesankan dalam dakwah, maka
dakwah dapat dikatakan berhasil dengan baik. Sehingga dapat
membentuk masyarakat penuh dengan kedamaian dan ketenangan
dengan tegaknya keadilan, saling tolong menolong dan saling hormat
menghormati sehingga semua orang (masyarakat) pada umumnya dan
95 H. M. Mansyur Amin, Dakwah Islam Dan Pesan Moral (Cet. I; Yogyakarta: al-Amin
Press, 1997), h. 18.
97
remaja pada khususnya dapat menikmati Islam sebagai rahmatan li al -
alamin. Dengan demikian, terwujudlah kebahagiaan dan kesejahteraan
lahir batin baik di dunia maupun di akhirat. Kesemuanya ini merupakan
implikasi (efek) tujuan akhir dari upaya dakwah.
I. Dana Dakwah
Yang menjadi problema dalam dakwah adalah masalah dana dan
ini sangat menentukan sekali terhadap kelancaran dakwah. Tampaknya
menjadi juru dakwah memang enak, ke mana kita pergi dihormati
orang, pergi dijemput pulang diantar. Bahkan diberi amplop semacam
uang jasa, yang populer dengan istilah pengganti uang transport. Ini
berlaku di mana-mana terutama di kota-kota besar yang masyarakatnya
sudah maju, sudah mulai mencintai agama. Tetapi kondisi seperti ini
hanya berjalan di saat butuh. Jamaah masa bodoh terhadap apa yang
yang akan dialami oleh juru dakwah. Jama’ah tahunya menuntut
ceramah yang baik, dan materi yang bagus tanpa harus memperhatikan
kehidupan keluarga para juru dakwah yang terpaksa tidak makan
dikarenakan kekurangan beras. Buya Hamka mengemukakan seperti
yang dikutip oleh Basrah Lubis bahwa sukses berpidato orang bertepuk ,
98
lapar anakmu tanggungkan seorang, jika hutangmu telah bertumpuk,
jangan harap bantuan orang.96
Ungkapan Buya Hamka di atas perlu dijadikan kajian bersama,
bagaimana sebaiknya tentang kesejahteraan mubalig ini, sebab
disamping susahnya mencari pekerjaan yang sesuai dengan latar
belakang pendidikannya, juga akan menjadi masalah lagi jika dakwah
dilaksanakan hanya sambil lalu (amatiran). Jika dakwah sambil lalu,
maka hasilnya pun tidak seperti yang diharapkan. Akhirnya materi
ceramah berputar dari situ ke situ saja. Kenapa hal ini terjadi ? karena
mubalig sudah kehabisan bahan, disebabkan mubalig tidak punya waktu
untuk menambah ilmunya, untuk menimba dan menggali agama lebih
dalam lagi. Sebab waktunya tersita oleh pekerjaan sehari-hari untuk
menutupi kebutuhan keluarganya, dan sisa-sisa waktunya digunakan
untuk berdakwah. Ini ada benarnya karena dengan jalan ini mubalig
tidak lagi menggantungkan hidupnya pada amplop yang diberikan oleh
jama’ah.
Timbul pertanyaan, apakah secara mutlak seorang da’i tidak
boleh menerima imbalan sama sekali dari obyek dakwah ? Dalam hal
96 Basrah Lubis, Pengantar Ilmu Dakwah (Semarang: Tursina, 1996), h. 88.
99
ini terdapat tiga kelompok pandangan ulama, sebagaimana yang
diungkapkan oleh Iftitah Jafar yaitu: kelompok pertama, terdiri dari
ulama mazhab Hanafi dan lain-lain berpendapat bahwa imbalan tersebut
haram, baik ada perjanjian sebelumnya ataupun tidak. Kelompok kedua,
terdiri atas Imam Malik bin Anas, Imam Syafi’i dan lain-lain
memandang boleh baik didahului perjanjian atau tidak. Kelompok
ketiga, terdiri atas al-Hasan al-Bashri, al-Sya’bi, Ibn Sirrin dan lain-lain
menekankan bahwa kalau ada perjanjian sebelumnya untuk memungut
imbalan maka hukumnya haram. Akan tetapi jika tidak ada perjanjian
sebelumnya kemudian penceramah diberi imbalan, maka hal itu
hukumnya boleh.97
Terlepas dari setuju atau tidaknya dari ketiga kelompok di atas,
Muh Natsir menyatakan sebagaimana dikutip oleh Iftitah Jafar bahwa
pemberian dari penerima (obyek dakwah) dapat diterima karena itu
merupakan wujud partisipasi masyarakat (jamaah) dalam kewajiban
dakwah, agar dakwah tetap berkesinambungan.98
97 Iftitah Jafar, Tafsir Ayat Dakwah; Pesan Metode dan Prinsip Dakwah Inklusif
(Makassar: Berkah Utami, 2001), h. 161.
98 Ibid.
100
Pada zaman sekarang ini, pelaksanaan dakwah harus ditangani
secara profesional. Harus dengan perencanaan dan konsep yang matang.
Harus ada anggaran khusus dan manajemen yang baik, kalau tidak,
dakwah akan ketinggalan kereta. Dan yang lebih penting lagi adalah
fasilitas yang memadai. Suatu pengalaman yang amat menyedihkan jika
kita bandingkan dengan lembaga misi agama lain yang sudah
melengkapi dirinya dengan fasilitas, sehingga para missionaris mereka
dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, tenang dan penuh
konsentrasi. Fasilitas itu sangat menentukan wibawa mubalig. Mubaligmubalig
di zaman Nabi dan sahabat sudah terbiasa dengan kendaraan
onta dan kuda, fasilitas yang sudah sangat lux waktu itu, yang jika
dianalogikan zaman kita sekarang sama dengan kendaraan sedan
mewah. Bagaimana mungkin para mubalig itu menanamkan keyakinan
kepada umat (audience) untuk membangun dunia dan akhirat jika
kehidupan sehari-hari para mubalig sangat menyedihkan, seolah-olah
Islam adalah agama kemiskinan dan cocok untuk orang miskin.99 Tidak
seperti agama lain dimana mereka menghormati dan menjunjung tinggi
99 Hamka Haq, Pengembangan Lembaga dan Strategi Dakwah (makalah) disampaikan
pada seminar sehari regional tentang dakwah diselenggarakan oleh Fakultas Dakwah IAIN
Alauddin Makassar, tanggal 21 Maret 1996.
101
pemimpin agamanya. Segala kebutuhannya mereka jamin, dilengkap
dengan alat transportasi dan segala macamnya.
Disadari bahwa masalah dana sangat penting dalam
melaksanakan dakwah sehingga pelaksanaannya dapat ditangani secara
lebih profesional. Yang terpenting adalah bagaimana menggali dana
dan mengelolanya untuk keperluan dakwah, seharusnya ada badan atau
organisasi yang khusus menangani dan bertanggungj awab terhadap
logistik dakwah,100 yang disebut juga biro logistik yang berfungsi
mengusahakan dan menyediakan biaya dan fasilitas yang diperlukan
oleh penyelenggara dakwah, mengatur penggunaannya seefektif
mungkin dan mengurusnya dengan setertib-tertibnya.
Berdasarkan fungsi tersebut maka dapat dirumuskan tugas -tugas
sebagai berikut: 1) Mengusahakan dan menggali dana dari berbagai
sumber secara sah dan halal, diantaranya dari masyarakat yaitu dengan
jalan mengumpulkan beberapa orang dermawan muslim khusus un tuk
berinfak untuk kegiatan dakwah, dari setiap perusahaan atau
departemen harus memasukkan dana dakwah dalam anggaran belanja
atau biaya pengeluaran perusahaan atau departemen, dan lain -lain. 2)
100 Slamet Muhaimin Abda, op. cit., h. 55.
102
Mengatur penggunaan dana dan fasilitas dengan teliti dan se cermat
mungkin, jauh dari pemborosan, mendahulukan keperluan yang lebih
penting. 3) Mengurus dana dan fasilitas yang ada sehingga terjamin
keawetan dan keselamatannya.101 Baik pengelola dan pengumpul dana
dakwah ini sebaiknya dari badan resmi (pemerintah) dengan
memasukkan unsur-unsur pemuka masyarakat (ulama) di dalamnya.
101 Abd. Rosyad Saleh, op. cit., h. 88.
BAB III
PROBLEMATIKA REMAJA
A. Pengertian Remaja Dan Batasannya
1. Pengertian remaja
Istilah remaja berasal dari bahasa Latin yaitu adolescere yang
artinya tumbuh untuk mencapai kematangan. Istilah ini mengalami
perkembangan arti yang lebih luas, mencakup kematangan mental,
emosional, sosial dan fisik.1 Istilah remaja juga biasa disebut masa
pubertas. A.W. Roat mengemukakan seperti yang dikutip oleh
Elizabeth B. Herylook, bahwa masa pubertas adalah suatu tahap di
dalam perkembangan dimana terjadi kematangan alat-alat seksual dan
tercapai kemampuan reproduksinya. Tahap ini disertai perubahan -
perubahan dalam pertumbuhan somatis dan perspektif psikologis. 2
Secara psikologis masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi
dengan masyarakat dewasa, dimana anak tidak lagi di bawah tingkatan
orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang
1 Muhammad Ali dan Muhammad Asrori, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik
(Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara, 2004), h. 9.
2 Elizabeth B. Herlock, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Penting Kehidu pan,
Edisi V (Jakarta: Erlangga, 1991), h. 184.
103
104
sama. Transformasi intelektual yang khas, cara berpikir remaja ini
memungkinkannya untuk mencapai integritas dalam hubungan sosial
orang dewasa yang kenyataanya merupakan ciri khas yang umum dari
periode puber ini.3
Zakiah Darajat berpendapat, masa remaja adalah masa peralihan
yang ditempuh oleh seseorang dari kanak-kanak menuju dewasa atau
masa remaja adalah perpanjangan masa kanak-kanak sebelum mencapai
masa dewasa, dimana seseorang belum dapat hidup sendiri, belum
matang dari segala segi, tubuh masih kecil, organ-organ belum dapat
menjalankan fungsinya secara sempurna, kecerdasan, emosi dan
hubungan sosial belum selesai pertumbuhannya. Hidupnya masih
bergantung pada orang dewasa, dan belum bisa diberi tanggung jawab
atas segala hal.4
Ilyas Effendi mengemukakan bahwa masa remaja adalah masa
dimana perkembangan fisik dan mental mengalami revolusi atau
perubahan-perubahan cepat. Adapun perubahan tersebut antara lain:
3 Ibid.
4 Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama (Cet. XIII; Jakarta: Bulan Bintang, 1991), h. 69-70.
105
a. Perasaan seksual semakin merangsang, bergairah dan romantis, serta
ingin mencintai dan dicintai oleh lawan jenisnya sudah mulai
muncul.
b. Memperhatikan lawan jenisnya dan mengagumi dirinya sendiri.
c. Cita-cita yang tinggi dan ilusi yang tinggi.
d. Munculnya cara berpikir yang kritis tetapi mudah tersinggung bila
sedikit celaan.5
Dari beberapa pengertian yang dikemukakan di atas maka dapat
dipahami bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari masa anakanak
ke masa dewasa yang ditandai dengan kematangan seksual, gejolak
emosi dan tekanan jiwa sehingga mudah menyimpang dari aturan dan
norma-norma yang berlaku serta belum dapat bertanggung jawab secara
sempurna.
2. Batasan Usia Remaja
Untuk memperoleh suatu kesepakatan tentang pengertian
“remaja” maka kita harus mengaitkan dengan “masa remaja” karena
eksistensi remaja selalu terkait dengan masa yang dialaminya. 6 Namun
5 Ilyas Effendi, Tripusat Pendidikan dan Peranannya Dalam Penanggulangan Remaja, Tim
Editor dari Remaja Untuk Remaja, Buku II (SKM. Pas Makassar, 1992), h. 8.
6 H. A. Rahman Getteng, Pendidikan Islam Dalam Pembangunan Moral, Remaja, dan
Wanita (Ujung Pandang, Yayasan al-Ahkam, 1997), h. 50.
106
umur berapa remaja itu mulai dan kapan berakhirnya, para ahli ilmu
jiwa tidak sependapat. Karena dalam kenyataan hidup, umur permulaan
dan berakhirnya masa remaja itu berbeda dari seorang kepada orang
lain. Bergantung kepada masing-masing individudan masyarakat di
mana individu itu hidup.
Batasan masa remaja antara satu negara dengan negara yang lain
berbeda-beda waktunya sesuai dengan norma kedewasaan yang berlaku
setempat. Karena itu masa remaja sama panjangnya suatu masyarakat
dengan masyarakat lainnya, misalnya pada masyarakat desa yang
agraris, anak usia 12 tahun sudah ikut melakukan pekerjaan yang
seharusnya dilakukan oleh orang dewasa seperti mengolah sawah dan
ladang orang tuanya. Dalam keadaan yang seperti ini berarti anak yang
belum dewasa itu sudah dituntut oleh orang tuanya untuk
bertanggungjawab. Dengan demikian masa remaja akan lebih cepat
berakhir di daerah pedesaan.7
Sedangkan di daerah yang sudah maju masyarakatnya (perkotaan)
masa remaja berlangsung lebih lama, sebab keadaan kehidupan kota
lebih kompleks dan lebih majemuk masyarakatnya karena pengaruh dan
7 Zulkifli, Psikologi Perkembangan (Cet. VI: Bandung: Rosdakarya, 1999), h. 63.
107
latar belakang kehidupan, norma-norma kebudayaan, adat istiadat, nilainilai
moral, dan sosial yang tidak menentu membuat kaum remaja
bertambah bimbang, ragu-ragu dan bingung, sehingga mereka bertanyatanya
dalam hatinya yang mana sebenarnya harus dipilih dan
dipedomani.8
Berbicara tentang pandangan beberapa ahli, tentang masa remaja
juga tidak ada kesepakatan, misalnya dari segi hukum, maka usia remaja
adalah di atas 12 tahun dan di bawah 18 serta belum pernah menikah.
Artinya, apabila terjadi suatu pelanggaran hukum dari seseorang dalam
usia tersebut, maka hukuman baginya tidak sama dengan orang dewasa.9
Maksudnya adalah jika anak-anak yang berusia kurang dari 18 tahun
dan belum menikah, masih menjadi tanggung jawab orang tuanya kalau
ia melanggar hukum pidana. Tingkah laku mereka yang melanggar
hukum itu pun seperti mencuri belum dapat disebut sebagai kejahatan
atau tindakan kriminal melainkan hanya disebut kenakalan. Kalau
ternyata kenakalan anak itu sudah membahayakan masyarakat dan patut
dijatuhi hukuman oleh negara, dan orang tuanya ternyata tidak mampu
8 Ibid., h. 63.
9 Zakiah Darajat, Pembinaan Remaja (Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1975), h. 10.
108
mendidik anak itu lebih lanjut, maka anak itu menjadi tanggung jawab
negara dan dimasukkan ke dalam Lembaga Pemasyarakatan khusus
anak-anak (di bawah Departemen Kehakiman).10
Dari segi psikologis, batas usia remaja lebih banyak bergantung
kepada keadaan masyarakat di mana remaja itu hidup yang dapat
ditentukan dengan pasti adalah permulaannya, yaitu mulainya
perubahan jasmani dari anak menjadi dewasa kira-kira umur akhir 12
atau awal 13 tahun.11 Akan tetapi akhir masa remaja itu lebih banyak
bergantung kepada keadaan masyarakat di mana remaja itu hidup.
Walaupun tidak ada batas umur yang tegas bagi masa remaja, satu
hal yang dapat kita simpulkan adalah bahwa masa remaja merupakan
masa peralihan dari “anak” menjelang dewasa, dan apabila seseorang
telah dapat bertanggungjawab untuk dirinya sendiri, dan mampu
mempertanggungjawabkan segala tindakannya dan dapat menerima
falsafah hidup yang terdapat dalam masyarakat di mana ia hidup, maka
telah dapat dikatakan dewasa.
10 Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja, Edisi Revisi (Cet. VIII; Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2003), h. 5.
11 Zakiah Darajat, Pembinaan....., loc. cit.
109
berdasarkan definisi di atas, status perkawinan sangat
menentukan, karena arti perkawinan masih sangat penting di masyarakat
kita secara menyeluruh, dan dianggap serta diperlakukan sebagai orang
dewasa penuh, baik secara hukum maupun dalam kehidupan masyarakat
dan keluarga.
B. Problematika Remaja
Setiap orang pada usia remaja mengalami pertumbuhan dan
perkembangan menuju kedewasaan yang diwarnai oleh bermacammacam
problem, yaitu masalah-masalah yang dihadapi oleh remaja
berkaitan dengan adanya kebutuhan-kebutuhan mereka dalam rangka
penyesuaian diri dengan lingkungannya di mana remaja itu hidup,
tumbuh dan berkembang. Kebutuhan-kebutuhan yang dimaksud adalah:
1. Kebutuhan biologis (pertumbuhan jasmani)
2. Kebutuhan psikologis (pertumbuhan rohani)
3. Kebutuhan sosiologis (interaksi sosial)12
12 H. A. Rahman Getteng, op. cit., h. 53.
110
Akibat dari kebutuhan-kebutuhan tersebut di atas yang tidak
terpenuhi pada diri remaja menyebabkan tindakan dan perbuatan remaja
yang cenderung mengarah kepada kenakalan remaja.
1. Pertumbuhan fisik (jasmani)
Yang dimaksud dengan perubahan fisik remaja adalah terjadinya
perubahan secara biologis yang ditandai dengan kematangan organ seks
primer maupun organ seks sekunder, yang dipengaruhi oleh kematangan
hormon seksual.13 Salah satu perubahan yang cepat dan mudah terlihat
adalah pertumbuhan remaja secara fisik, perubahan-perubahan tersebut
adalah sebagai berikut:
a. Perubahan proporsi tubuh
Bagian-bagian tubuh luar bagi remaja mengalami banyak
perubahan, bagi remaja perempuan, yakni pertumbuhan payudara,
pertumbuhan rambut kemaluan, pertumbuhan badan/tubuh, tumbuhnya
bulu ketiak. Bagi laki-laki, yakni pertumbuhan testis, pertumbuhan
rambut kemaluan, pertumbuhan badan/tubuh, pertumbuhan penis, dan
tumbuhnya bulu ketiak.14 Dalam masa peralihan fisik ini sering terdapat
13 Agus Pariyo, Psikologi Perkembangan Remaja (Cet. I; Bogor: Ghalia Indonesia, 2004), h.
16.
14 Ibid., h. 16-17.
111
perlakuan lingkungan yang tidak tepat. Dengan memandang fisiknya
yang menyerupai orang dewasa, maka bertindak tanduk sebagaimana
layaknya orang dewasa. Padahal, di balik tubuh yang tampaknya telah
dewasa tersebut masih terselip naluri anak-anak yang riang, suka
bermain-main, ingin bebas dan kurang bertanggungjawab. Dengan
demikian perlakuan lingkungan yang terlalu banyak menuntut itu
merupakan masalah yang sering dirasakan oleh remaja sebagai beban.
b. Perubahan tubuh
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, remaja menjadi lebih tinggi
dan berat badannya pun bertambah dengan cepat. Pertumbuhan ini
berjalan dengan cepat sekali di awal-awal masa remaja. Yang terpenting
diawal tahap ini adalah perubahan naluri seks akibat perubahan kelenjar
yang mengalir dalam tubuh dan perubahan organ seks dari luar, dalam
psikologis perkembangan disebut dengan seks primer dan seks
sekunder.15
Yang dimaksud dengan seks primer adalah perubahan -perubahan
organ seksual yang semakin matang sehingga dapat berfungsi untuk
melakukan proses reproduksi dimana seorang individu dapat
15 Ibid., h. 18.
112
melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis dan dapat
memperoleh keturunan. Misalnya testis, kelenjar prostat, penis (remaja
laki-laki); vagina, ovarium, uterus (remaja perempuan). Sedangkan yang
dimaksud perubahan karakteristik seks sekunder ialah perubahan tanda -
tanda identitas seks seseorang yang diketahui melalui penampakan
postur fisik akibat kematangan seks primer. Misalnya jakun, bentuk
tubuh, suara membesar, kumis, jenggot. Sedangkan remaja perempuan;
kulit halus, bentuk tubuh, suara melengking tinggi, dan rambut
kemaluan pada vagina.16
Proses ini tumbuh secara alami pada diri remaja. Yang jadi
masalah di sini adalah tidak sesuainya kematangan seks dengan umur
yang diizinkan oleh adat kebiasaan dan agama untuk berkeluarga. Hal
ini berdampak pada masalah seksual yang menjurus kepada perilaku
negatif seperti pornografi, melakukan perbuatan-perbuatan asusila yang
senonoh seperti mendatangi tempat-tempat maksiat berhubungan
dengan para pelacur. Tindakan ini dapat membahayakan remaja itu
sendiri karena dapat tertular penyakit AIDS serta penyakit-penyakit
kelamin lainnya.
16 Ibid., h. 18.
113
2. Ketidakstabilan Emosi
Emosi berasal dari kata emetus dan emevore yang artinya
mencerca atau to stir up, yaitu sesuatu yang mendorong terhadap
sesuatu.17 Emosi adalah setiap pergolakan perasaan, pikiran dan nafs u
atau setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap,18 yang dapat
mendorong seseorang untuk bertingkah laku.
Masa remaja adalah masa peralihan antara masa anak-anak ke
masa dewasa. Pada masa ini remaja mengalami perkembangan untuk
mencapai kematangan fisik, mental, sosial dan emosional. Berhubung
karena remaja berada pada masa peralihan antara masa anak-anak dan
masa dewasa, sehingga status remaja agak kabur, baik bagi dirinya
maupun bagi lingkungannya. Pada masa remaja biasanya memiliki
energi yang besar, emosi berkobar-kobar, sedangkan pengendalian diri
belum sempurna. Dari sinilah remaja sering mengalami perasaan tidak
aman, tidak tenang, dan khawatir kesepian.19
17 E. Usman Effendy dan Juhaya S Praja, Pengantar Psikologi (Cet. III; Bandung: Angkasa,
1984), h. 79.
18 Muhammad Ali dan Muhammad Asrori, op. cit., h. 66.
19Ibid., h. 67.
114
Perkembangan emosional yang tidak sehat pada remaja/orang
dapat menghambat perkembangan hati nurani yang bersih dan agamis.20
Remaja yang mengalami kehidupan emosi yang tidak stabil, sering kali
remaja terlihat demikian riangnya, tetapi tak lama setelahnya mereka
berubah menjadi pemurung dan pendiam. Situasi emosi lain yang sering
kali terlihat adalah kepekaan emosi mereka yang terlalu tinggi. Sedikit
salah ucap atau perlakuan yang sedikit kurang menyenangkan cukup
untuk membuat emosi mereka meledak-ledak. Beberapa faktor yang
menyebabkan ketidakstabilan emosi antara lain:
1. Perubahan pola interaksi dengan orang tua
Pola asuh orang tua terhadap remaja sangat bervariasi, ada yang
pola asuhnya hanya menurut apa yang dianggap terbaik oleh dirinya
sendiri saja tanpa memperhatikan kondisi remaja. Sehingga ada yang
bersifat otoriter, memanjakan anak, acuh tak acuh, dan ada pula yang
penuh dengan cinta kasih. Perbedaan pola asuh orang tua seperti ini
dapat berpengaruh terhadap perbedaan perkembangan remaja. Misalnya
cara memberikan hukuman, kalau dulu anak dipukul karena naka l, pada
20 H. M. Sattu Alang, Kesehatan Mental dan Terapi Islam (Cet. I; Makassar, Pusat
Pengkajian Islam dan Masyarakat IAIN Alauddin Makassar, 2001), h. 111.
115
masa remaja cara seperti ini justru dapat menimbulkan ketegangan
antara orang tua dan remaja. Keadaan semacam ini sangat berpengaruh
terhadap perkembangan emosi remaja.21
2. Perubahan interaksi dengan teman sebaya
Remaja seringkali membangun interaksi sesama teman sebayanya
dengan cara berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama. Interaksi
antar anggota dalam suatu kelompok biasanya sangat intens serta
memiliki kohesitas dan solidaritas, bahkan ketergantungan pada
kelompok sangat tinggi. Remaja sangat ingin diterima oleh
kelompoknya. Apabila ia merasa gagal dan merasa disisihkan oleh
kelompoknya, remaja akan merasa kecewa sekali dan kesepian. Mereka
juga mengalami kecemasan-kecemasan dalam hal bagaimana harus
bertingkah laku dengan baik, bagaimana agar mereka cukup p opuler di
kalangan kawan-kawannya dan disukai oleh setiap orang. Semua
keinginan tersebut dapat menyebabkan mereka menjadi tegang dan
emosional.
21 Muhammad Ali dan Muhammad Asrori, op. cit., h. 70..
116
3. Pandangan dunia luar dirinya
Faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan emosi remaja
selain perubahan yang terjadi pada diri remaja itu sendiri adalah
pandangan dunia luar. Pandangan dunia luar ini dapat menyebabkan
konflik-konflik emosional dalam diri remaja. Berikut pandangan dunia
luar yang dapat menyebabkan konflik emosional dalam diri remaja
yaitu:
a. Sikap dunia luar remaja yang sering tidak konsisten. Masyarakat
hanya melihat dari segi fisik mereka saja yang dewasa, tetapi mereka
tidak mendapatkan kebebasan penuh atau peran yang wajar
sebagaimana orang dewasa. Seringkali mereka masih dianggap anak
kecil sehingga menimbulkan kejengkelan pada diri remaja.
Kejengkelan yang mendalam dapat merubah menjadi tingkah laku
emosional.
b. Masyarakat masih menerapkan nilai yang berbeda-beda untuk remaja
laki-laki dan perempuan. Biasanya kalau laki-laki memiliki banyak
teman perempuan dan perempuan memiliki banyak teman laki-laki
sering dianggap tidak baik atau bahkan mendapat predikat yang
kurang baik. Penerapan nilai yang semacam ini jika tidak disertai
dengan pemberian pengertian secara bijaksana dapat menyebabk an
remaja bertingkah laku emosional.
117
c. Seringkali kekosongan remaja dimanfaatkan oleh pihak luar yang
tidak bertanggungjawab yaitu dengan cara melibatkan remaja ke dalam
kegiatan-kegiatan yang merusak dirinya dan melanggar nilai-nilai
moral.22 Ketidakmampuan memanfaatkan waktu luang secara efektif
dan efisien dapat menimbulkan tindakan-tindakan amoral.23
Kondisi lingkungan yang tidak kondusif dapat menyebabkan
terjadinya keretakan pribadi remaja yang sangat berpotensi untuk
menimbulkan remaja bertingkah laku emosional. Hal ini akan membuat
seseorang melakukan pelampiasan dengan melakukan tindakan -tindakan
yang merusak dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Misalnya
penyalahgunaan obat terlarang, minum-minuman keras, tindak kriminal
dan kekerasan. Perlakuan dunia luar semacam ini akan sangat
merugikan perkembangan emosional remaja.
3. Perkembangan kecerdasan yang mendekati kematangan
Di samping pertumbuhan jasmani yang begitu cepat, juga
perkembangan kecerdasan yang hampir mendekati kematangannya.
Sehingga kemampuan berpikir logis sudah ada. Dengan perkembangan
22 Ibid., h. 71.
23H. M. Sattu Alang, loc. cit .
118
kecerdasan yang hampir matang itu, menyebabkan remaja merasa diri
telah pandai, dapat mengerti dan mampu berpikir. Kadang-kadang
mereka merasa dirinya lebih pandai dari orang tua.
Perkembangan kecerdasan ini terjadi pada usia antara 13-16
tahun. Pada masa ini remaja tidak mau lagi menerima sesuatu yang tidak
masuk akal. Mereka mau disuruh dan dilarang apabila mereka mengerti
mengapa disuruh dan mengapa mereka dilarang. Orang tua seringkali
menyangka bahwa anak pada usia ini menentang orang tua. Padahal
mereka berbuat demikian karena kematangan kecerdasan yang
dialaminya, sehingga mereka tidak mudah menerima begitu saja
suruhan, larangan, dan pendapat orang lain.24 Inilah yang menimbulkan
masalah bagi remaja, yaitu terjadinya konflik dengan orang tua. Orang
tua yang kurang bijaksana dan kurang dapat mengikuti gejolak pikiran
mereka, maka terjadilah apa yang disebut dengan kesenjangan antara
orang tua dengan anak, yang sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi.25
Dengan demikian dapat dipahami bahwa yang sering menimbulkan
problem remaja adalah kurangnya pengertian orang tua terhadap
perubahan yang dilaluinya.
24 Zakiah Darajat, Pembinaan.......op. cit., h. 31.
25 Wilson Nadeak, Memahami Anak Remaja (Cet. I; Yogyakarta: Kanisius, 1991), h. 13.
119
4. Problem hari depan
Setelah pertumbuhan jasmani cepat mereda, perkembangan
kecerdasan juga dapat dikatakan telah selesai, maka remaja merasa
bahwa tubuhnya telah seperti tubuh orang dewasa, dan disaat itulah
mereka mulai memikirkan hari depannya, masalah pendidikan/sekolah,
jenis pekerjaan yang akan dilakukannya kelak setelah tamat sekolah.
Setiap remaja ingin mendapatkan kepastian, akan jadi apakah mereka
nanti setelah tamat.26 Bahkan orang tua mereka pun menginginkan agar
anaknya memiliki masa depan yang lebih baik.
Pemikiran akan masa depan ini semakin memuncak dirasakan
oleh remaja di saat duduk di bangku universitas (usia remaja akhir),
yaitu antara usia 18-21 tahun. Termasuk dalam pemikiran akan hari
depan ini adalah masalah pekerjaan dan pengangguran, pembentukan
rumah tangga di masa depan yang tidak lama lagi akan ditempuhnya.
a. Problem pekerjaan dan pengangguran
Problem ini diistilahkan oleh Sofyan S. Willis adalah
pengangguran terdidik.27 Problem ini amat mengkhawatirkan kita
26 Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa......., op. cit., h. 126.
27 Sofyan S. Willis, Remaja dan Masalahnya, Mengupas Berbagai Bentuk Kenakalan
Remaja; Narkoba, Free Seks dan Pemecahannya (Cet. I; Bandung Alfabeta, 2005), h. 77.
120
semua. Betapa mahalnya biaya pendidikan, akan tetapi setelah tamat
atau sudah sarjana, lapangan kerja semakin sempit, baik di departemen
pemerintah maupun swasta. Apa sebenarnya penyebab terjadinya
banyak pengangguran di Indonesia ? Menurut pengamatan penulis, baik
melalui media massa, ceramah para ustadz dan juga acara-acara
seminar, baik bertaraf nasional maupun internasional serta pengamatan
di lingkungan di mana penulis berada, penyebab terjadinya
pengangguran kaum terdidik di negeri ini adalah:
1) Karena jumlah lapangan kerja lebih sedikit daripada jumlah lulusan.
2) Jurusan-jurusan yang ada di Perguruan Tinggi berbeda dengan jenis
pekerjaan yang tersedia. Pemerintah membuat jurusan-jurusan
pendidikan tidak (match) sesuai dengan lapangan kerja yang ada.
Terjadinya pengangguran kaum muda terutama yang terdidik
(remaja) akan berdampak negatif terhadap kehidupan remaja. Hal ini
dapat kita saksikan di era reformasi ini, baik melalui media maupun
disaksikan langsung di sekitar kita, makin banyak kejahatan yang
dilakukan anak-anak muda usia (remaja), penyebabnya adalah:
a) Pengangguran dan tidak punya keahlian karena pemerintah dan
swasta tidak bisa menyediakan lapangan kerja yang memadai. b) banyak
contoh kejahatan oleh para oknum pejabat negara yang menjarah uang
121
rakyat dan negara sering diloloskan oleh hukum. Contoh perbuatan ini
disaksikan langsung generasi muda atau para remaja sehingga terjadilah
proses identifikasi terhadap perbuatan tersebut. Secara psikologis
kejahatan anak muda adalah cermin dari kejahatan para orang dewasa,
terutama oknum-oknum pejabat yang korup milyaran dan bahkan
triliunan uang rakyat. c) Adanya VCD-VCD porno yang beredar luas
dan mudah dibeli. Hal ini menyebabkan peniruan terhadap perilaku seks
di VCD itu. Banyak kasus perkosaan olehrm bermula dari menonton
VCD porno. d) Kekerasan remaja dewasa ini juga peniruan dari filmfilm
di TV dan VCD.28
b. Problem perkawinan dan hidup berumah tangga
Problem ini didasarkan atas kebutuhan seksual yang amat
menonjol pada usia remaja, sehubungan dengan kematangan organ
seksual.29 Kebutuhan seksual ini hanya bisa terpenuhi secara sah dan
halal bila sudah terikat dengan pernikahan. Masalahnya adalah
seringkali terjadi pada diri remaja, benar-benar siap secara biologis
untuk melangsungkan pernikahan, tetapi tanggung jawab pekerjaan
untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya belum mampu.
28 Ibid.
29Ibid., h. 73
122
Di dalam masyarakat yang telah terbuka dan dinamis, para remaja
menghadapi persoalan yang lain yakni masa pendidikan dan pekerjaan
yang membutuhkan waktu yang panjang, remaja terpaksa menunda
perkawinan (pernikahan) dan pemuasan hubungan seksual. Sebelum
masa pernikahan tiba, remaja menghadapi masalah penyaluran dorongan
seksuil, sehingga timbul pula persoalan bagi masyarakat untuk
menentukan sejauhmanakah masyarakat membolehkan dorongandorongan
seksual itu dipuaskan dan dalam bentuk-bentuk yang
bagaimana ?30 Agamalah yang akan memberikan kesadaran bahwa
penyaluran seksual hanya bisa dilakukan setelah melalui tali pernikahan
dan apabila belum mampu bertanggung jawab secara lahiriah agama
pun memberikan solusi yaitu dengan jalan berpuasa.
Oleh karena itu kepada para remaja hendaklah ditanamkan sikap
positif terhadap hidup berumahtangga. Dasar-dasar keagamaan akan
menolong terbentuknya sikap positif terhadap pentingnya kehidupan
berumahtangga, karena rumah tangga itu akan melahirkan anak -anak
yang jelas garis keturunannya, jelas ayah, ibu dan familinya.
30 Winarno Surakhmad, Psikologi Pemuda, Sebuah Pengantar Dalam Perkembangan
Pribadi dan Interaksi Sosialnya (Cet. II; Bandung: Jemmars, 1980), h.
123
5. Problem sosial
Dalam masa remaja, perubahan sosial yang penting pada masa itu
adalah meningkatnya pengaruh kelompok sebaya dan pola perilaku
sosial yang lebih matang.31 Perubahan sosial ini biasanya terjadi pada
bagian akhir masa remaja, yaitu antara umur 17-21 tahun. Pada masa
ini, perhatiannya terhadap kedudukannya dalam masyarakat
lingkungannya terutama di kalangan remaja, sangat besar. Ia ingin
diterima oleh kawan-kawannya. Ia merasa sangat sedih kalau dikucilkan
dari kelompok teman-temannya. Karena itu ia meniru lagak-lagu,
pakaian, sikap dan tindakan teman-temannya dalam satu kelompok.
Kadang-kadang remaja dihadapkan pada dua pilihan yang berat, apakah
ia mematuhi orang tuanya dan meninggalkan pergaulannya dengan
teman-teman sebayanya. Kalau hubungannya dengan orang tuanya
kurang serasi, maka pilihan itu akan jatuh kepada kawannya.32
Pada bagian akhir masa remaja, perhatiannya terhadap masalah
sosial meningkat, remaja biasanya mempunyai cita-cita dan anganangan
yang sangat indah buat negara dan masyarakat. Karena itu
31 Netty Hartati et. al, Islam dan Psikologi (Cet. I; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h.
41.
32 Zakiah Darajat, Pembinaan......op. cit., h. 116.
124
keinginan remaja untuk berperan di masyarakat sangatlah diharapkan.
Keinginan remaja untuk berperan di dalam masyarakat adalah suatu
dorongan sosial yang terbentuk karena tuntutan kemajuan teknologi,
kebudayaan dan ilmu pengetahuan pada umumnya.33
Kadang-kadang orang dewasa atau anggota masyarakat tidak
menghiraukan keinginan remaja berperan di masyarakat, karena belum
yakin akan rasa tanggung jawab yang dimiliki remaja. Keengganan
orang dewasa atau masyarakat bersumber pada kesangsian akan
kemampuan dan pengalamannya. Sikap demikian oleh remaja dianggap
kurang mempercayainya, sehingga remaja merasa kecewa. Hal ini dapat
pula menjadi sumber terjadinya kenakalan remaja.
5. Problem pendidikan
Problem ini erat kaitannya dengan kebutuhan akan ilmu
pengetahuan yang diperlukan para remaja. Sulitnya memasuki lembaga -
lembaga pendidikan menengah dan perguruan tinggi merupakan
problem yang sulit diatasi. Hal ini bersangkut paut dengan soal biaya
sekolah/kuliah. Karena ketiadaan biaya, maka orang tua mengalami
hambatan untuk menyekolahkan anak, dan remaja. Sehingga remaja
33 Sofyan S. Willis, op. cit., h. 74.
125
mengalami kesulitan untuk menambah ilmu. Di samping itu lulusan
SLTA terlampau banyak, sedangkan kursi yang tersedia di perguruan
tinggi amat terbatas. Akibatnya, jumlah yang tidak diterima jauh lebih
banyak dari pada yang lulus, sisanya yang terbesar tidak diterima.
Akhirnya mereka harus ke perguruan tinggi swasta, itupun sangat
terbatas karena sebagian di antara mereka tidak didukung dengan
biaya. Akhirnya banyak remaja yang tidak sekolah dan tidak
melanjutkan ke perguruan tinggi. Hal ini akan mempercepat proses
putus sekolah dan pengangguran. Kalau problem ini tidak segera diatasi
maka akan menjadi sumber dari terjadinya kenakalan remaja.
6. Masalah akhlak
Masalah akhlak adalah masalah yang dihadapi oleh remaja dari
dulu sampai sekarang terutama di kota-kota besar, di sana sini terdengar
macam-macam kenakalan, perkelahian, penyalahgunaan narkotika,
kehilangan semangat untuk belajar dan sebagai nya. Dipandang dari segi
kejiwaan keadaan yang seperti itu dapat dikatakan berhubungan erat
dengan tidak adanya ketenangan jiwa, kegoncangan jiwa, akibat
kekecewaan, kecemasan atau ketidakpuasan terhadap kehidupan yang
sedang dilaluinya menyebabkan remaja menempuh berbagai model
126
kelakuan seperti tersebut diatas, demi mencari ketenangan jiwa atau
untuk mengembalikan kestabilan jiwanya.34 Jadi terjadinya
penyimpangan-penyimpangan yang sifatnya amoral, disebabkan
terjadinya kegoncangan jiwa. Ini adalah problematika remaja yang
dialami oleh setiap manusia yang dikarunia umur sampai masuk usia
remaja, dan kalau tidak segera diatasi maka akan berimplikasi negatif.
7. Krisis Identitas
Setiap Individu pada dasarnya dihadapkan pada suatu krisis.
Krisis itulah yang menjadi tugas bagi seseorang untuk dapat dilaluinya
dengan baik, yang dimaksud dengan krisis alah suatu masalah yang
berkaitan dengan tugas perkembangan yang harus dilalui oleh setiap
individu, termasuk remaja keberhasilan menghadapi krisis akan
meningkatkan dan mengembangkan kepercayaan dirinya, berarti mampu
mewujudkan jati dirinya sehingga ia merasa siap untuk menghadapi
tugas perkembangan berikutnya dengan baik sebaliknya yang gagal
cenderung akan memiliki kebingungan identitas.35
34 Zakiah Darajat, Pembinaan......op. cit., h. 117.
35 Agoes Dariyo, op. cit., h. 79-80.
127
Seperti yang diketahui bahwa remaja dapat disebut bukan anakanak,
tetapi juga bukan dewasa, sehingga seringkali menimbulkan
pertanyaan dalam dirinya. Siapakah dia dan bagaimanakah harus
menampilkan diri kalau memang sudah dewasa mengapa belum berani
untuk mandiri dan mengapa masih harus diatur orang tua. Kalau masih
anak-anak mengapa fisiknya sama dengan orang tua pertanyaan seperti
ini sering mengganggu remaja. Dengan jalan inilah mereka
mendapatkan identitasnya yang orisinal dan ekslusif mereka
membangun identitas bersama-sama dengan teman-teman sebayanya
maka terbentuklah kelompok-kelompok sepermainan yang istilah
populernya adalah peers group. Bersama kelompok itulah remaja mulai
mencari ciri-ciri identitasnya yang pas dan khas. Maksudnya adalah
yang bukan identitas anak-anak atau identitas dewasa. Mereka
mengungkapkan ciri-ciri identitasnya melalui model atau gaya, tata
rambut dan sebagainya. Dari ciri-ciri tersebut maka terbentuklah apa
yang dinamakan budaya remaja. Bagi remaja ungkapan-ungkapan dari
ciri-ciri identitas tersebut cukup efektif sebagai jalan keluar dari kemelut
krisis identitasnya. Akan tetapi nilai-nilai yang ia anut lewat cara
berpakaian, cara berbahasa dan sebagainya, lebih sering berbeda dan
128
bahkan berlawanan dengan nilai-nilai yang sudah mapan dalam
masyarakat. Sehingga seringkali orang tua dan orang-orang dewasa
lainnya merasa cemas melihat nilai-nilai baru yang dianut oleh remaja
itu. Dan pada gilirannya sering melahirkan sikap negatif seperti
permusuhan. Sudah barang tentu sifat-sifat negatif seperti itu akan
menimbulkan masalah baru bagi mereka.
C.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkah Laku Remaja
Dalam masa pencarian identitas remaja,ada beberapa faktor yang
mempengaruhi tingkah laku remaja. Faktor-faktor tersebut dapat
dikemukakan sebagai berikut:
1. Lingkungan keluarga
Keluarga adalah merupakan wadah yang pertama-tama dan
merupakan dasar yang fundamental bagi perkembangan dan
pertumbuhan anak, kebiasaan yang dilakukan orang tua sehari-hari
memberikan warna dasar terhadap pembentukan kepribadian anak dan
ini dapat menjurus kearah positif atau kearah negatif. Akan tetapi
pengaruh itu tidaklah terbatas kepada waktu ia telah menjadi remaja
saja, akan tetapi telah dimulai sejak dari bayi, bahkan sejak dalam
kandungan.36
36 Zakiah Darajat, Pembinaan......op. cit., h. 19.
129
Jika Ibu Bapaknya baik rukun dan menyayanginya maka ia akan
mendapat unsur-unsur yang positif dalam kepribadian anak yang sedang
bertumbuh itu. Begitu pula apabila orang tuanya beragama dan taat
melaksanakan agama dalam kehidupan sehari-hari maka anak akan
mendapat pengalaman keagamaan yang menjadi unsur dalam
kepribadiannya.
Dalam lingkungan keluarga yang sangat diperlukan untuk
pembinaan anak-anaknya adalah pengertian orang tua akan kebutuhan -
kebutuhan kejiwaan (psikologi) anak.
2. Lingkungan Sekolah
Lingkungan sekolah memungkinkan berkembangnya atau
terhambatnya proses perkembangan penyesuaian diri. Umumnya
sekolah dipandang sebagai media yang sangat berguna untuk
mempengaruhi kehidupan dan perkembangan intelektual, sosial,
nilai-nilai, sikap dan moral siswa.37 Ini berarti bahwa sekolah tidak
hanya berfungsi memberikan pengajaran dan pendidikan secara formal
yang mempengaruhi pembinaan remaja, karena seorang guru bagi
muridnya tidak hanya merupakan pengajar yang memberikan ilmu dan
37 Muhammad Ali dan Muhammad Asrori, op. cit., h. 189.
130
keterampilan baginya, tetapi guru dalam pembinaan anak didik. Oleh
karena itu lingkungan sekolah merupakan unsur pembinaan yang
penting bagi remaja sesudah lingkungan keluarga.
3. Masyarakat
Pada usia remaja pengaruh lingkungan masyarakat kadangkadang
lebih besar dari pada pengaruh keluarga, karena remaja sedang
mengembangkan kepribadiannya yang sangat memerlukan pengakuan
lingkungan, teman-teman dan masyarakat pada umumnya. Di samping
itu yang sangat besar pula pengaruhnya adalah film, sandiwara, gambar,
bacaan, tempat-tempat rekreasi dan berbagai kegiatan yang disenangi
oleh remaja tersebut. Apabila semuanya baik, sesuai dengan nilai-nilai
dan akhlak yang kita harapkan maka akan berpengaruh negatif pula
terhadap tingkah laku remaja. Keadaan masyarakat atau kelompokkelompok
tertentu dalam masyarakat, baik yang tergantung dalam
organisasi maupun tidak, merupakan faktor yang berpengaruh pada pola
tingkah laku remaja. Bahkan tidak jarang menyebabkan penyimpangan
dan kegoncangan jiwa pada remaja.
131
4.Agama
Keyakinan agama mempengaruhi perilaku manusia, bukan hanya
secara individual, tetapi juga sosial.38 Penghayatan para remaja terhadap
ajaran agama dan tindak keagamaan yang tampak terhadap perilaku para
remaja banyak berkaitan dengan faktor perkembangan remaja.39
Lingkungan keagamaan, baik dari lembaga-lembaga pendidikan
keagamaan, tempat-tempat peribadatan, maupun kegiatan-kegiatan
keagamaan adalah sangat penting dalam pembentukan jiwa remaja.
Kegiatan-kegiatan keagamaan misalnya sekolah atau permainan yang
terletak dekat mesjid atau rumah ibadah lainnya, akan memberikan
pengalaman tertentu bagi anak-anak atau remaja yang bersekolah atau
bermain ditempat itu. Pengalaman yang didapatnya melalui penglihatan
dan pendengaran tentang rumah ibadah dan kegiatan-kegiatan
keagamaan yang dilakukan, akan merupakan unsur positif bagi
pembinaan kepribadiannya. Hatinya akan dekat dengan agama dan
dengan sendirinya sikap terhadap agama tersebut akan menjadi positif.
Pengaruh keagamaan itu akan lebih besar apabila remaja ikut aktif
38 Ahmad Mubarok, Psikologi Dakwah (Cet. I; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), h. 16.
39 H. Jalaluddin, Psikologi Agama (Cet. VII; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), h. 74.
132
dalam kegiatan sosial keagamaan, terutama bagi mareka yang
mengalami kegoncangan dan ketidaktenangan dalam ke luarga. Apabila
remaja tidak meyakini suatu agama tidak mendapatkan pendidikan dan
pengalaman keagamaan sejak kecil, maka ia akan bingung dalam
menghadapi kesukaran pribadinya. Mereka yang kosong dari
pengalaman keagamaan itu akan mudah tersebut kepada kegiatan -
kegiatan yang menyimpang.
5.Kebudayaan
Tiap-tiap negara di dunia ini mempunyai kebudayaan yang
berbeda satu sama lainnya. Setiap kebudayaan juga memiliki norma -
norma tertentu yang mengatur kepentingan manusia sebagai anggota
masyarakat agar dapat terpelihara ketertiban dan keamanan sesuai
dengan apa yang diharapkan. Pengaruh-pengaruh kebudayaan asing baik
melalui media massa (film, surat kabar, majalah dan sebagainya),
maupun yang kita saksikan langsung dapat berakibat positif dan negatif
dalam perkembangan kepribadian remaja.
Perkembangan global dibantu media yang canggih
memungkinkan arus informasi yang begitu padat dan deras menyerang
generasi muda. Benturan budaya yang mau tak mau akhirnya juga
133
benturan norma berakibat terjadinya pergeseran nilai hampir disemua
kehidupan, gaya hidup global mewarnai generasi muda hanyut terbius
ala serba barat yang menembus budaya-budaya lokal yang berakar
religi. Imperialisme kebudayaan tengah berlangsung menyusup kesemua
sudut negeri melalui tularan media informasi dan komunikasi atau
dibawa langsung oleh para wisatawan.40 Dampak pergaulan hidup
global telah menunjukkan tanda-tanda mencemaskan terutama dalam
kehidupan remaja,yang merupakan tumpuan harapan bangsa. Karena
dipundaknyalah tanggung jawab kedepan dibebankan.
Inilah faktor-faktor yang melatarbelakangi perilaku remaja dalam
kehidupan selanjutnya.
40 A. Wahab Suneth dan Syafruddin Djohan, Problematika Dakwah dalam Era Indonesia
Baru (Cet. I; Jakarta: Bina Rena Pariwara, 2000), h. 72.
BAB IV
DAKWAH DALAM KEHIDUPAN REMAJA
A. Kondisi Kehidupan Remaja
Masa remaja merupakan taraf perkembangan dalam kehidupan
manusia, dimana seseorang tidak dapat lagi disebut anak -anak dan juga
belum dapat dikatakan dewasa. Umumnya taraf perkembangan ini
disebut musim pancaroba. Oleh karena berada antara usia kanak-kanak
dengan dewasa. Sifat sementara dari kedudukannya mengakibatkan
remaja masih mencari identitasnya, karena oleh anak-anak mereka
dianggap dewasa, sedang oleh orang dewasa mereka dianggap keci l.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dari sudut kepribadiannya,
maka para remaja mempunyai berbagai kondisi yang berbeda dengan
anak-anak dan orang dewasa.
Ada beberapa kecenderungan (kondisi) yang dialami oleh anak
pada usia remaja, hal ini diakibatkan dari masih labilnya emosi mereka.
Adapun kondisi-kondisi tersebut antara lain:
1. Kecenderungan untuk meniru
Kecenderungan untuk meniru ini tidak bisa lepas dari bagian
pencarian jati dirinya. Biasanya hal-hal yang menjadi kesukaannya
untuk ditiru adalah mode pakaian dan kebiasaan para bintang film yang
134
135
dianggap idolanya, tanpa mempertimbangkan kondisi sosial di mana ia
tinggal, juga tanpa mempertimbangkan kepribadiannya, sehingga
kerapkali tingkah lakunya ini menyimpang dari tatanan masyarakat
yang sudah ada.1 Oleh karena itu perilaku remaja ini jika tidak ada
filternya, akan mengundang kerawanan sosial dan kejahatan, apakah itu
dalam bentuk free sex, pemerkosaan, atau kejahatan-kejahatan lain.
Di sinilah perlunya menanamkan ajaran agama dan akhlak sedini
mungkin, untuk menjadi filter dari pengaruh budaya, idiologi dan
slogan-slogan yang menyesatkan yang dapat menjerumuskan anak pada
dekadensi moral dan inilah tidak dibenarkan oleh ajaran Islam untuk
ditiru. Dan kalau ada unsur positif dan dipandang baik oleh syari'ah
malah justru dianjurkan.
2. Kecenderungan untuk mencari perhatian
Disamping kesukaannya untuk meniru hal-hal yang baru, mereka
juga terkadang bertingkah laku over acting di depan umum guna untuk
mencari perhatian. Keinginan ini tidak lepas dari usaha mencari jati
dirinya.2
1 Fuad Karma, Sensasi Remaja di Masa Puber, Dampak Negatif dan Alternatif
Penanggulangannya (Cet. III; Jakarta: Kalam Mulia, 2003), h. 9.
2 Ibid., h. 11.
136
Dr. James E. Gardner mengatakan bahwa apapun model yang
dipilih oleh remaja, tapi yang jelas nilai yang ditempatkan pada model
ini hampir selalu tergantung dari apakah model itu menambah
popularitas dirinya terhadap teman-temannya.3
Kecenderungan untuk mencari perhatian ini harus disalurkan
pada hal-hal yang positif, seperti membentuk organisasi sosial, ikut
kegiatan-kegiatan keagamaan maupun sosial, mengikuti lomba-lomba
yang sesuai dengan bakat dan kemampuan.
3. Kecenderungan Mulai Tertarik Pada Lawan Jenisnya
Seseorang (anak-anak) pada usia 6-12 tahun, mulai cenderung
membentuk kelompok teman berunding yang berasal dari sesama jenis
kelamin, ketika beranjak usia remaja, mereka mulai merasakan
dorongan seksual dari dalam dirinya sehingga ada keinginan untuk
memperluas pergaulannya dengan lawan jenis. Mereka berusaha saling
memperhatikan, karena tertarik pada lawan jenis kelamin lain.4
3 James G. Garder, Memahami Gejolak Masa Remaja (Cet. III; Jakarta: Mitra Utama,
1990), h. 47.
4 Agoes Dariyo, Psikologi Perkembangan Remaja (Cet. I; Bogor: Ghalia Indonesia 2004),
h. 10.
137
Gejala-gejala seperti ini adalah wajar dan normal. Tumbuhnya
rasa cinta kasih adalah fitrah bagi manusia yang diciptakan oleh Allah
Swt, agar kehidupan manusia itu terasa tentram dan bahagia untuk itu,
Allah Swt menumbuhkan di hati laki-laki perasaan cinta kepada wanita,
begitu juga dengan wanita ada rasa cinta dan ingin dicintai oleh k aum
laki-laki. Hal ini telah ditegaskan oleh Allah Swt dalam QS. al-Rum: 21
yang berbunyi:
وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَع لَ بَي نَكُمْ م وَدَّةً وَرَح م ةً
( إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ( ۲۱
Terjemahannya:
Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan
untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung
dan merasa tentram kepadanya,dan dijadikannya diantara kamu
rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada demikian itu benarbenar
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.5
Akan tetapi kecintaan pada lawan jenis ini harus disertai dengan
tuntunan akhlak dan pegangan agama yang kuat. Sebab ini adalah
sebagai kendali utama agar remaja tidak melampaui batas dalam
bergaul dengan lawan jenisnya. Bila rambu-rambu yang diberikan oleh
agama dalam pergaulan muda-mudi telah dilanggar, maka akan terjadi
5Departemen Agama RI., Alquran dan Terjemahnya, h. 644.
138
pergaulan bebas dalam bentuk free sex, kumpul kebo dan kejahatan -
kejahatan sex lainnya, sehingga harkat dan martabat manusia akan jatuh
seperti binatang. Dengan demikian, pembekalan agama dan ahklak ba gi
anak yang menginjak usia remaja adalah sangat penting sebagai tameng
diri agar tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang negatif yang dapat
merusak dirinya.
4. Kecenderungan Mencari Idola.
Pada masa remaja adalah masa kebingungan anak mencari idola
untuk dijadikan model dan contoh dalam kehidupannya. 6 Ketika remaja
mengidolakan tokoh-tokoh terkenal, maka remaja berupaya
mewujudkan dirinya seperti gambaran tokoh idola, dengan cara meniru
sifat-sifat, kemampuan atau keahlian yang dimiliki oleh tokoh idola
tersebut.
Ada beberapa faktor yang menjadi pendorong remaja untuk
memiliki tokoh idola antara lain:
a. Masa remaja sebagai masa transisi (perhatian) yang ditandai
ingin mencari jati diri untuk mendapat gambaran identitas yang
baik maka mereka mengidolakan tokoh-tokoh yang ditemui
6 Fuad Karma, op. cit., h. 14.
139
ditengah masyarakat yang merupakan figur dengan cara meniru
sifat-sifatnya misalnya, tegas, disiplin, berani, terkenal, cerdas,
pandai, berbakat, berkharisma berwibawa, rendah hati, ramahtamah
dan menjadi panutan masyarakat bangsa atau dunia
internasional sifat-sifat tersebut ditiru dan diinternalisasi dalam
diri pribadinya.
b. Remaja ingin mengindentifikasi karakteristik pada tokoh yang
diidolakannya dalam diri pribadinya ini menandakan bahwa
remaja memiliki motivasi tinggi sehingga ia berani untuk
mencoba mewujudkan keinginan, aspirasi maupun cita-citanya
dengan baik motivasi ini timbul berkaitan dengan kecenderungan
remaja untuk meniru.
c. Sebagai pelarian dari kehidupan kondisi keluarga (orang tua)
keluarga yang tidak memberi kasih sayang dan perhatian yang
hangat kepada remaja, cenderung membuat remaja melarikan diri
dari keluarga dan berusaha mencari kepuasan di luar rumah,
kalau remaja mampu mendapat atau berada pada lingkungan
positif, mungkin tidak akan menimbulkan masalah yang n egatif.7
7 Agoes Dariyo, op. cit., h. 71.
140
Islam tidak melarang seseorang untuk mencari idola, akan tetapi
hendaknya mencari idola yang dapat mempengaruhi dirinya dan jiwa ke
hal-hal yang positif dan dapat dijadikan contoh untuk perjalanan
hidupnya. Bukankah Rasulullah Saw itu merupakan sesosok manusia
sempurna yang patut untuk dijadikan idola, tingkah lakunya merupakan
cermin dari ketinggian akhlaknya yang mulia, kejeniusannya tiada
tandingannya dan kearifannya tiada tolak ukurnya, beliau merupakan
kepribadian yang utuh dan sempurna. Segala tingkah lakunya bisa
dijadikan contoh suri teladan.
Oleh karena itu adalah hal yang penting dan mutlak bagi orang
tua membentengi anak remaja dengan akhlak yang mulia dam
pendalaman ajaran agama, agar anak remaja tidak terjerumus pada
tindakan yang negatif. Dengan adanya anak mencari idola, maka
diharapkan orang orang tua bisa menjadi idola bagi anak remajanya.
Remaja pada umumnya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
sehingga seringkali ingin mencoba-coba, mengkhayal, dan merasa
gelisah, serta berani melakukan pertentangan jika dirinya disepelekan.
Untuk itu mereka sangat memerlukan keteladanan, konsistensi, serta
komunikasi yang tulus dan empatik dari orang dewasa 8 yang bisa
dijadikan sebagai idolanya
8 Muhammad Ali dan Muhammad Asrori, Psikologi Remaja Peserta Didik (Cet. I; Jakarta:
Bumi Aksara, 2004), h. 18.
141
5. Kecenderungan berfikir kritis
Pada masa remaja yaitu berkisar 16 tahun mengalami
pertumbuhan kecerdasan. Ini berarti bahwa pada umur tersebut tidak
mudah lagi menerima sesuatu yang tidak masuk akal.9 Remaja sudah
mulai kritis terhadap segala persoalan.
Menurut Santrock sebagaimana dikutip oleh Agoes Dariyo,
mengatakan bahwa pada masa remaja, seseorang sudah mampu berfikir
abstrak, idealistik, maupun logika. Berpikir abstrak artinya remaja
sudah mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai ide,
pemikiran atau konsep pengertian guna menganalisis dan mem ecahkan
masalah yang ditemui dalam kehidupannya. Berpikir idealistik artinya
remaja sering berpikir mengenai sesuatu kemungkinan, mereka sudah
mampu berpikir ideal (das sollen) mengenai diri sendiri, orang lain,
maupun masalah-masalah sosial kemasyarakatan yang ditemui dalam
kehidupannya. Ketika menghadapi hal-hal itu segera diperbaiki menjadi
benar. Logika artinya remaja mulai berpikir seperti orang ilmuan
mereka sudah mampu membuat suatu perencanaan untuk memecahkan
suatu masalah kemudian mereka menguji cara pemecahan itu secara
sistematis.10
9 Zakiah Darajat, Pembinaan Remaja (Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1975), h. 137.
10 Agoes Dariyo, op. cit., h. 57.
142
Dengan demikian maka dapatlah dipahami bahwa pada masa
tersebut remaja umumnya memiliki rasa ingin tahu tentang segala
sesuatu sangat tinggi sehingga remaja tidak mudah menerima sesuatu
yang tidak masuk akal, baik perintah maupun larangan.
Oleh karena itu yang amat penting bagi remaja adalah memberikan
bimbingan agar rasa ingin tahunya yang tinggi dapat terarah kepada
kegiatan-kegiatan yang positif, kreatif, dan produktif.
6. Emosinya sedang menggelora
Gejala yang tampak sebagai perkembangan pada aspek emosi
bagi remaja adalah:
a) Ketidakstabilan emosi pada anak remaja
b) Mudahnya menunjukkan sikap emosional yang meluap-luap pada
remaja seperti mudah marah, mudah tersinggung.
c) Semakin mampu mengendalikan diri.11
Masa remaja adalah masa penuh gejolak dan gelora semangat
yang menggebu-gebu. Bersamaan dengan itu emosinya sedang
menggelora, hal ini disebabkan keseimbangan jiwanya masih labil.
Karena itu kadangkala remaja lebih mengutamakan emosinya terlebih
11 Muhammad Ali dan Muhammad Asrori, op. cit., h. 3.
143
dahulu dari pada penalarannya dalam menghadapi dan menyelesaikan
persoalan.12 Untuk itu banyak anak remaja yang menjadi brutal dan
penjahat dikarenakan penyaluran emosi yang tidak pada tempatnya,
sehingga tingkah lakunya cenderung merusak.
7. Kegelisahan
Sesuai dengan fase perkembangan, remaja mempunyai banyak
idealisme, angan-angan atau keinginan yang hendak diwujudkan di
masa depan, namun sesungguhnya remaja belum memiliki banyak
kemampuan yang memadai untuk mewujudkan semua keinginannya.13
Tarik menarik antara angan-angan kemampuannya yang masih belum
memadai mengakibatkan mereka diliputi oleh perasaan gelisah.
Inilah gambaran yang dialami oleh anak-anak yang menginjak
masa remaja. Keadaan tersebut dapat dikendalikan dengan baik bila
disalurkan pada hal-hal yang positif. Sebaliknya keadaan ini akan dapat
menjerumuskan anak remaja pada kesesatan dan kerusakan bila tidak
diarahkan dan dibimbing kejalan yang baik.
12 Fuad Karma, op. cit., h. 19.
13 Muhammad Ali dan Muhammad Asrori, op. cit., h. 16.
144
B. Materi Dakwah
Materi dakwah yang dimaksudkan pada bab ini adalah masalah
isi pesan atau materi yang disampaikan da'i kepada anak yang berusia
remaja. Materi yang disampaikan adalah ajaran Islam itu sendiri yang
bersumber dari Alquran dan al-Hadis.
Sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa remaja
mempunyai ciri khas tersendiri, serta mempunyai watak dan
pembawaan yan berbeda dengan orang dewasa umum, alam pemikiran
yang dimiliki remaja jelas jauh lebih representatif bila dibandingkan
dengan orang dewasa.
Dengan beberapa pertimbangan di atas perlu bagi setiap da'i yang
akan berhadapan dengan usia remaja memilih materi dakwah yang
memperhatikan naluri remaja itu sendiri, sehingga pelaksanaan dakwah
itu akan mencapai sasaran.
Hal-hal yang perlu diperhatikan bagi da'i dalam mempersiapkan
dakwah antara lain harus sesuai dengan kebutuhan remaja, mudah
dicerna dan dijabarkan, tidak bersifat monoton, dan harus merupakan
problem solving terhadap kesulitan yang dihadapi remaja. Masalahmasalah
yang dihadapi oleh para remaja sehubungan dengan adanya
145
kebutuhan-kebutuhan mereka dalam rangka penyesuain diri terhadap
lingkungannya. Apabila kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak terpenuhi
maka akan menimbulkan masalah dalam kehidupan remaja.
Secara umum kebutuhan-kebutuhan tersebut ada 3 (tiga) yaitu:
1. Kebutuhan biologis, sehingga manusia disebut juga makhluk
biologis
2. Kebutuhan psikologi dan manusia disebut juga makhluk psikologi
3. Kebutuhan sosial sehingga manusia juga disebut makhluk sosial. 14
Materi yang dipersiapkan hendaknya membawa remaja mencintai
Islam, sehingga mereka berperilaku muslim yang berwawasan Qur'ani,
sehingga mareka tahu persis bahwa Islam itu tinggi dan tidak ada yang
menandinginya. Penyusunan materi yang sesuai dengan masa yang
dihadapi akan memudahkan penyerahan bagi mad'u. Namun sebaliknya
apabila materi yang disusun kurang mengena pada diri remaja, akan
mengurangi simpati dari pihaknya.
Beberapa kriteria di atas memiliki peranan antara yang satu
dengan yang lainnya saling tunjang dan saling berhubungan. Materi
yang dipersiapkan harus selalu berhubungan dengan kebutuhan remaja,
14 H. Asep Muhiddin, Dakwah dalam Perspektif Alquran, Studi Kritis Atas Visi, Misi dan
Wawasan (Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 2002), h. 100.
146
karena remaja mudah menerima suatu pengaruh bila yang
mempengaruhinya sesuai dengan kebutuhannya serta menunjang
terhadap kehidupan remaja itu sendiri. Karena itu pengaruh agama
harus lebih dahulu masuk pada diri remaja dan menyentuh hati mereka,
sehingga materi itu merupakan santapan yang enak dan menarik
perhatian.
Berdasarkan dakwah Rasulullah Saw, yang pertama kali
dijadikan materi dakwah adalah masalah akidah/keimanan. Karena
dengan iman yang kukuh akan lahir keteguhan dan pengorbanan yang
akan selalu menyertai setiap langkah dakwah. Akidah/keimanan inilah
mengikat kalbu dan menguasai batinnya, serta membentuk moral
(akhlak) manusia.15 Disamping itu ajaran akhlak adalah yang tidak
habis-habisnya melingkupi kehidupan manusia di segala zaman dan
tempat. Islam memberikan ajaran yang cukup luas, mulai dari akhlak
perorangan, bermasyarakat, bernegara dan bergaul dengan siapa saja.
Kedatangan Rasul Muhammad Saw adalah selain sebagai rahmat li alalamin
juga li utammima makarima al-akhlaq. Dunia modern perlu
banyak belajar dari akhlak ajaran Islam ini. Oleh sebab itu sebagai
sumber ajaran, maka akhlak Islam tidak akan kehabisan materi.
15 Ali Yafie, "Dakwah dalam Al-Qur'an dan al-Sunnah ", Makalah, (pada seminar di
Jakarta, 1992), h. 10.
147
Untuk memberikan background yang cukup luas bagi para da'i
kiranya perlu ditanamkan mengenai materi dakwah, baik yang
menyangkut fikih, tauhid, akhlak maupun tarikh harus lah dapat
dipusatkan pada pokok ajaran Islam, yakni dari sumbernya yang asli
yaitu Kitab Allah al-Qur'an al-Karim dan sunnah al-Rasul.16
Tuntutan zaman yang mendominasi remaja sangat dominan. Oleh
karenanya, materi yang disusun juga harus merupakan jawaban zaman.
Materi yang dipersiapkan hendaknya mudah dicerna, remaja
mempunyai bahasa sendiri dalam bahasa sehari-hari, bahkan
kadangkala punya ambisi menggunakan bahasa populer walaupun
mereka sendiri kurang memahami cara penjabarannya baik pada remaja
yang masih sekolah maupun yang putus sekolah.
Materi harus pula disesuaikan dengan tingkat pendidikan yang
menjadi sasaran dakwah. Dengan mengetahui tingkat pendidikan mad'u
da'i akan dapat memperkirakan sampai di mana kemampuan daya
tangkapnya. Pendengar yang buta huruf, tamatan SD akan sulit
mengerti tentang materi yang ilmiah dan pemakaian bahasapun tidak
tepat dengan memakai istilah-istilah asing.17
16 M. Syafa'at Habib, Buku Pedoman Dakwah (Cet. I; Jakarta: Widjaya, 1982), h. 98-99.
17 Alwistal Imam Zaidallah, Strategi Dakwah dalam Membentuk Da'i dan Khatib
Profesional (Cet. I; Jakarta: Kalam Mulia, 2002), h. 79.
148
Materi yang diperlukan untuk suatu kelompok remaja belum
tentu cocok untuk kelompok remaja yang berbeda. Untuk itu pemilihan
materi haruslah tepat, apakah itu untuk remaja pelajar (siswa dan
mahasiswa), apakah itu remaja yang berlatarbelakang ekonomi lemah,
juga apakah pendengar itu heterogen, artinya berbagai tingkat dan mutu
pengetahuannya ataukah sejenis. Dengan beraneka latar belakang
kehidupan remaja, akan lebih memacu seorang da'i untuk memiliki
keterampilan menyusun materi dakwah.
Terdapat berbagai kenyataan yang dilakukan oleh para mubalig.
Ternyata materi dakwah selalu hanya bersifat pengulangan terhadap apa
yang telah dikemukakan terdahulu. Pengembangan materi terasa sangat
sulit dilakukan oleh sebagian para subyek dakwah. Padahal remaja pada
khususnya, masyarakat pada umumnya, menyenangi hal-hal yang baru
dan cepat bosan bagi hal yang telah atau sering dide ngarnya. Karena itu
da'i harus berusaha memberikan suatu hal yang baru dalam materi
dakwahnya walaupun bersifat pemantapan. Jalaluddin Rahman
berpendapat, materi boleh tetap, tetapi informasi yang termuat
hendaknya ada pengayaan.18
18 Lihat, Jalaluddin Rahman, "Dakwah dan Tantangannya dalam Kemajuan Sains dan
Teknologi pada Masa Kini dan Esok", Makalah, disampaikan pada Seminar Sehari oleh HMJ PPAI
Fakultas Dakwah IAIN Alauddin Makassar, tanggal 24 November 1994.
149
Pengertian agama tidak hanya dipandang dari segi ukhrawi saja,
tetapi menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia itu benar -benar
diresapi oleh kaum remaja, misalnya eksistensi dan kontinuitas agama.
Karena pentingnya posisi dan fungsi agama dalam kehidupan
masyarakat dalam berbangsa dan bernegara, maka agama perlu dijamin
eksistensinya dan kontinuitasnya. Tentunya hal ini dapat ditempuh
melalui pendidikan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran
agama.
Agar eksistensi dan kontinuitas agama dapat dijamin, maka
agama perlu dikaji sejarahnya, isi ajarannya, tokoh-tokohnya. Sebagai
konsekuensi dari hal tersebut, agama harus dijaga dan dikembangkan
oleh mubalig/da'i, demikian pula oleh umatnya sendiri. Masalah lain
yang perlu diperhatikan adalah masalah agama yang menyangkut aspek
politik dan sosial budaya untuk eksistensi dan pengembangan agama,
perlu dijaga agar pelaksanaan dakwah islamiyah serasi dengan kondisi
politik dari suatu negara atau paling sedikit tidak bertentangan dengan
kebijaksanaan-kebijaksanaan yang diambil oleh pemerintah. Setelah
dipastikan tidak bertentangan dengan agama hendaknya dijadikan
materi dalam pelaksanaan dakwah. Hal ini sejalan dengan
perkembangan masyarakat dewasa ini, apalagi remaja yang merupakan
harapan bangsa dan negara serta harapan agama.
150
C. Metode Dakwah dalam Mengatasi Problematika Remaja
Bagaimana dakwah Islam sekarang ini dalam kenyataan yang
terjadi di tengah-tengah masyarakat ? Tidak dapat disangkal bahwa
dakwah tetap berjalan seperti biasa dan tetap dilakukan oleh banyak
orang. Hal ini tidak lepas dari keberhasilan lembaga-lembaga
pendidikan agama (pesantren dan perguruan tinggi) dalam mencetak
kader-kader dakwah. Hal ini merupakan suatu modal atau aset yang
perlu dipelihara baik.
Apabila kita memperhatikan Alquran dan al-sunnah, maka
sesungguhnya kita akan mengetahui bahwa dakwah menduduki tempat
dan posisi utama, sentral, strategis, dan menentukan. Kemudahan dan
kesesuaian Islam dengan perkembangan zaman, baik dalam sejarah
maupun prakteknya sangat ditentukan oleh kegiatan dakwah yan g
dilakukan umatnya. Materi dakwah maupun metode yang tidak tepat
sering memberikan gambaran (image) dan persepsi yang keliru tentang
Islam. Begitupula kesalahpahaman makna dakwah, menyebabkan
kesalahlangkahan dalam operasional dakwah sehingga dakwah serin g
tidak membawa perubahan apa-apa. Padahal tujuan dakwah adalah
untuk mengubah masyarakat sasaran dakwah ke arah kehidupan yang
lebih baik dan sejahtera, baik secara lahiriah maupun batiniah. 19
19 Adi Sasono et.al, Solusi Islam Atas problematika Umat (Pendidikan, ekonomi, dan
Dakwah) (Cet. I; Jakarta: Gema Insani, 1998), h. 175.
151
Sebagai upaya dalam memberikan solusi Islam terhadap berbagai
problem kehidupan remaja, dakwah dijelaskan dengan definisi yang
dikemukakan oleh Syekh al-Baby al-Khuli bahwa upaya memindahkan
situasi manusia kepada situasi yang lebih baik. 20 Pemindahan situasi ini
mengandung makna yang sangat luas, mencakup seluruh asp ek
kehidupan manusia, pemindahan dari situasi kebodohan kepada situasi
keilmuan, dari situasi kemiskinan kepada situasi kehidupan yang layak,
dari situasi keterbelakangan ke situasi kemajuan.
Sejalan dengan definisi yang dikemukakan oleh Syekh al -Baby
al-Khuli, maka metode atau cara yang dilakukan dalam mengajak
haruslah sesuai dengan materi dan tujuan kemana ajakan tersebut
ditujukan. Pemakaian metode yang benar adalah merupakan suatu
keberhasilan dari dakwah itu sendiri, sebaliknya pemakaian metode
yang keliru atau tidak tepat, maka akan mengakibatkan hal yang tidak
diharapkan.
Salah satu tugas da'i adalah menyusun paket-paket dakwah sesuai
dengan obyek sasaran dakwah serta problematika lahan yang
dihadapinya. Paket tersebut berdasarkan kualifikasi umur, status sosial,
keprofesian. Perivikasi itu penting, bukan hanya dari segi substansi
materi dakwah saja, tetapi meliputi juga penyampaian.21
20 Al-Baby al-Khuli, Tazkirah al-Da'wah (Mesir, al-Kitab, al-Arabi, 1952), h. 27.
21 Didin Hafiduddin, Dakwah Aktual (Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 1998), h. 73-74.
152
Yang dimaksudkan paket dakwah berdasarkan kualifikasi umur
dalam pembahasan ini adalah remaja yang kehidupan sehari-hari
diliputi berbagai problematika. untuk mengatasi problematika remaja
yang melingkupi kehidupannya, maka diperlukan suatu metode dakwah
untuk meminimalisir problematika tersebut, agar tidak terjadi
penyimpangan-penyimpangan yang akan merusak dirinya maupun
orang lain.
Untuk itu dakwah haruslah dikemas dengan cara dan metode
yang tepat dan pas. Dakwah harus tampil secara aktual, faktual, dan
kontekstual. Oleh sebab itu memilih cara atau metode yang tepat, agar
dakwah menjadi aktual, faktual, dan kontekstual, menjadi bagian
strategis dari kegiatan dakwah itu sendiri.
Berikut beberapa metode dakwah yang sesuai dengan kehidupan
remaja.
1. Metode Ceramah
Ceramah adalah suatu tehnik atau metode dakwah yang banyak
diwarnai oleh karakteristik bicara oleh seorang da'i/mubalig pada suatu
aktifitas dakwah.22 Dengan metode ini dimaksudkan bahwa keaktifan
berada dipihak penceramah, sedangkan jamaah pasif saja.23
22 Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam (Surabaya: al-Ikhlas, 1983), h. 104.
23 Sofyan S. Willis, Remaja dan Masalahnya, Mengupas Berbagai Bentuk Kenakalan
Remaja, Narkoba, Free Sex dan Pemecahannya (Cet. I; Bandung: Alfabeta, 2005), h. 33.
153
Metode ceramah ini masih sangat mendominasi di zaman
mutakhir ini baik di instansi pemerintah maupun swast a, organisasi
(jam'iyah) baik melalui televisi, radio, maupun ceramah langsung.
Metode inilah paling mudah terjangkau dan murah.
Ceramah/pidato ini sering juga disebut retorika dakwah sehingga
ada retorika dakwah, retorika sambutan, peresmian dan sebagain ya.
Dengan demikian retorika merupakan ilmu yang membicarakan tentang
cara-cara berbicara di depan massa (orang banyak) dengan tutur bicara
yang baik agar mampu mempengaruhi para pendengar untuk mengikuti
paham atau ajaran yang dipeluknya.
Arti retorika menurut Encyclopedia Britanica sebagaimana yang
dikutip oleh H. Datuk Tombak Alam ialah kesenian mempergunakan
bahasa untuk menghasilkan kesan yang diinginkan terhadap pendengar
dan pembaca.24 Oleh Aristoteles mengatakan bahwa ilmu kepandaian
berpidato atau tehnik dan seni berbicara di depan umum.25
24 H. Datuk Tombak Alam, Kunci Sukses Penerangan dan Dakwah (Cet. II; Jakarta: Rineka
Cipta, 1990), h. 36.
25 A. H. Hasanuddin, Retorika Dakwah dan Publisistik dalam Kepemimpinan (Surabaya:
Usaha Nasional, 1982), h. 11.
154
Di dalam Islam, retorika dinamakan fannul khithobah Rasul-rasul
adalah pembawa risalah dengan mempergunakan retorika untuk
menyebarluaskan akidah dan keimanan kepada umat-umatnya. Rasul
yang paling terkenal dalam mempergunakan retorikan ini adalah Nabi
Muhammad Saw, karena hanya dalam masa 23 tahun saja dapat
mengubah jazirah Arab menjadi negara aman makmur damai sentosa,
terjalin dengan ukhuwah Islamiyah dalam keridhaan Allah Swt.26 Oleh
karena itu antara metode ceramah dengan retorika tidak ada perbedaan
yang prinsipil namun hanyalah istilah belaka.
Ceramah pada umumnya merupakan suatu bentuk penyajian
materi dengan cara berpidato. Materi yang disajikan adalah materi yang
populer dan terjangkau oleh pendengarnya. Dakwah dengan
menggunakan metode ceramah sering mendatangkan kurangnya
perhatian bila ceramahnya tidak bervariasi. Demikian pula sebaliknya
bila ceramahnya terlalu bervariasi akan mengundang pembicaraan
menjadi ngawur.
Ceramah akan menarik perhatian pada remaja jika kata-kata yang
disampaikan menggairahkan dan membakar semangat sesuai dengan
26 H. Datuk Tombak Alam, op. cit., h. 37.
155
kesenangan pada remaja, misalnya remaja sebagaimana telah
digambarkan bahwa remaja senang menggunakan bahasa atau istilah -
istilah asing yang kadang-kadang remaja sendiri tidak mengerti dengan
bahasa tersebut. Dengan metode ceramah, seorang da'i memberikan
penjabaran kata-kata tersebut sehingga mudah dimengerti oleh remaja.
Di samping itu ungkapan-ungkapan ceramah perlu diselingi dengan
contoh-contoh yang sifatnya keteladanan, perjuangan, kesederhanaan
pandangan dan pemikiran yang luas, kepemimpinan dan sifat-sifat
kemanusiaan yang baik yang dapat membawa remaja kepada pemikiran
yang jauh ke depan, dan semangat untuk dipersiapkan sebagai
pemimpin dirinya dan masyarakatnya. Gairah menumbuhkan pada
dirinya semangat kepemimpinan pada masa yang akan datang adalah
merupakan gambaran bahwa metode ceramah dapat diterima dalam
pelaksanaan dakwah. Mengingat sifat-sifat remaja mempunyai
kecenderungan untuk meniru, mencari idola, dan semangatnya
menggebu-gebu sehingga sifat-sifat keteladanan, perjuangan,
kesederhanaan, kepemimpinan sebagaimana yang dicontohkan dapat
ditiru, dan dijadikan sebagai idola remaja.
156
Metode ceramah dipergunakan sebagai metode dakwah akan
efektif dan tepat apabila : 1) Obyek atau sasaran dakwah berjumlah
banyak. 2) Penceramah (mubalig) orang yang ahli berceramah atau
berwibawa. 3) Sebagai syarat atau rukun suatu ibadah, seperti khutbah
Jum'at, hari raya. 4) Tidak ada metode lain yang dianggap paling sesuai
dipergunakan seperti dalam walimatul ursy, tidak ada metode yang
cocok selain metode ceramah.27
Selain itu metode ceramah yang banyak digunakan oleh mubalig
adalah model induksi artinya si mubalig memulai segala uraiannya
dengan mengemukakan satu atau beberapa ayat atau hadis. Ayat dan
hadis inilah yang diuraikan secara panjang lebar sehingga terkadang
terasakan materi yang dikemukakannya bersifat normatif, jauh dari
kenyataan.
Khusus menghadapi remaja dalam rangka mengatasi
problematika remaja, saatnya pemberian dakwah diperbanyak dengan
model deduksi. Artinya si mubalig mencoba melihat berbagai
kenyataan-kenyataan yang terjadi di masyarakat. Berbagai kasus atau
masalah-masalah remaja yang diungkapkan secara memadai. Setelah
27 Asmuni Syukir, op. cit., h. 105-106 .
157
segalanya jelas barulah di kemukakan ayat atau hadis yang sejalan,
sesuai dengan persoalan yang dikemukakan itu. Akibatnya dakwah
yang demikian ini terasa berakar dan membumi alias sesuai dengan
kenyataan. Bentuk dakwah yang demikian ini nantinya boleh jadi
sangat sesuai dengan kondisi remaja yang sudah sangat kritis dan
rasional. Agama dirasakan kehadirannya di tengah-tengah kehidupan
remaja, bukan hanya dibenak para ulama dan mubalig. Remaja akan
merasakan bahwa dirinya sudah melaksanakan ajaran agama karena
sempat terakomodasi oleh uraian yang dikemukakan.
Memahami penggunaan metode ceramah dalam dakwah, perlu
juga dipahami bahwa metode tersebut di samping mempunyai
kelebihan juga mempunyai kekurangan.
1) Keistimewaan/kelebihan metode ceramah adalah :
a. Dalam waktu relatif singkat dapat disampaikan bahan (materi)
sebanyak mungkin.
b. Memungkinkan mubalig/da'i menggunakan pengalamannya,
keistimewaannya dan kebijaksanaannya sehingga audiens (obyek
dakwah) mudah tertarik dan menerima ajarannya.
c. Mubalig/da'i lebih mudah menguasai seluruh audiens.
158
d. Bila diberikan dengan baik, dapat menstimulan audiens untuk
mempelajari materi/isi kandungan yang telah diceramahkan.
e. Biasanya dapat meningkatkan derajat atau status dan polularitas
da'i/mubalig.
f. Metode ceramah ini lebih fleksibel, artinya mudah disesuaikan
dengan situasi dan kondisi serta waktu yang tersedia, jika waktu
terbatas (sedikit) bahan dapat dipersingkat (diambil yang pokok -
pokok saja) dan sebaliknya jika waktunya memungkinkan
(banyak) dapat disampaikan bahan yang sebanyak-banyaknya
dan mendalam.28
2) Kelemahan/kekurangan metode ceramah adalah :
a. Da'i atau mubalig sukar untuk mengetahui pemahaman audiens
terhadap bahan-bahan yang disampaikan.
b. Metode ceramah adalah bersifat komunikasi satu arah saja (one
way communication channel) maksudnya yang aktif hanyalah
sang mubalig/da'inya saja, sedangkan audiennya pasif belaka
(tidak paham, tidak setuju tak ada waktu untuk
bertanya/menggugatnya).
28 Ibid., h. 106-107.
159
c. Sukar menjajaki pola berfikir pendengar (audien) dan pusat
perhatiannya.
d. Penceramah (da'i/mubalig) cenderung bersifat otoriter.
e. Apabila penceramah tidak memperhatikan psikologis (audien)
dan tehnik edukatif maupun tehnis dakwah, ceramah dapat
berlantur-lantur dan membosankan. Sebaliknya penceramah atau
mubalig dapat terlalu berlebih-lebihan berusaha menarik
perhatian pendengar (audien) dengan jalan memberikan humor
sebanyak-banyaknya, sehingga inti dan isi ceramah menjadi
kabur dan dangkal.29
Dakwah dengan menggunakan metode ceramah materinya perlu
bervariasi yang dapat bermanfaat bagi kehidupan para remaja, agar
dikembangkan dan diteladani sesuai dengan taraf pemikiran dan
lingkungannya. Namun perlu diingat tentang keuntungan dan
kelemahan metode ceramah ini seperti yang telah diutarakan di atas
yang dapat dipahami bahwa metode ceramah sangat efektif bila da'i itu
benar-benar profesional dan seorang pembicara yang baik, dan dapat
memikat perhatian mustami' dan dapat ditangkap pembicaraannya
29 Ibid., h. 107-108.
160
dengan baik. Sedangkan kelemahannya atau kekurangannya ialah
pengertian yang dimiliki oleh audien (remaja) bersifat perbalis dan
tidak dapat diketahui secara pasti sampai dimana pemahaman jamaah
atas masalah yang telah dibicarakan. Untuk itu metode ceramah perlu
dilanjutkan dengan metode tanya jawab.
2. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah penyampaian materi dakwah dengan
cara mendorong sasarannya (obyek dakwah) untuk menyatakan sesuatu
masalah yang dirasa belum dimengerti dan mubalig/da'inya sebagai
penjawabnya.30 Penceramah melengkapi metode ceramah dengan tanya
jawab artinya sesudah memberi ceramah, lalu disediakan waktu untuk
tanya jawab dengan cara demikian berarti penceramah membuka
kesempatan untuk bertanya karena sifat remaja lebih senang bertanya,
dan umumnya remaja memiliki rasa ingin tahu tentang segala sesuatu
sangat tinggi bahkan mereka akan merasa sangat puas mengikuti
ceramah yang diselingi dengan tanya jawab.
Metode tanya jawab ini merupakan salah satu metode yang masih
relevan dan dapat membantu remaja dalam mengatasi problematika
30 Ibid., h. 123-124.
161
remaja ini disebabkan karena pembina dapat berkomunikasi langsung
dengan remaja sehingga dapat diperoleh gambaran mengenai problemproblem
yang dihadapi oleh remaja itu sendiri secara langsung.
Metode ini dimaksudkan untuk melayani remaja sesuai dengan
kebutuhannya. Sebab dengan bertanya berarti orang ingin mengerti dan
dapat mengamalkannya. Oleh karena itu jawaban pertanyaan sangat
diperlukan kejelasan dan pembahasan yang sedalam-dalamnya lagi pula
jawaban selalu sesuai dengan maksud pertanyaannya.
Namun demikian metode ini tidak dapat dijadikan ukuran
keberhasilan suatu dakwah kita, karena ini memungkinkan bagi remaja
tidak akan berterus-terang terhadap problem yang dihadapinya. Untuk
menghindari hal ini, maka da'i yang terlibat langsung dalam
memberikan bimbingan, dengan menggunakan metode ini, harus
memperhatikan tingkat kemampuan dan pengaruh kejiwaan remaja
yang dihadapinya agar pembinaan yang diberikan tidak sia -sia.
Asmuni Syukir, dalam bukunya Dasar-dasar Strategi Dakwah
mengungkapkan kelebihan dan kekurangan metode tanya jawab ini
antara lain : 1) Tanya jawab dapat dipentaskan, seperti di Radio,
Televisi dan sebagainya. 2) Dapat dipergunakan sebagai komunikasi
162
dua arah (interaksi antara da'i dengan sasarannya). 3) Bila tanya jawab
sebagai selingan ceramah, maka audien/forum dapat aktif (hidup). 4)
Timbulnya perbedaan pendapat terjawab atau didiskusikan di forum
tersebut. 5) Mendorong audien (objek dakwah) lebih aktif dan
bersungguh-sungguh memperhatikan. 6) Da'i dimungkinkan dapat
mengetahui dengan mudah tingkatan pengetahuan dan pengalaman
penanya. 7) Menaikkan gengsi da'i jika semua pertanyaan dapat
terjawab dengan baik.
Kekurangan/kelebihan tanya jawab antara lain : 1) Bila terjadi
perbedaan pendapat antara da'i dengan penanya (sasaran dakwah) akan
memakan waktu yang banyak untuk menyelesaikannya. 2) Bila jawaban
da'i kurang mengena pada sasaran pertanyaan (maksud pertanyaan)
penanya dapat menduga yang bukan-bukan (segi negatif) kepada da'i.
Misalnya : menduga bahwa da'i tidak pandai dan sebagainya. 3) Agak
sulit merangkum atau menyimpulkan isi pembicaraan.31
Dengan memperhatikan kelebihan dan kelemahan metode tanya
jawab di atas maka seorang da'i dianjurkan untuk memiliki bekal
dakwahnya mengenai tehnik bertanya jawab, agar metode yang
digunakan dapat berhasil dengan efektif dan efisien.
31 Ibid., h. 126-127.
163
3. Metode Diskusi
Metode berdakwah dengan jalan mendiskusikan materi-materi
dakwah (ajaran Islam) dengan para pendengar atau murid (remaja) kita.
Dengan jalan berdiskusi ini seorang penceramah mengajar para
muridnya untuk memikirkan bersama-sama masalah yang sedang
dihadapi secara terbuka dan demokratis.32
Untuk memantapkan pembinaan remaja, maka dapat
dilaksanakan suatu diskusi yang merupakan pertukaran pendapat secara
ilmiah dalam suatu forum formal dimana ada pimpinan. Ini diselingi
dengan tanggapan peserta yang didukung oleh argumentasi dan
penyampaiannya secara teratur. Pada pelaksanaan metode ini
diharapkan ada butir-butir yang dapat dijadikan masukan guna
penyelesaian suatu masalah peserta (remaja) dan pemimpin semuanya
aktif memberikan masukan yang terarah pada penyempurnaan topik
yang disajikan sehingga menghasilkan suatu topik yang sempurna.
Metode ini membantu terhadap pemahaman individual. Berarti daya
kritis kreatif tersalur dengan wajar.
32 Sofyan S. Willis, op. cit., h. 33-34.
164
Adapun hikmah (keuntungan) yang dapat diambil (diperoleh)
dalam diskusi adalah 1) Peserta mendapat kesempatan untuk
mengembangkan beberapa sifat kepribadian seperti kritis, tekun,
demokratis, sabar, jujur, teliti, dan berpandangan terbuka. 2) Suasana
menjadi hidup, karena diharapkan aktif berpartisipasi. 3) Peserta
memiliki kebiasaan mengemukakan pendapat secara teratur dan baik. 4)
Kesimpulan dan pengertian yang diperoleh cukup jelas.
Pelaksanaan metode dakwah dalam bentuk diskusi adalah
merupakan usaha peningkatan pendalaman agama bagi remaja,
sehingga masalah agama ini tidak lagi menjadi milik pribadi yang h arus
dilakukan secara perorangan. Akan tetapi milik bersama dan persoalan
bersama untuk didiskusikannya secara bersama. Melalui metode ini
diharapkan para remaja merasa memiliki yang nantinya timbul suatu
hasrat untuk berbuat menurut ajaran agama serta menyampaikan kepada
yang lain. Dakwah dalam bentuk diskusi ini dapat disajikan pada
tingkatan remaja yang menduduki bangku sekolah, akan tetapi tidak
menutup kemungkinan bagi remaja yang putus sekolah yang memang
sering mengikuti kegiatan di masyarakat.
165
4. Dakwah dengan Uswatun Hasanah/Percontohan/Keteladanan
Dakwah dengan melalui uswatun hasanah adalah termasuk
efektif bila dilakukan dikalangan remaja walaupun tanpa bicara, sebab
sikap dan perbuatan itu sendiri sudah lebih dari bicara, metode ini
sejalan dengan ciri kehidupan remaja antara lain cenderung untuk
meniru, cenderung untuk mencari idola, biasanya hal-hal yang menjadi
kesukaannya untuk ditiru adalah model pakaian dan perilaku-perilaku
yang ditampilkan oleh tokoh-tokoh yang pantas dijadikan sebagai
idolanya.
Oleh karena itu sebagai seorang da'i harus menampilkan
perilaku-perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam kepada remaja yang
ada di sekitar kita, orang tua memberi teladan kepada keluarga, guru
kepada murid, kepala kantor kepada bawahan, pimpinan kepada anak
buah. Tepat kata kaidah yang mengatakan:
دلالة الحال افصح من دلالة المقال
Terjemahnya:
"Bukti sikap dan perbuatan lebih baik dari ucapan"33
33 K. H. Syamsuri Siddiq, Da'wah dan Teknik Berkhutbah (Cet. VI; Bandung: Percetakan
Offset, 1993), h. 22.
166
Ungkapan sahabat Rasulullah, Ali ra. sebagaimana yang dikutip
oleh K.H. Syamsuri Shiddiq menyatakan: "Lihatlah apa yang diucapkan
jangan melihat siapa yang mengucapkan".34 Ungkapan ini mengandung
kebenaran sebab tidak jarang ucapan yang lahir dari orang yang tidak
tergolong penting pun sering mengandung mutiara kebenaran. Namun
tidak secara keseluruhan mengandung kebenaran karena umumnya
apalagi remaja tidak hanya mendengar tetapi harus didukung oleh bukti
(kenyataan) dengan perbuatan. Dan perbuatan inilah yang sangat
membawa pengaruh dalam kehidupannya. Dan inilah yang dicontohkan
oleh Rasulullah Saw yang lazim disebut uswatun hasanah.
Dari uraian diatas dapatlah dipahami bahwa dengan metode
uswatun hasanah akan terarah kepada satunya kata dengan perbuatan
artinya seorang da'i, tidak hanya sekedar mengandalkan ucapan dengan
teorinya yang memukau oleh audience tapi harus diikuti dengan
perbuatan. Sungguh cukup keras peringatan Tuhan dalam firman-Nya:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَ تَقُولُونَ م ا ل ا تَفْعَل ون ( ۲) كَب رَ مَقْت ا عِن دَ الل هِ أَنْ تَقُول وا م ا ل ا
( تَفْعَلُونَ ( ۳
34 Ibid.
167
Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa
yang kamu tidak perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah Swt
bahwa kamu mangatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.35
(Q.S: 61: 2-3)
5. Home Visit (kunjungan kerumah)
Diantara beberapa metode yang dapat digunakan dalam
menyampaikan dakwah selain dari yang bersifat pembahasan dan
ilmiah, diperlukan adanya pendekatan yang lebih pribadi yang
berdampak sosial, metode ini dirasa efektif untuk dilaksanakan dalam
rangka mengembangkan dan membina umat Islam khususnya remaja
Islam. Metode ini disebut juga metode silaturrahmi.
Pendekatan ini akan lebih menimbulkan kesan keakraban dan
persaudaraan serta lebih mengenal pribadi masing-masing sehingga
dapat menyelesaikan permasalahan yang menyangkut pribadi atau
masalah personal. Dalam kunjungan ini dapat diadakan dialog -dialog
baik dengan bersangkutan maupun keluarganya. Cara yang seperti ini
akan menambah keakraban dan terjalin rasa kekeluargaan sehingga
apabila telah tersentuh dengan permasalahan agama apalagi yang
35 Departemen Agama, op. cit., h. 928.
168
menyangkut akidah, pada diri remaja akan benar-benar tertanam
persaudaraan antara sesama mukmin.
Bila ditelaah metode ini memiliki kelebihan, diantaranya: selain
melaksanakan aktifitas dakwah, metode ini pada hahekatnya
mengandalkan silaturrahmi (menyambung tali persaudaraan).
Sedangkan silaturrahmi adalah merupakan kewajiban kita, sabda
Rasulullah Saw:
من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليصل رحمه 36
Terjemahnya:
Barang siapa yang beriman kepada Allah Swt dan hari akhir maka
sambunglah tali persaudaraan (silaturrahmi)
Metode ini dapat dilaksanakan dengan cara yaitu: 1) Atas
undangan tuan rumah, dan 2) Atas kehendak dai sendiri. Dengan
menghadirkan remaja dalam dialog tersebut.
Dari semua metode yang telah dipaparkan diatas maka harus
diwarnai atau dijiwai oleh tiga karakter yang disebut dalam Q. S Al-
Nahl :125. yaitu 1). Bil hikmah, 2). Mau'idzah al hasanah, 3).
Mujadalah.
36 Abi Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardzbah al-
Bukhary al-Ja’afy, Shahih al-Bukhary, Juz II (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1412 H / 1992 M), h.
160
169
Pembahasan mengenai kehidupan remaja telah menjadi titik
sentral perhatian yang sangat penting dalam perjalanan kehidupan
manusia. Sedangkan, problematika dan penyimpangan yang mere ka
lakukan merupakan masalah besar yang terpampang di hadapan kita
saat ini. Remaja merupakan objek penelitian yang telah menyedot
perhatian para pakar yang memiliki kepedulian terhadap masa depan
remaja. Para pakar pendidikan, kaum intelektual, pemikir, ulama, dan
dai telah mencurahkan tenaga, pikiran, dan perhatiannya untuk mencari,
mempelajari, dan meneliti, apa gerangan yang menyebabkan generasi
muda/remaja bisa melakukan penyimpangan sehingga sangatlah wajar
apabila kita berusaha mencari solusi untuk menyelesaikan
permasalahan ini.
Bertitik tolak dari problem yang sering menyebabkan terjadinya
penyimpangan, maka upaya menanggulangi penyimpanganpenyimpangan
yang dilakukan oleh remaja (kenakalan remaja) tidak
bisa dilaksanakan hanya dengan tenaga ahli saja seperti psikologi,
konselor, dan pendidik melainkan perlu kerja sama semua pihak antara
lain guru, orang tua, pemerintah dan masyarakat, serta tenaga ahli
lainnya dan remaja itu sendiri. Kerja sama itupun perlu didukung oleh
dana dan sarana yang memadai. Persoalan penyimpanganpenyimpangan
yang dilakukan oleh remaja tidak dapat diselesaikan
170
hanya dengan melalui ceramah dan pidato, akan tetapi perlu dengan
perbuatan yang nyata (action)37
Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengatasi
problematika remaja adalah sebagai berikut:
a. Upaya preventif
b. Upaya kuratif
a. Upaya preventif
Upaya preventif adalah kegiatan yang dilakukan secara sistematis,
berencana, dan terarah untuk menjaga agar penyimpanganpenyimpangan
itu tidak timbul38
Sesungguhnya agama dapat memberi pengaruh pada pikiran,
perasaan, bahkan dalam kelakuan. Oleh karena itu, agama dapat
dihayati sehingga dapat memberikan pengaruh yang baik bagi
pembinaan moral, diantaranya dengan mengikuti ritual keagamaan,
mengikuti pelajaran agama, memahami hikmah dari ajaran-ajaran
agama tersebut.39
37 Sofyan S. Willis, op. cit., h. 128.
38 Ibid.
39 Abdul Aziz el-Qussy, Ilmu Jiwa Prinsip-Prinsip dan Implementasinya dalam
Pendidikan, Jilid III (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), h. 375-376.
171
Solusi agama atau upaya-upaya preventif dapat dilakukan dengan
tiga bagian:
1. Di rumah tangga (keluarga)
a. Pendidikan agama dalam keluarga.40
Orang tua dapat menciptakan suasana rumah tangga atau
keluarga menjadi kehidupan yang taat dan takwa kepada Allah Swt di
dalam kegiatan sehari-hari. Hal ini dapat berhasil jika orang tua
memberikan pendidikan agama dalam keluarga, pimpinan dan teladan
setiap hari dan tingkah laku orang tua hendaklah merupakan manifestasi
dari didikan orang tua pada dirinya yang sudah mendarah daging. Jika
hal ini dilakukan maka anak-anak pun akan bertingkah laku seperti apa
yang dilakukan orang tua mereka, sehingga terciptalah rumah tangga
yang beragama.
b. Menciptakan kehidupan keluarga yang harmonis.
Rumah tangga yang berantakan dapat membawa pengaruh
psikologis bagi perkembangan mental dan pendidikan anak. Karena
dasar pribadi anak terutama dibentuk dalam lingkungan keluarga. Maka
kehilangan ibu atau ayah atau kedua-duanya karena meninggal dunia
atau bercerai dan lain-lain, menyebabkan anak kehilangan orang tua
40 H. M. Sattu Alang, Kesehatan Mental dan Terapi Islam (Cet. I; Makassar: PPIM, 2001),
h. 73.
172
atau orang dewasa, berarti kehilangan kasih sayang, kehilangan tenaga
pendidik atau pembimbing yang sangat dibutuhkan.
Islam sangat menekankan upaya pembinaan masyarakat yang
kuat, solid, dan memiliki kepedulian terhadap sesa ma. Islam juga
menghendaki terwujudnya kepedulian dan sikap tolong menolong
terhadap sesama di dalam lapisan masyarakat yang berbeda golongan,
jenis, dan bangsa.
Salah satu jalan yang dapat mewujudkan hal tersebut adalah
menguatkan interaksi antara remaja dan orang tuanya, yaitu dengan
memadukan seluruh kekuatan dan potensi yang ada. Islam
menghendaki terpeliharanya kondisi dan suasana yang melingkupi
kehidupan kedua belah pihak (antara remaja dan orang tua). Untuk itu,
Islam mewajibkan para orang tua agar menyayangi anak-anak.
Demikian pula sebaliknya, anak-anak pun harus menghormati orang
tuanya.41 Dalam suasana seperti ini, orang tua sebaiknya langsung
berdialog dengan anak tentang hal yang menjadi keluhannya.
c. Memberikan kasih sayang kepada anak secara wajar.
Sifat orang tua yang wajar bukanlah dalam bentuk materi
berlebihan, akan tetapi dalam bentuk hubungan psikologis dimana
41 Muhammad al-Zuhaili, al-Islam wa al-Syabab diterjemahkan oleh Akmal Burhanuddin,
dengan judul Menciptakan Remaja Dambaan Allah Panduan Bagi Orang tua Muslim (Cet. I;
Bandung: al-Bayan, 2004), h. 141.
173
orang tua dapat memahami perasaan anaknya dan mampu
mengantisipasinya dengan cara edukatif.42
Kehilangan kasih sayang menimbulkan kegelisahan, dan
kegelisahan yang akan menimbulkan tingkah laku negatif yang dapat
merusak diri anak dan lingkungannya. Jika anak tidak dididik dengan
penuh kasih sayang sejak kecil akan terasa dikala anak menjadi remaja.
Sebab remaja mulai ingin menemukan jalannya sendiri, egois dan
emosional serta penuh dengan kritikan.43 Jalan yang akan ditemukan
oleh anak remaja belum tentu yang baik, bahkan mungkin terjerumus ke
jurang kehinaan. Oleh karena itu, kasih sayang yang didukung dengan
keteladanan dari orang tua dalam melaksanakan akhlak al-karimah
berdasarkan keimanan pada Allah Swt maka insyaAllah akan mampu
membantu anak jika ia telah remaja atau dewasa.
d. Memberikan pengawasan secara wajar terhadap pergaulan anak
remaja di lingkungan masyarakat.
Hal-hal yang perlu diawasi ialah teman-teman bergaulnya, dan
ketaatan melakukan ibadah kepada Allah Swt. Mengenai teman bergaul
banyak hubungannya dengan berhasil tidaknya upaya orang tua
42 Sofyan S. Willis, op. cit., h. 130.
43 Ibid., h. 131.
174
mendidik anak sebab jika teman bergaul anak kita adalah orang yang
baik, maka upaya mendidik akan berhasil baik, sebaliknya jika teman
bergaulnya adalah anak-anak nakal, maka upaya kita mendidik anak
akan gagal karena pergaulan yang kurang sehat akan merusak upaya
pendidikan. Begitupula prinsip-prinsip mendidik karena ketaatan
beribadah dan kedisiplinan terhadap perintah dan larangan Tuhan
memerlukan proses pendidikan yang kontinyu, sistematis dan terarah,
serta sedini mungkin. Makin tinggi disiplin terhadap Tuhan, makin taat
ia beribadah kepada-Nya.
Oleh karena itu pengaruh lingkungan keluarga dalam
pengawasan remaja di lingkungan masyarakat merupakan dasar yang
fundamental bagi perkembangan dan pertumbuhan anak.
2. Upaya di sekolah
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa lingkungan sekolah
adalah salah satu lingkungan pendidikan formal yang secara terperinci
dan terencana melakukan pembinaan terhadap remaja. Pelajaran agama
perlu diintensifkan dan pengadaan guru agama yang ahli dan
berwibawa. Oleh karena itu dakwah Islam yang dilakukan di lembagalembaga
pendidikan harus membantu proses pencapaian tingkat
175
kesempurnaan. Gambaran tentang manusia sempurna ialah manusia
yang sudah mencapai ketinggian iman dan ilmu. Lebih dari 70 kali
dalam Alquran kata iman dikaitkan dengan amal saleh, dan ilmu juga
selalu diberi sifat yang bermanfaat. Pendidikan Islam harus diarahkan
untuk mengembangkan iman, sehingga melahirkan anak saleh dan ilmu
yang bermanfaat.44
Sebagai modal untuk mencapai tingkat kesempurnaan, Islam
menjadikan Rasulullah Saw sebagai uswatun hasanah. Atas dasar ini,
maka dakwah dalam pendidikan harus sanggup memperkenalkan
Muhammad Saw sebagai teladan, menanamkan kecintaan dan perasaan
takzim terhadapnya.
Mengintensifkan bagian bimbingan dan konseling di sekolah
dengan tugas utamanya adalah membuat program-program preventif
antara lain; 1) Konsultasi dengan orang tua siswa, terutama yang
cenderung bermasalah, bentuk konsultasi yang mungkin dilakukan
guru Bimbingan Konseling adalah bersifat individual dan kelompok.
Bentuk individual adalah dengan dengan mengundang orang tua ke
44 Jalaluddin Rakhmat, Islam Alternatif, Ceramah-Ceramah di Kampus (Cet. VII; Bandung:
Mizan, 1995), h. 115.
176
sekolah, atau mungkin pula guru Bimbingan Konseling dan
mengunjungi orang tua siswa setelah mengadakan perjanjian. Bentuk
kelompok adalah dengan mengundang kelompok orang tua atas
undangan guru Bimbingan Konseling yang disetujui oleh kepala
sekolah. Hal-hal yang menjadi pokok pembicaraan adalah penerapan
nilai-nilai positif di keluarga seperti nilai-nilai agama. Bagaimana orang
tua menjadi teladan dalam beribadah dan mendidik anak-anak agar
sesuai dengan tuntunan agama, 2) Konsultasi kepada para siswa secara
individual, isi konsultasi adalah bergantung dari kebutuhan siswa. 45
3. Upaya di masyarakat
Masyarakat adalah tempat pendidikan bagi remaja, setiap remaja
ingin merasa dirinya berguna dan berharga dalam masyarakat
lingkungannya, karena itu remaja hendaknya diikutaktifkan dalam
kegiatan-kegiatan sosial, sehingga ia tidak menjadi penonton, tapi
menjadi pelaku yang aktif dan diterima dalam masyarakat. Lembagalembaga
dan aktivitas-aktivitas keagamaan dapat memberi bantuan bagi
remaja.46 Mesjid bisa dijadikan sebagai pusat kegiatan remaja, di kota-
45 Sofyan S. Willis, op. cit., h. 135-136.
46 Zakiah Darajat, op. cit., h. 120.
177
kota besar saat ini sedang berkembang organisasi -organisasi remaja
Islam di mesjid-mesjid. Ini merupakan suatu kenyataan bahwa mesjid
dapat digunakan sebagai tempat kegiatan pembinaan remaja, kegiatan
dakwah dan pengembangan ilmu agama khususnya, dengan demikian
kita dapat memberi pembinaan moral remaja.47
b. Upaya kuratif
Yang dimaksud dengan upaya kuratif dalam menanggulangi
problematika remaja adalah upaya antisipasi terhadap gejala-gejala
penyimpangan pada diri remaja, agar tidak meluas dan merugikan
masyarakat.
Upaya ini dapat dilakukan dengan membuka pusat-pusat
bimbingan agama bagi remaja yang mengalami masalah dalam
kehidupan moral tersebut, sehingga pemahaman akan agama dapat
lebih mendalam selanjutnya diaplikasikan dalam kehidupan setahap
demi setahap.48
Upaya masyarakat untuk mengatasi suatu penyimpangan yang
dilakukan oleh remaja, sebaiknya dan harus ada kerjasama antara pihak
47 Sofyan S. Willis, op. cit., h. 139.
48 Zakiah Darajat, Membina Nilai-Nilai Moral di Indonesia (Cet. IV; Jakarta: Bulan
Bintang, 1977) h. 86.
178
pemerintah, ulama dan orang tua. Gunanya untuk mencapai suatu
tingkat kekompakan dalam menanggulangi masalah tersebut. Sebab jika
tidak ada kekompakan atau berbeda pendapat tentang suatu cara
mengatasi problematika remaja di lingkungannya, berarti tidak ada
penyelesaian, bahkan sebaliknya akan merajalela penyimpanganpenyimpangan
tersebut.
Tentu saja masalah pelacuran, perjudian dan minum-minuman
keras jika yang berwajib dan anggota masyarakat kompak, maka
persoalan tersebut akan terselesaikan. Di samping itu perlu ada
peraturan-peraturan yang tegas tentang pemberantasan kenakalan dan
kejahatan. Hal ini tentu saja tugas pemerintah dan DPR. Pemerintah
daerah dapat juga menetapkan peraturan khusus tentang suatu
kenakalan.49
Hal tersebut di atas sangat relevan dengan hadis nabi yang di
riwayatkan oleh Imam Muslim yang mengandung makna antara lain:
1. Jika yang berkuasa membasmi kejahatan itu maka dia akan
mencegah dengan kekuasaannya.
49 Sofyan S. Willis, op. cit., h. 141.
179
2. Jika tidak sanggup karena tidak berkuasa maka cegahlah dengan
lisan (ucapan, pidato, khutbah, ceramah, dan diskusi-diskusi)
3. Jika tidak sanggup juga, artinya kekuasaan tidak punya, begitupula
dengan lisan, maka cegahlah dengan hati, artinya jangan mentolerir
perbuatan jahat yang dilakukan orang lain dan jangan ikut.
Berdasarkan dari uraian-uraian di atas maka upaya-upaya dakwah
dalam tahapan strategis dengan tiga tahapan:
1) Tahapan ideologis; tahapan ini sebagai upaya dakwah dalam
membangun dan memantapkan pondasi kehidupan yang di atasnya akan
dibangun sebuah struktur masyarakat yang kuat. 2) Tahapan
konsepsional; dalam kaitan ini lebih merupakan pembangunan struktur
masyarakat di atas pondasi tersebut, sehingga menjadi sebuah
masyarakat yang dapat mentransformasikan nilai-nilai dan konsepkonsep
Islam yang berlandaskan tauhid ke seluruh dimensi kehidupan.
Tahapan ini merupakan upaya dakwah dalam memastikan konsepsikonsepsi
Islam sepenuhnya dapat diaplikasikan di tengah masyarakat.
3) Tahapan operasional; tahapan ini sebagai upaya mensosialisasikan
seluruh konsepsi Islam tersebut dalam alam kenyataan.50
50 Adi Sasono et. al., op. cit., h. 208-209.
180
Dari tiga tahapan strategis di atas adalah upaya menegakkan
tauhid. Hal ini diupayakan agar anak dan remaja itu memahami arti
agama dan manfaatnya untuk kehidupan manusia. Dengan jalan
demikian tumbuh keyakinan beragama terhadap remaja. Para ahli
dakwah memandang tahapan pembangunan pondasi (keyakinan
beragama atau tauhid) merupakan tahap paling penting dan menentukan
perjalanan dakwah. Rasulullah Saw dalam sejarah kenabian
memerlukan lebih dari 13 tahun dalam upaya membangun pondasi
keimanan. Kalau telah tumbuh keyakinan beragama terhadap remaja,
maka akan tumbuh pula kesadaran pada remaja akan pentingnya
peranan agama dalam kehidupannya. Dengan kata lain agama dapat
membentengi diri mereka dari berbagai bentuk penyimpangan seperti
mencuri, menodong, main perempuan, menipu, narkotika, dan lain-lain.
Di samping itu, dakwah harus dikendalikan dan dikoordinasi oleh
suatu organisasi, materi-materi dakwah pun diatur dalam suatu silabi
yang dapat dipedomani oleh setiap mubalig. Wilayah-wilayah yang
menjadi sasaran dakwah pun harus ditata dalam suatu peta dakwah.
Sehingga dakwah terlaksana tidak hanya sekedar asal omong, asal
ceramah, tanpa peduli materi apa yang harus didakwahkan dan di
181
tempat mana sebaiknya materi itu disampaikan agar dakwah benarbenar
menjadi efektif. Peta dakwah ini sangat penting, mengingat
kondisi remaja dari suatu wilayah berbeda dari wilayah lain, misalnya
remaja yang ada di desa berbeda dengan remaja yang ada di kota. Hal
semacam ini hanya mungkin dilakukan jika dakwah ditangani secara
kelembagaan.
Dakwah dalam penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi
harus dilakukan secara optimal, misalnya dakwah melalui siaran televisi
yang biasa dilakukan secara dialog antara pewawancara dan pembawa
acara. Dengan begitu dakwah akan lebih bervariasi dan komunikatif.
Upaya-upaya dakwah yang telah diupayakan di atas akan dapat
terlaksana secara memadai jika terjadi kerjasama antara semua pihak,
baik pemerintah, ulama, orang tua dan remaja itu sendiri.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Masa remaja adalah masa persiapan untuk menempuh masa dewasa.
Pada masa ini banyak kecenderungan (kondisi) yang dialami oleh
anak pada usia remaja yang disebabkan masih labilnya emosi
mereka di antaranya adalah kecenderungan untuk meniru, mencari
perhatian, mulai tertarik pada lawan jenis, mencari idola baru,
berpikir kritis, emosi sedang menggelora, dan sering terjadi
kegelisahan dalam hidupnya.
2. Problematika remaja, sebenarnya bukan masalah baru, dan bukan
masalah satu bangsa saja, tapi masalah yang dihadapi oleh setiap
manusia yang diberi oleh Tuhan umur sampai kepada sempat
melalui masa yang dinamakan remaja itu, karena ia menyangkut
keseluruhan aspek kehidupan dari setiap orang yang melalui usia
tersebut, mulai dari aspek jasmaniah, sampai kepada aspek rohaniah
(mental) dan sosial. Hanya saja segi-segi yang menonjol pada
seseorang pada suatu masa, bahkan suatu bangsa atau masyarakat
tertentu berbeda. Problematika remaja tersebut adalah pertumbuhan
182
183
fisik, ketidakstabilan emosi, perkembangan kecerdasan yang
mendekati kematangan, problem hari depan, problem sosial,
problem pendidikan, masalah akhlak, krisis identitas.
3. Dari berbagai problematika remaja yang telah digambarkan di atas,
menuntut para da'i untuk mencari kiat dan metode dakwah baik dari
segi materinya, yang harus sesuai dengan kebutuhan remaja, mudah
dicerna dan dijabarkan, tidak bersifat monoton, dan harus
merupakan problem solving terhadap kesulitan yang dihadapi
remaja, maupun dari segi metodenya yang harus disesuaikan dengan
kondisi remaja. Di antara metode-metode itu adalah metode ceramah
dengan penekanan pada model deduksi, metode tanya jawab, metode
diskusi, metode keteladanan / uswatun hasanah dan home visit
(kunjungan ke rumah).
4. Keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh da'i dengan ilmu
dakwahnya saja, tetapi juga harus ditunjang berbagai upaya-upaya
yaitu baiknya koordinasi yang dilakukan oleh da'i dengan lembaga -
lembaga terkait, termasuk dengan pemuka-pemuka masyarakat
(kerjasama yang baik antara pemerintah, orang tua, guru di sekolah
dan da'i), baik bersifat preventif maupun kuratif. Serta penggunaan
ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) secara optimal.
184
B. Saran-saran
Bentuk-bentuk metode dakwah yang telah diuraikan terdahulu
adalah bisa dijadikan sekedar bahan pegangan yang akan dilaksanakan
oleh para da'i pada event-event tertentu. Namun demikian tak berarti
tesis ini dapat menyajikan menu lengkap bagi da'i. Tentu saja para da'i
dapat mencari kiat sendiri yang disesuaikan dengan kondisi remaja
setempat. Meskipun secara umum remaja mempunyai karakter yang
hampir sama di mana-mana, tetapi kondisi tempat seringkali
membentuk karakteristik sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Abda, Slamet Muhaimin. Prinsip-Prinsip Metodologi Dakwah. Cet. I;
Surabaya: Al-Ikhlas, 1994.
Abidin, Djamalul. Komunikasi dan Bahasa Dakwah. Cet. I; Jakarta:
Gema Insani Press, 1996.
Afandi, Bisri. Beberapa Percikan Jalan Dakwah. Surabaya: Fakultas
Dakwah Surabaya, 1984.
Ahmad, Amrullah. Dakwah Islam dan Perubahan Sosial. Yogyakarta:
Primaduta, 1983.
Alam, H. Datuk Tombak. Kunci Sukses Penerangan dan Dakwa. Cet.
II; Jakarta: Rineka Cipta, 1990.
Alang, H. M. Sattu. Kesehatan Mental dan Terapi Islam. Cet. I;
Makassar, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat IAIN
Alauddin Makassar, 2001.
Ali, Muhammad dan Muhammad Asrori, Psikologi Remaja
Perkembangan Peserta Didik. Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara,
2004.
Aloliliweri, Komunikasi Antar Pribadi. Cet.II; Bandung: Citra Aditya
Bakti, 1997.
Al-Zuhaili, Muhammad. Menciptakan Remaja Dambaan Allah;
Panduan bagi Orangtua Muslim. Cet. I; Bandung: Mizan, 2004.
Amin, H. M. Mansyur. Dakwah Islam dan Pesan Moral. Cet. I;
Yogyakarta: al-Amin Press, 1997.
Amin, Muliati. “Problematika Remaja dalam Perspektif Dakwah”,
Jurnal Dakwah Tablig. Ed. 03; Makassar: Fakultas Dakwah
IAIN Alauddin Makassar, 2002.
Anshari, Endang Syaifuddin. Kuliah al-Islam; Pendidikan Agama
Islam di Perguruan Tinggi. Cet. III; Jakarta: Rajawali, 1980.
185
186
_______________. Wawasan Islam. Jakarta: Rajawali, 1996.
Anshary, M. Isha. Mujahid Dakwah. Cet. IV; Bandung: Diponegoro,
1991.
Anwar, H. Rosihan. Demi Dakwah, (Kuliah Umum Di Depan
Mahasiswa Universitas Al-Syafiiyah Jakarta, tanggal 3 Agustus.
1976). Cet. I: Bandung: Al-Ma'arif, 1976.
Arifin, Anwar. Strategi Komunikasi Sebuah Pengantar Ringkas. Cet.
III; Bandung: Armico, 1994.
Arifin, H.M. Pokok-pokok Pikiran Tentang Bimbingan dan
Penyuluhan Agama (Di Sekolah dan Di Luar Sekolah) . Cet. I;
Jakarta: Bulan Bintang, 1976.
___________. Psikologi Dakwah; Suatu Pengantar Studi. Cet. III;
Jakarta: Bumi Aksara, 1994.
___________. “Kenakalan Remaja dan Kegiatan Pelayanan Bimbingan
Conseling Berdasarkan Berbagai Sistem Pendekatan”. Modul 6
Bimbingan dan Conseling. Cet. III; Jakarta: Ditjen Bimbingan
Islam Depag, 1994.
Aziz, Moh. Ali. Ilmu Dakwah, Ed. I. Cet. I; Jakarta: Kencana, 2004.
Bachtiar, Wardi. Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah. Cet. I; Jakarta:
Logos Wacana Ilmu, 1997.
Baharuddin, Paradigma Psikologi Islami; Studi Tentang Elemen
Psikologi dari Al-Qur'an. Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2004.
Cangara, Hafied. Pengantar Ilmu Komunikasi. Cet. I; Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 1998.
Daradjat, Zakiah. Ilmu Jiwa Agama. Cet. XIII; Jakarta: Bulan Bintang,
1991.
_____________. Membina Nilai-Nilai Moral di Indonesia. Cet. IV;
Jakarta: Bulan Bintang, 1977.
187
_____________. Pembinaan Remaja. Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang,
1975.
Dariyo, Agoes. Psikologi Perkembangan Remaja. Cet. I; Bogor:
Ghalia Indonesia 2004.
Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahnya. Jakarta: Yayasan
Penafsir dan Penterjemah Alquran, 1995.
Departemen Pandidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Ed. 2. Cet. I; Jakarta: Balai Pustaka, 2001.
Effendi, Ilyas. Tripusat Pendidikan dan Peranannya Dalam
Penanggulangan Remaja, Tim Editor dari Remaja Untuk
Remaja, Buku II. SKM. Pas Makassar, 1992.
Effendy, E. Usman dan Juhaya S Praja, Pengantar Psikologi. Cet. III;
Bandung: Angkasa, 1984.
Effendy, Onong Uchyana. Ilmu Teori dan Falsafat Komunikasi. Cet.
II; Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000.
Fadullah, Muhammad Husain. Uslub ad-Dakwah fi al-Quran ,
Diterjemahkan oleh Tarmana Ahmad Qasim, dengan judul
Metodologi Dakwah Dalam Alquran Pegangan Bagi Aktifis . Cet.
I; Jakarta: Lentera, 1997.
Fatwa, Marsekah. Tafsir Dakwah. Surabaya: IAIN Sunan Ampel,
1978.
Garder, James G. Memahami Gejolak Masa Remaja. Cet. III; Jakarta:
Mitra Utama, 1990.
Getteng, Abd. Rahman. “Tantangan Pendidikan Islam dalam
Menghadapi Era Teknologi dan Globalisasi ”. Jurnal Pendidikan
Lentera. Ed. I; Ujung Pandang: Fakultas Tarbiyah IAIN
Alauddin Ujung Pandang, 1998.
____________. Pendidikan Islam Dalam Pembangunan Moral,
Remaja, dan Wanita. Ujung Pandang, Yayasan al-Ahkam, 1997.
188
Ghazali, M. Bahri. Dakwah Komunikatif Membangun Kerangka Dasar
Ilmu Komunikasi Dakwah. Cet. I; Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya,
1997.
Gunarsa, Singgih D. Psikologi Remaja. Cet. XIV; Jakarta: Gunung
Mulia, 2001.
Habib, M. Syafa'at. Buku Pedoman Dakwah. Cet. I; Jakarta: Widjaya,
1982.
Hafiduddin, Didin. Dakwah Aktual. Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press,
1998.
Haq, Hamka. Dialog Pemikiran Islam (Tradisionalisme, Rasionelisme
dan Empirisme Dalam Teologi, Fisafat dan Ushul Fiqh) . Ujung
Pandang: Yayasan Ahkam, 1995.
_____________. Pengembangan Lembaga dan Strategi Dakwah
(makalah) disampaikan pada seminar sehari regional tentang
dakwah diselenggarakan oleh Fakultas Dakwah IAIN Alauddin
Makassar, tanggal 21 Maret 1996.
Harahap, H. Syahrin. Islam dan Implementasi Pemberdayaan. Cet. I;
Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1999.
Hartati, Netty et. al, Islam dan Psikologi. Cet. I; Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2004.
Hasanuddin, A. H. Retorika Dakwah dan Publisistik dalam
Kepemimpinan. Surabaya: Usaha Nasional, 1982.
Hasanuddin, Hukum Dakwah Tinjauan Aspek Hukum Dalam
Berdakwah di Indonesia. Cet. I; Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya,
1996.
Hasyimi, A. Dustur Dakwah Menurut Alquran. Jakarta: Bulan Bintang,
1974.
Herlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan
Penting Kehidupan, Edisi V. Jakarta: Erlangga, 1991.
189
Jafar, Iftitah. Tafsir Ayat Dakwah; Pesan Metode dan Prinsip Dakwah
Inklusif. Makassar: Berkah Utami, 2001.
Jalaluddin, H. Psikologi Agama. Cet. VII; Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2003.
Karma, Fuad. Sensasi Remaja di Masa Puber, Dampak Negatif dan
Alternatif Penanggulangannya. Cet. III; Jakarta: Kalam Mulia,
2003.
Kartini Kartono, Patologi Sosial dan Kenakalan Remaja, Ed. 4. Cet.
IV; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002.
al-Khuli, Al-Baby. Tazkirah al-Da'wah. Mesir, al-Kitab, al-Arabi,
1952.
Lubis, Basrah. Pengantar Ilmu Dakwah. Semarang: Tursina, 1996.
Mahfuz, Syekh Ali. Hidayah Mursyidin Ila Turuqi al-Nash wa al-
Khatabah. Beirut: Dar al-Ma’arif, t.th.
Mahmud, Moh. Natsir. Bunga Rampai Epistemologi dan Metode Studi
Islam. Cet. I; Makassar: IAIN Alauddin Makassar, 1998.
Mappiare, Andi. Psikologi Remaja. Cet. I; Surabaya: Usaha Nasional
2004.
Menteri Pemuda dan Olah Raga, Harapan Pak Harto Kepada Generasi
Muda Indonesia. Jakarta, 1992.
Mubarak, Achmad. Psikologi Dakwah. Cet. I; Jakarta: Pustaka Firdaus,
1999.
Muhiddin, H. Asep. Dakwah dalam Perspektif Alquran, Studi Kritis
Atas Visi, Misi dan Wawasan. Cet. I; Bandung: Pustaka Setia,
2002.
Muis, A. Komunikasi Islami. Cet. I; Bandung: Remaja Rosdakarya,
2001.
190
Mulkhan, Abdul Munir. Ideologisasi Gerakan Dakwah; Episode
Kehidupan M. Natsir dan Azhar Basyir. Cet. I; Yogyakarta:
Sipress, 1996.
Nadeak, Wilson. Memahami Anak Remaja. Cet. I; Yogyakarta:
Kanisius, 1991.
Nasution, Harun. Falsafah dan Mistisisme dalam Islam. Cet. IX;
Jakarta: Bulan Bintang, 1995.
_____________. Islam Rasional; Gagasan dan Pemikiran. Cet. V;
Bandung: Mizan, 1998.
_____________. Teologi Islam Aliran-aliran, Sejarah Analisa
Perbandingan. Cet. V; Jakarta: Press, 1986.
Nata, Abuddin. Metodologi Studi Islam. Cet. IV; Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2000.
Natawijaya, Rahman. Memahami Tingkah Laku Sosial. Bandung:
Firma Hasmar, 1978.
Natsir, Muhammad. Fiqh al-Dakwah. Cet. XI; Jakarta; Ramadhan,
1991.
Nurudin, Sistem Komunikasi Indonesia. Cet. I; Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2004.
Omar, Toha Yahya. Ilmu Dakwah. Cet. V; Jakarta: Widjaya, 1992.
al-Qussy, Abdul Aziz. Ilmu Jiwa Prinsip-Prinsip dan Implementasinya
dalam Pendidikan, Jilid III. Jakarta: Bulan Bintang, 1976.
Qutub, Sayyid. Fi Zilal al-Qur’an, Juz XXX, Jilid X. Cet. II; t.t: t.tp.,
t.th.
Rahman, Jalaluddin. "Dakwah dan Tantangannya dalam Kemajuan
Sains dan Teknologi pada Masa Kini dan Esok", Makalah,
disampaikan pada Seminar Sehari oleh HMJ PPAI Fakultas
Dakwah IAIN Alauddin Makassar, tanggal 24 November 1994.
191
Rahmat, Jalaluddin. Psikologi Komunikasi. Cet. XI; Remaja
Rosdakarya, 2004.
Rahmat, Jalaluddin. Retorika Modern, Sebuah Kerangka Teori dan
Praktek Berpidato. Bandung: Akademika, 1982.
____________. Islam Alternatif, Ceramah-Ceramah di Kampus. Cet.
VII; Bandung: Mizan, 1995.
Republik Indonesia, Garis-garis Besar Haluan Negara, Tahun 1989.
Saleh, Abdul Rosyad. Manajemen Dakwah Islam. Cet. III; Jakarta:
Bulan Bintang, 1993.
Salim, Abdul Muin. Metodologi Tafsir; Sebuah Rekontruksi
Epitemologi Memantapkan Keberadaan Ilmu Tafsir Sebagai
Disiplin Ilmu. Orasi Pengukuhan Guru Besar Dihadapan Rapat
Senat Luar Biasa IAIN Alauddin Makassar Tanggal 28 April
1999.
Sarwono, Sarlito Wirawan. Psikologi Remaja, Edisi Revisi. Cet. VIII;
Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003.
Sasono, Adi et.al, Solusi Islam Atas problematika Umat (Pendidikan,
ekonomi, dan Dakwah). Cet. I; Jakarta: Gema Insani, 1998.
Al-Shabbagh, Muhammad. Min Sifat Al-Da'iyah, diterjemahkan oleh
A.M. Basalamah dengan Judul Kriteria Seorang dai. Cet. II;
Jakarta: Gema Insani Press, 1991.
Shaleh, Abdul Rahman, et. al. Psikologi; Suatu Pengantar dalam
Perspektif Islam. Cet. I; Jakarta: Prenada Media, 2004.
Al-Shiddieqy, M. Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid / Kalam .
Cet. V; Jakarta: Bulan Bintang, 1990.
Shiddiq, M. Arfah. “Pembangunan Dakwah dalam Perspektif
Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia”. Makalah, 1996.
192
Shihab, M. Quraish. Membumikan Alquran; Fungsi dan Peran Wahyu
Dalam Kehidupan Masyarakat. Cet. XIII; Bandung: Mizan,
1996.
Siddiq, Syamsuri. Dakwah dan Teknik Berkhutbah. Cet. VI; Bandung:
al-Ma’arif, 1993.
Soesilowindradini, Psikologi Perkembangan Masa Remaja. Surabaya:
Usaha Nasional, t.th.
Suneth, A. Wahab et. al. Problematika Dakwah dalam Era Indonesia
Baru. Cet. I; Jakarta: Bina Rena Pariwara, 2000.
Surakhmad, Winarno. Psikologi Pemuda, Sebuah Pengantar Dalam
Perkembangan Pribadi dan Interaksi Sosialnya. Cet. II;
Bandung: Jemmars, 1980.
Susanto, Astrid S. Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Bina
Cipta, 1974.
Syukir, Asmuni. Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam. Cet. I;
Surabaya: al-Ikhlas, 1983.
Tasmara, Toto H. Komunikasi Dakwah. Cet. II; Jakarta: Gaya Media
Pratama, 1997.
Willis, Sofyan S. Remaja dan Masalahnya, Mengupas Berbagai
Bentuk Kenakalan Remaja; Narkoba, Free Seks dan
Pemecahannya. Cet. I; Bandung Alfabeta, 2005.
Yafie, Ali. "Dakwah Dalam Al-Qur'an dan al-Sunnah ", Makalah. Pada
seminar di Jakarta, 1992.
Yakub. H. Hamzah. Publisistik Islam; Teknik Dakwah dan
Leadership. Cet. II; Bandung: Diponegoro, 1981.
Yusuf, Muhammad Khair Ramadhan. Min Khasa'is I'lam al-Islami,
diterjemahkan oleh Muhammad Abdul Hattar E.M, et.al. dengan
judul Peranan Media Informasi Islam Dalam Pengembangan
Umat. Cet. II; Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1996.
193
Zahrah, Abu. Al-Da'wah ila Al-Islam, diterjemahkan oleh H. Ahmad
Subandi dan Ahmad Supeno dengan judul Dakwah Islamiyah.
Cet. I; Bandung: Remaja Rosda Karya, 1994.
Zaidallah, Alwisral Imam, et. al. Strategi Dakwah dalam Membentuk
Da’i dan Khatib Profesional. Cet. I; Jakarta: Kalam Mulia,
2002.
Zaidan, Abdul Karim. Ushul al-Dakwah. Baghdad: Dar Umar al-
Khattab, 1975.
al-Zuhaili, Muhammad. al-Islam wa al-Syabab diterjemahkan oleh
Akmal Burhanuddin, dengan judul Menciptakan Remaja
Dambaan Allah Panduan Bagi Orangtua Muslim. Cet. I;
Bandung: al-Bayan, 2004.
Zulkifli, Psikologi Perkembangan. Cet. VI: Bandung: Rosdakarya,
1999.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar